Peristiwa tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, mengakibatkan 15 rumah terdampak, 4 di antaranya roboh. Warga pun membuat pengungsian di musala terdekat.
Pantauan detikJateng di Kelurahan Jangli RT 07 RW 01, tampak beberapa warga berkumpul di Musala Al Amin yang disulap jadi tempat pengungsian. Pengungsian hanya berupa musala yang pelatarannya diberi terpal oranye dan meja-kursi untuk warga.
Mereka menatap rumah dan jalanan yang sudah porak poranda. Retakan di Jalan Jangli-Undip pun makin besar hingga motor tak bisa melintas. Beberapa kali warga menyetop pengendara yang hendak melintas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagian warga juga terlihat memperbaiki halaman rumahnya yang retak. Sementara sebagian lainnya mengevakuasi barang di dalam rumah untuk dibawa ke rumah kerabat.
Salah satu warga, Agus Surono (35), mengatakan tanah gerak sudah terjadi sejak dua minggu lalu. Namun, baru viral sejak terjadi tanah gerak minggu ini.
"Terjadi sudah dari dua minggu lalu, tapi yang paling parah dari Kamis (5/2) malam kemarin. Kemudian setelah itu setiap hujan tanah selalu kembali bergerak," kata Agus kepada detikJateng di lokasi, Selasa (9/2/2026).
"Kemudian yang terakhir pagi ini pukul 06.00 WIB geser lagi. Biasanya geser tanahnya itu dini hari, tapi baru ini (geser) pagi dan paling parah, getarannya semalam lebih kencang," lanjutnya.
Menurutnya, Kamis (5/2) lalu tanah gerak hanya merobohkan satu rumah warga. Namun, kali ini tanah gerak membuat empat rumah benar-benar tak bisa ditempati.
"Makanya kita buat pengungsian dari pagi tadi. Warga nanti bisa tidur sini, terus beberapa itu mengevakuasi barangnya taruh di tempat saya, alhamdulillah masih bisa," jelasnya.
Ia menjelaskan, selama dua minggu ini pergerakan tanah terus terjadi. Bahkan, dalam sehari bisa terjadi beberapa kali pergerakan.
"Awalnya kayak gempa dulu, terus baru setelah gempa geser, mletak-mletak (retak), terus pas malam langsung turun. Jalannya itu tadinya masih bisa dilewati, sekarang sudah turun banget," jelasnya.
"Gesernya itu lama, cuma (rumah dan jalan) ambruknya setelah gerak, pas posisi gerak nggak ambruk. Biasanya 1-2 menit gerak. Pertama itu cuma bentuk serabut, terus di rumah Pak Supardi mulai kelihatan. Terus yang lain menyusul sampai akhirnya pada roboh," lanjutnya.
Suasana pengungsian warga terdampak tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Senin (9/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Ia mengatakan, masih ada beberapa warga yang tinggal di rumah karena bagian yang terdampak tanah gerak hanya dapur dan kamar mandi. Kendati demikian, warga terus merasa waswas hingga tak bisa tidur.
"Kebanyakan warga juga ini nganggur semua, karena kalau mau bekerja juga waswas, kepikiran terus sambil kerja. Takut rumahnya roboh," jelasnya.
Selain ke perekonomian warga, pergerakan tanah ini juga berdampak pada keseharian warga. Agus menyebut beberapa rumah mematikan arus listrik karena takut mengalami korsleting.
"Berdampaknya ke listrik, air, WiFi. Kabel WiFi tiap hari ada yang rusak, pipa air juga tiap hari ada yang rusak, airnya jadi mati, tiap hari tukang ke sini," tuturnya.
Salah satu warga, Slamet Riyadi (47), mengaku tengah tertidur saat tanah bergerak Minggu (8/2) malam tadi. Saat terbangun dari tidurnya, rumahnya sudah porak poranda dengan retakan di setiap sudut.
"Tanah geraknya kan sudah lama, sebenarnya sudah ada 1 bulanan lebih. Tapi nggak seperti ini. Kalau dampaknya yang seperti ini hujan yang kemarin 2 malam itu. Terus tambah parah lagi malam tadi," kata Slamet kepada detikJateng.
"Tadi malam itu rumah ini masih saya tempati. Terus ada 20 cm-an ternyata yang bergerak, bangun itu sudah porak poranda. Terus ngevakuasi barang tadi," jelasnya.
Tak hanya itu, kandang kambing dan ayamnya pun terdampak. Atap kandang sudah turun, sehingga mau tak mau ia berencana untuk menjual kambing-kambingnya itu.
"Kandangnya malah lebih parah. Kambingnya sekarang masih di kandang., tapi besok rencananya ya mau dipindah, terus dijual. Saya juga mau mengungsi di masjid, soalnya kan risiko anak-anak," terangnya.
"Pertama kan Rabu-Kamis itu sudah ada 10 rumah terdampak, satu roboh. Kalau ini tadi hujan semalam tambah lagi jadi 15 rumah, yang nggak bisa ditempati 4 rumah itu parah," ungkapnya.
Ia pun berharap pemerintah bisa lebih memerhatikan para warga terdampak dan bisa meninjau lokasi untuk mengetahui sendiri dampak akibat tanah gerak.
"Sebagai warga negara ya kita juga bukan warga liar, di sini juga punya KTP. Harapannya untuk pemerintah ya minta kebijaksanaannya, relokasi atau gimana. Kan kita waswas," harapnya.
Sementara warga lainnya, Kadar (58), masih tinggal di rumahnya meski dapur, kamar mandi, dan kandang ayam miliknya sudah roboh akibat tanah gerak. Ia mengaku tak bisa tidur setiap malam, takut tanah gerak kembali terjadi.
"Kejadian ini sudah 2 minggu, yang parah itu hari Kamis kemarin. Dari Kamis sampai hari ini sudah berkali-kali gesernya, nggak longsor tapi sepertinya tanah melorot, bergeser dikit-dikit," kata Kadar kepada detikJateng.
Ia memperkirakan, dalam sehari bisa tanah bergerak bisa mencapai sekitar 500 meter. Bahkan akibat hujan semalaman, pagi ini pipa PDAM retak sekitar 1 meter dan mengganggu saluran air warga.
"Kalau punya saya ini samping rumah kena separuh yang buat masak sama buat mandi, septic tank-nya gelumpang, klosetnya juga jumpalik," ujarnya.
"Saya istilahnya pasrah saja, karena itu dari Allah, kita dikasih perhatian mungkin hidup kan ada cobaan. Tapi ya saya waswas, cuma punya rumah itu aja tok, nggak punya lain-lain," lanjutnya.
Setiap hujan turun, kata Kadar, ia mendengar gemuruh disertai sensasi seperti gempa yang menandakan adanya pergerakan tanah.
"Sudah terasa itu kayak gempa, terus gledak-gledak. Tadi aja itu mungkin 1 meteran yang bergeser dari jam 06.00 WIB. Waswas nanti kalau hujan lagi," tuturnya.
Hingga kini, kata dia, sudah ada bantuan berupa sembako bagi warga terdampak. Namun warga berharap ada bantuan untuk perbaikan dan relokasi.
"Saya rumahnya rumah kayu. Jadi kalau biaya ya paling butuh buat beli kayu, buat seng, mungkin sekitar Rp 10-20 juta," tuturnya.

