Kisah Sabda Sunan Muria di Balik Tradisi Bulusan Kudus

Dian Utoro Aji - detikJateng
Minggu, 08 Mei 2022 09:35 WIB
Kompleks kolam bulus di Dukuh Sumber Desa Hadipolo Kecamatan Jekulo, Kudus, Sabtu (7/5/2022).
Kompleks kolam bulus di Dukuh Sumber Desa Hadipolo Kecamatan Jekulo, Kudus, Sabtu (7/5/2022). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng
Kudus -

Warga Dukuh Sumber Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah bakal menggelar tradisi Bulusan sepekan setelah Lebaran. Tradisi ini rutin digelar setiap tahunnya. Seperti apa cerita di balik tradisi Bulusan tersebut?

Untuk diketahui, Desa Hadipolo ini berjarak sekitar 7 kilometer dari pusat Kota Kudus. Jika ditempuh dengan berkendara sepeda motor membutuhkan waktu sekitar 20 menit.

Tradisi Bulusan ini ternyata tak lepas dengan sejarah cikal bakal Dukuh Sumber, Desa Hadipolo. Tradisi iini pun tak lepas dari sosok Mbah Buyut Dudo atau dikenal dengan Joko Samudra.

"Asalnya Dukuh Sumber Hadipolo, terus zaman kuno ini termasuk cerita turun temurun, di sini masih hutan. Ada sesepuh yang tinggal di sini, namanya Mbah Buyut Dudo. Mbah Dudo ini tidak punya istri," terang Juru kunci Makam Mbah Dudo, Sirajudin kepada detikJateng saat ditemui di lokasi, Sabtu (7/5/2022).

Sirajudin menerangkan wilayah Dukuh Sumber dulunya merupakan hutan. Jarak Dukuh Sumber dengan Pegunungan Muria sekitar 17 kilometer. Sirajudin menjelaskan sosok bulus ini merupakan santri dari Mbah Dudo yang disabda oleh Sunan Muria.

Konon ceritanya Sunan Muria sedang berjalan ke selatan saat malam hari. Sunan Muria kemudian melihat ada orang yang sedang bekerja di sawah saat malam hari, dan berseloroh orang itu mirip dengan bulus.

"Jadi di sini wilayahnya dari Gunung Muria sekitar 17 kilometer ke selatan. Lha malam-malam menghadapi hari raya Lebaran itu ada santri-santri Mbah Buyut Dudo ada daut di sawah. Lha itu ada Sunan Muria berjalan lewat ke selatan wilayah, Sunan Muria ini bilang malam-malam kok bekerja seperti bulus itu. Terus santri ini berubah menjadi bulus," terang Sirajudin.

Singkat cerita, Sunan Muria pun bertemu dengan Mbah Dudo. Sunan Muria kemudian meminta maaf kepada Mbah Dudo.

Lalu mereka berjalan ke arah utara dengan membawa tongkat. Sunan Muria pun menancapkan tongkat tersebut dan keluar air. Sunan Muria akhirnya memberikan nama wilayah itu Dukuh Sumber.

"Saat itu Sunan Muria minta maaf karena santrinya disabda berubah menjadi bulus. Tadi ada orang daut di sawah malam-malam menjadi bulus, tadi hanya bercanda. Karena terlanjur terjadi, terus Sunan Muria berjalan ke utara sambil membawa tongkat 'adem ati', sampai di sini ditancapkan ke tanah terus diangkat, disaksikan ini, akhirnya zaman desa ini namanya Sumber karena airnya banyak," ucap Sirajudin.

Sunan Muria menyampaikan jika nantinya bulus tersebut akan diberi makan oleh anak cucu. Sirajudin menyebut warga Dukuh Sumber banyak yang mengirim makanan di kompleks Makam Mbah Dudo dan lokasi kolam bulus.

"Bulus ini akan di sini, karena di sini akan menjadi sungai. Terus di sungai ini nanti bulus akan diberikan makan anak cucunya. Sehingga sampai sekarang, anak cucu sampai sekarang pasti kirim makanan ke bulus sini. Siapapun warga yang akan memiliki hajatan ngirim makanan ke sini, kalau tidak ya ada kendala nanti," ungkap dia.

Dia menambahkan tradisi Bulusan rencana akan digelar Senin (9/5) besok. Rangkaian acara dimulai dengan Minggu (8/5) malam dengan doa bersama di kompleks makam Mbah Dudo di Dukuh Sumber Desa Hadipolo.



Simak Video "Jokowi Temui Sultan HB X: Semua Berjalan dalam Suasana Sangat Baik"
[Gambas:Video 20detik]
(ams/ams)