Seorang remaja bernama Syafiq Ridhan Ali Razan (18), warga Kramat Utara, Magelang Utara, hilang saat mendaki Gunung Slamet melalui jalur Dipajaya, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Pencarian dikerahkan, bahkan sang ayah ikut di dalamnya.
Diketahui, Syafiq mendaki bersama Himawan Choidar Bahran, warga Secang, Magelang. Keduanya naik melalui jalur pendakian Dipajaya Clekatakan pada Jumat (27/12).
Kepala Pelaksana BPBD Pemalang, Andri Adi, menyatakan Himawan ditemukan selamat di Pos 5.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada kabar baik ketemu 1 anak, alhamdulillah katanya kondisi aman," ujarnya melalui pesan singkat, Selasa (30/12).
Kepala Desa Clekatakan, Sutrisno, menuturkan kedua korban diduga terpisah dari rombongan saat hendak turun. Ia juga mengungkap kondisi puncak Slamet dalam beberapa hari sebelumnya berkabut tebal.
"Memang cuaca masih kurang bagus. Hujan rintik-rintik dan berkabut tebal, pandangan para pendaki agak terhalang. Bisa jadi satu rombongan itu terpisah," kata Sutrisno melalui sambungan telepon.
Pencarian Terkendala Cuaca Buruk
Tim SAR Dipajaya, Slamet Riyadi, berkata kondisi cuaca menjadi tantangan dalam upaya menemukan Syafiq.
"Kendala cuaca. Pencarian sampai hari ini jam segini masih nihil, itu karena faktor cuaca. Memang cuacanya beberapa kali kami dari tim SAR, tim SAR gabungan dari Basarnas itu memang terkendala cuaca. Tiga kali kami naik juga terkendala cuaca yang sama, tadi badai, hujan, dan angin," jelas Slamet, Kamis (1/1).
Sementara itu, Kades Clekatakan, Sutrisno, mengatakan beberapa regu tim gabungan telah bergantian naik turun, namun belum ada hasil.
"Kami mohon doa agar hari ini survivor bisa ditemukan. Tim kesembilan hari ini sudah naik, semoga cuaca mendukung," kata Sutrisno.
Pencarian pendaki hilang asal Magelang di Gunung Slamet terkendala cuaca buruk, Kamis (1/1/2026). Foto: dok. Relawan Pemalang dan Basecamp Dipajaya |
Bawa Tulisan untuk Mantan
Syafiq Ali terungkap membawa papan yang ditujukan untuk mantannya saat berhasil mendaki puncak Slamet. Papan bertuliskan ditemukan 'HI MANTAN, DAPAT SALAM DARI GUNUNG SLAMET 3428 MDPL' itu ditemukan dalam jaket temannya yang sempat ikut hilang dalam pendakian, Himawan.
Keberadaan papan tersebut diketahui saat Himawan ditemukan oleh tim relawan. Barang tersebut diletakkan di dalam jaket Himawan. Tulisan untuk mantan itu memang sengaja dipesan oleh Ali di online dan dibawa saat pendakian.
"Ya, kami temukan papan tulisan itu saat menemukan survivor pertama. Dalam jaket. Kondisi tubuhnya lemas dan langsung kita evakuasi ke Basecamp Dipajaya," kata Kepala Desa Clekatakan, Sutrisno, ditemui di lokasi, Jumat (2/1).
Saat ini, tulisan ini, disimpan di Basecamp Dipajaya. Sementara itu, Himawan, korban selamat yang saat ini berada di Basecamp Dipajaya bersama ayahnya yakni Imam Bukhori, membenarkan tulisan itu sengaja dibawa sampai puncak.
"Iya, milik dia (Syafiq Ali). Pesan dulu di online baru saya yang bawa, saya masukin ke jaket. Di atas berfoto dengan itu. Ya, katanya untuk ramai-ramai saja," kata Himawan.
Keluarga Ungkap Percakapan Terakhir
Kakak Ali, Naufal Hisyam (24), mengungkap adiknya sempat pamit hendak ke Gunung Sumbing. Namun, ternyata Ali mengirim foto yang menunjukkan dia berada di Slamet.
"Waktu itu (tanggal 27 Desember) bilangnya mau pergi ke Gunung Sumbing, awalnya. Terus, ternyata tiba-tiba di Slamet, ngefotoin (kirim foto ke orang tua) ada di basecamp Slamet itu," kata Naufal saat ditemui di rumahnya Perum Depkes Blok D2/16, Kelurahan Kramat Utara, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Jumat (2/1).
"Kan terus ibu saya kan sebenarnya agak kaget kok bisa-bisanya sampai di Slamet. Terus yaudah ibu saya 'iyain aja karena udah telanjur sampai di sana'. Terus ditanya sama ibu saya naik ke atas jam berapa, katanya jam 11 malam (23.00 WIB). Terus ramai nggak? Katanya ramai, bareng-bareng, ada yang lainnya," sambungnya.
Naufal melanjutkan, adiknya mengaku tidak berkemah, hanya berangkat sehari atau yang lazim disebut tektok. Sehingga, seharusnya dia memberi kabar pada 28 Desember 2025.
"Terus ditanya pulangnya kapan? Katanya Minggu sore. Itu kan berangkatnya hari Sabtu tanggal 27, harusnya kan pulangnya tanggal 28 gitu. Soalnya adik saya posisinya tektok bukan ngecamp. Terus ditungguin sampai Minggu kok gak ada kabar," imbuhnya.
Pihak keluarga sudah mencoba menghubungi Ali melalui pesan WhatsApp, tetapi belum ada kabarnya.
"Iya pak sudah dihubungi terus dari Minggu pagi tapi WA nya masih ceklis. Temannya juga dihubungi masih ceklis," ucap Naufal.
Selanjutnya, pihak keluarga mencari informasi dari semua akun media sosial Gunung Slamet untuk dihubungi. Namun, saat itu tidak ada yang mengetahui keberadaannya.
"Terus ayah saya menghubungi salah satu admin basecampnya, terus ditanya ada fotonya enggak? Terus ayah saya kirimin foto adik saya yang waktu ngepap (kirim foto) di basecamp," tutur Naufal.
"Terus itu ternyata dari Basecamp Dipajaya. Ayah saya minta nomornya buat menghubungi ke Dipajaya itu terus dicariin dari data adik saya ternyata ada KTP dan statusnya belum turun. Terus waktu dicek lagi ternyata motornya juga ada di sana," ujarnya.
Ayah Ali Ikut Mencari Anaknya
Ayah Ali, Dhani Rusman, ikut dalam pencarian sang anak sejak Jumat. Tanpa perlengkapan memadai, Dhani ikut menuruni lembah dan menyusuri medan ekstrem di Gunung Slamet dengan harapan anaknya lekas ditemukan.
Jalur yang dilalui Dhani berada di luar jalur pendakian sebab dirinya menerima informasi bahwa anaknya diduga sudah keluar dari jalur pendakian. Dia bilang lokasinya di antara Pos 4 dan Pos 5.
"Posisinya bukan di jalur. Sudah turun ke pinggir jurang, dekat sungai, di semak-semak," kata Dhani saat ditemui detikJateng di rumah warga Clekatakan, Pemalang, Sabtu (3/1/2026).
Awalnya Dhani berniat mendaki hingga Pos 9. Namun setelah mendapat informasi tersebut, ia pun mengubah keputusan. Ia hanya naik sampai Pos 3.
Namun, jalur yang dilalui Dhani bisa dibilang ekstrem. Tanpa golok, Dhani nekat turun ke lembah.
Dia berusaha menyibak semak berduri dengan tongkat. Dia bilang tanahnya begitu licin dan jurang menganga tepat di bawah tempatnya berpijak.
"Persiapan yang sangat minim ya. Saya menggunakan tongkat. Tetapi tidak menyurutkan semangat saya untuk terus mencari anak saya," ujar Dhani.
Dhani mengatakan dirinya terus memanggili nama anaknya saat mendaki. Namun hingga turun, pencariannya belum membuahkan hasil.
"Saya panggil anak saya, Ali, Ali. Tapi tidak ada jawaban. Saya langsung turun ke bawah. Tantangannya luar biasa, licin, durinya banyak," kata dia.
Dhani akhirnya turun sekitar pukul 14.00 WIB. Dia mau turun setelah Tim SAR yang melihat kondisinya menyarankan Dhani menghentikan pencarian.
Diduga Minim Pengalaman
Dhani melanjutkan, putranya tersebut sudah sejak lama ingin mendaki Gunung Slamet meski masih minim 'jam terbang'.
"Pengalaman terakhirnya hanya ke Gunung Andong,"ujarnya.
Dhani mengatakan, Syafiq menyiapkan perlengkapan pendakian dari hasil menabung uang jajan. Ia tidak pernah meminta langsung kepada orang tuanya.
"Dia nabung dari uang jajan. Kalau kurang, dia bilang mau mijitin (ayah dan ibunya agar diberi uang). Ternyata semua itu untuk persiapan naik gunung," ujar Dhani.
Simak Video "Video: Kecelakaan Karambol di Tol Gayamsari Semarang, 8 Orang Terluka"
[Gambas:Video 20detik]
(apu/apu)












































