Tim Simbang Gang One (Simone) yang tampil di karnaval Simbang Kulon Night Carnival (SKNC), Pekalongan, akhirnya menyesal setelah pertunjukan mereka yang mirip 'ritual satanik' jadi viral. Aksi itu disorot khalayak karena ditampilkan di acara peringatan Maulid Nabi.
"Kami perwakilan dari Tim Simone minta maaf. Kami menyesal, kami kurang literasi. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas penampilan kami di depan panggung," kata M Akhid dari Tim Simone saat ditemui wartawan, Senin (14/9/2026).
TIm SimOne usai dilakukan pemanggilan oleh Sekda Kabupaten Pekalongan, Senin Siang (14/09). Foto: Robby Bernardi/detikJateng |
Viral di Media Sosial
Aksi 'ritual setan' di acara Maulidan Nabi di Kecamatan Buaran, Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan, pada Kamis (10/9) malam itu jadi viral setelah cuplikan videonya beredar di media sosial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu akun instagram yang mengunggah cuplikan karnaval tersebut ialah @infobimantara. Dalam unggahan itu terlihat sejumlah orang mengenakan jubah putih berwajah tengkorak. Ada juga yang berkostum hitam dengan wajah seram.
Terlihat juga ada aksi di mana kambing dibawa ke peti mati yang mereka bawa. Kambing itu kemudian disembelih.
"KARNAVAL MAULID NABI KOK PENTASNYA RITUAL SATANIC ?
Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, digelar sebagai rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus khitanan massal ke-61.
Namun, ada satu adegan yang mencuri perhatian.
Dalam sebuah pertunjukan, terlihat kambing disembelih di atas sebuah altar yang dikelilingi lilin. Bagian bawahnya menampilkan pentagram terbalik, kepala kambing, lingkaran konsentris serta simbol yang menyerupai aksara Ibrani.
Sekilas, komposisi tersebut sangat mirip dengan Sigil of Baphomet, simbol yang lekat dengan ikonografi okultisme dan Satanisme modern.
Lantas, apa sebenarnya konsep pertunjukan tersebut?" tulis akun @infobimantara.
Panitia Mengaku Khilaf
Pihak Panitia Simbang Kulon Night Carnaval (SKNC) 2026 pun mengaku khilaf dan meminta maaf atas penampilan Tim Simone yang disebut mirip ritual satanik.
"Kami dari perwakilan panitia membenarkan adanya karnaval atau KSNC 2026 yang dilaksanakan Kamis malam, 10 September 2026. Terkait kejadian yang berlangsung, secara detail pihak panitia tidak mengetahui," ujar perwakilan Panitia SKNC, Ziyad Azizi, saat ditemui di Kelurahan Simbang Kulon, Senin (14/9/2026).
Ziyad menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari acara khitanan massal ke-61 yang diselenggarakan oleh Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Simbang Kulon.
Meniru dari YouTube
Menurut perwakilan Tim Simone, M Akhid, pihaknya tertarik melakukan pertunjukan itu karena dianggap unik. Dia mengaku tidak paham soal ritual satanik. Sementara itu tim mereka melatih koreografi selama sepekan sebelum pertunjukan.
"Idenya dari kami melihat kostum unik, kemudian kami sewa dan kami tiru. Kami menyewa dari Malang. Gerakannya kami latihan dengan teman-teman. Referensinya kami lihat dari YouTube, berbagai perform daerah Malang dan lain-lain," ujar dia.
"Kalau awalnya kami tidak tahu apa itu ritual satanik. Kami hanya melihat unik, kemudian kami sewa," sambungnya.
Kagetnya Plt Bupati di Lokasi
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan, Sukirman, turut hadir saat pagelaran SKNC. Ia mengaku kaget saat itu lantaran penonton tidak diberi tahu tentang konsep pertunjukan Tim Simone.
"Yang jelas, kegiatan itu kami hanya hadir sebagai kepala daerah. Bahkan, konsep dan seterusnya kan kita tidak diberi info sama sekali," kata Sukirman saat ditemui di kantornya, Senin (14/9/2026).
"Bahkan panitia, sepuh-sepuh, para kiai, dan seterusnya kan juga tidak diberitahu karena sifatnya adalah untuk surprise, kejutan, begitu. Tapi dari sisi lain, saya ngasih catatan itu," sambungnya.
Sukirman juga melihat aksi penyembelihan kambing di panggung itu. Namun, dia meluruskan isu yang menyatakan aksi sembelih kambing itu bagian dari ritual persembahan.
"Memang ada penyembelihan kambing yang sebenarnya setelah acara selesai mau disate bareng-bareng," ujar dia.
Sukirman juga memastikan penyembelihan kambing tersebut bukan untuk kegiatan lain di luar rangkaian acara.
"Nah, memang tema-tema horor itu kan memang digemari ya. Tidak hanya kemudian teatrikal seperti itu, tetapi film, apa, segala macam. Tetapi kalau sifatnya live seperti itu memang bisa menimbulkan multitafsir yang akhirnya seperti sekarang ini," ucap dia.
Saat ditanya seberapa horornya pertunjukan itu, Sukirman menyebut banyak anak-anak yang terkejut saat menyaksikan langsung.
"Ya memang itu akan membawa dampak psikis tentu saja. Anak-anak ini kan didampingi orang tua, ya banyak ekspresi-ekspresi yang terkejut begitu ya," ujar dia.
Sukirman melanjutkan, karnaval tersebut digelar dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW. Terdapat juga acara sunat massal.
MUI Singgung Dugaan Penistaan Agama
Dewan Pertimbangan MUI Jawa Tengah (Jateng), Ahmad Darodji, berkata penampilan yang ditampilkan tim Simone tidak pantas. MUI juga menyinggung dugaan penistaan agama.
"Kalau sampai ada kecaman itu berarti memang itu tidak pantas dilakukan," ucap Darodji dihubungi awak media.
Darodji menyebut acara semacam itu tidak pantas ditampilkan di publik dalam nuansa Mauild Nabi Muhammad SAW. Ia juga menduga adanya unsur kesengajaan untuk mencoreng acara Maulid Nabi.
"Apalagi itu dikaitkan Maulid Nabi sehingga mungkin maksudnya baik, tapi jadinya jadi contoh yang tidak baik atau bahkan jangan-jangan ada di situ sengaja supaya agar orang itu memandang Maulid Nabi suatu yang tidak perlu dilakukan mungkin begitu," ujar Darodji.
Darodji juga menyinggung adanya kemungkinan unsur penistaan agama dalam persoalan tersebut. Kendati demikian, ia berharap agar kejadian ini tidak sampai ke arah dugaan itu.
"Kalau sampai ada penistaan agama, itu tindak pidana itu. Mudah-mudahan tidak terjadi. Tetapi bisa jadi orang yang kemudian mengarah ke sana, 'ini penistaan', ini Nabi kok dicontohkannya begini. Itu bisa terjadi, mudah-mudahan tidak terjadi," kata Darodji.
Darodji juga menyebut penampilan semacam itu dapat menimbulkan perpecahan. Menurut dia, acara Maulid Nabi harus memberikan kesan yang baik bagi masyarakat.
"Jadi itu kan bisa orang mungkin timbul perpecahan, jangan-jangan maksudnya justru mau merendahkan Nabi dengan contoh yang disampaikan itu. Padahal kita kalau peringatan Nabi itu justru disampaikan beliau contoh yang terbaik. Jadi jangan justru terbalik, kesan orang jadi jelek, itu salah," ucap Darodji.
Menurut Darodji, perayaan Maulid Nabi dengan penampilan ala satanis tidak pernah diajarkan. Ia mencontohkan, semestinya Maulid Nabi diperingati dengan hal-hal yang baik seperti ceramah dan membaca selawat.
"Tidak pernah ya diajarkan kepada kita mengenai kelahiran seorang siapapun apalagi Nabi. Nabi contoh yang terbaik, diperingati dengan cara yang tidak wajar dan tidak pantas itu tidak benar gitu," urai Darodji.
"Umat di Indonesia ini memperingati Rasulullah itu dengan ceramah, dengan membaca selawat beliau, dan dijelaskan perilaku Rasulullah itu begini dan contohnya menjadi contoh kehidupan kita semuanya. Harusnya itu yang dilakukan," tuturnya.

