Peristiwa tanah bergerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, kian mengkhawatirkan. Sebanyak 5 rumah ikut terdampak, sehingga total ada 15 orang terdampak, 4 di antaranya sudah tak bisa ditempati.
Pantauan detikJateng di Kelurahan Jangli RT 07 RW 01, tampak rumah warga sudah porak poranda. Retakan di Jalan Jangli-Undip pun makin besar hingga motor tak bisa melintas.
Para warga juga sudah mendirikan pengungsian untuk korban di musala terdekat. Beberapa dari warga tampak memperbaiki halaman rumahnya yang retak dan mengevakuasi barang di dalam rumah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu warga, Slamet Riyadi (47) mengaku tengah tertidur saat tanah bergerak malam tadi. Saat terbangun dari tidurnya, rumahnya sudah porak poranda dengan retakan di setiap sudut.
"Tanah geraknya kan sudah lama, sebenarnya sudah ada 1 bulanan lebih. Tapi nggak seperti ini. Kalau dampaknya yang seperti ini hujan yang kemarin 2 malam itu. Terus tambah parah lagi malam tadi," kata Slamet kepada detikJateng di lokasi, Senin (9/2/2026).
Suasana rumah warga terdampak tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Senin (9/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
"Tadi malam itu rumah ini masih saya tempati. Terus ada 20 cm-an ternyata yang bergerak, bangun itu sudah porak poranda. Terus evakuasi barang tadi," jelasnya.
Tak hanya itu, kandang kambing dan ayamnya pun terdampak. Atap kandang sudah turun, sehingga mau tak mau ia berencana untuk menjual kambing-kambingnya itu.
"Kandangnya malah lebih parah. Kambingnya sekarang masih di kandang. Tapi besok rencananya ya mau dipindah, terus dijual. Saya juga mau mengungsi di masjid, soalnya kan risiko, anak-anak," terangnya.
"Pertama kan Rabu-Kamis itu sudah ada 10 rumah terdampak, satu roboh. Kalau ini tadi hujan semalam tambah lagi jadi 15 rumah, yang nggak bisa ditempati 4 rumah itu parah," ungkapnya.
Ia pun berharap pemerintah bisa lebih memerhatikan para warga terdampak dan bisa meninjau lokasi untuk mengetahui sendiri dampak akibat tanah gerak.
"Sebagai warga negara ya kita juga bukan warga liar, di sini juga punya KTP. Harapannya untuk pemerintah ya minta kebijaksanaannya, relokasi atau gimana. Kan kita was-was," harapnya.
Sementara warga lainnya, Kadar (58), masih tinggal di rumahnya meski dapur, kamar mandi, dan kandang ayam miliknya sudah roboh akibat tanah gerak. Ia mengaku tak bisa tidur setiap malam, takut tanah gerak kembali terjadi.
"Kejadian ini sudah 2 minggu, yang parah itu hari Kamis kemarin. Dari Kamis sampai hari ini sudah berkali-kali gesernya, nggak longsor tapi sepertinya tanah melorot, bergeser dikit-dikit," kata Kadar kepada detikJateng.
uasana rumah warga terdampak tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Senin (9/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Ia memperkirakan, dalam sehari bisa tanah bergerak bisa mencapai sekitar 500 meter. Bahkan akibat hujan semalaman, pagi ini pipa PDAM retak sekitar 1 meter dan mengganggu saluran air warga.
"Kalau punya saya ini samping rumah kena separuh yang buat masak sama buat mandi, septic tank-nya gelumpang, klosetnya juga jumpalik," ujarnya.
"Saya istilahnya pasrah saja, karena itu dari Allah, kita dikasih perhatian mungkin hidup kan ada cobaan. Tapi ya saya was-was, cuma punya rumah itu aja tok, nggak punya lain-lain," lanjutnya.
Setiap hujan turun, kata Kadar, ia mendengar gemuruh disertai sensasi seperti gempa yang menandakan adanya pergerakan tanah.
"Sudah terasa itu kayak gempa, terus gledak-gledak. Tadi aja itu mungkin 1 meteran yang bergeser dari jam 06.00 WIB. Was-was nanti kalau hujan lagi," tuturnya.
Hingga kini, kata dia, sudah ada bantuan berupa sembako bagi warga terdampak. Namun warga berharap ada bantuan untuk perbaikan dan relokasi.
"Saya rumahnya rumah kayu. Jadi kalau biaya ya paling butuh buat beli kayu, buat seng, mungkin sekitar Rp 10-20 juta," tuturnya.
(afn/alg)













































