Menengok Masjid di Puncak Gunung Muria, Jejak Penyebaran Islam di Kudus

Dian Utoro Aji - detikJateng
Sabtu, 07 Mei 2022 10:18 WIB
Masjid peninggalan Sunan Muria yang terletak di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Rabu (30/3/2022).
Masjid peninggalan Sunan Muria yang terletak di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Rabu (30/3/2022). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng
Kudus -

Salah satu jejak penyebaran Islam di Jawa adalah masjid peninggalan Sunan Muria yang berada di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Uniknya masjid ini terletak di puncak Gunung Muria dengan ketinggian di atas 1.000 mdpl. Seperti apa penampakannya?

Untuk sampai ke lokasi dari pusat Kota Kudus membutuhkan waktu 40 menit dengan berkendara atau jaraknya sekitar 21 kilometer. Sesampainya di Desa Colo pengunjung harus menempuh perjalanan dengan medan ekstrem.

Peziarah biasanya harus naik tangga sejauh 500 meter dari pangkalan ojek. Namun kebanyakan peziarah memilih untuk naik ojek dengan tarif sekitar Rp 15 ribu. Dari atas kompleks makam dan masjid Sunan Muria terlihat pemandangan Kota Kudus yang indah.

Memasuki masjid peninggalan Raden Umar Said atau yang dikenal Sunan Muria sudah banyak yang direnovasi. Namun ada beberapa bangunan yang masih asli. Salah satunya adalah tempat pengimaman atau mihrab yang menjorok ke dalam bukan ke luar. Di mihrab tersebut terdapat ukiran piring keramik kecil yang berjumlah 30 buah dan bagian atas mihrab terdapat tulisan Arab.

Selanjutnya tiang penyangga masjid terdapat empat saka yang terbuat dari kayu. Di tiang tersebut terdapat umpak yang terbuat dari batu berukir. Umpak tersebut pun masih asli dan dirawat hingga sekarang.

Tak hanya itu, beduk yang tersimpan di masjid tersebut masih asli. Beduk itu terbuat dari kayu dan terdapat ukiran.

Masjid peninggalan Sunan Muria yang terletak di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Rabu (30/3/2022).Masjid peninggalan Sunan Muria yang terletak di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Rabu (30/3/2022). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Imam Masjid Sunan Muria, Mastur mengatakan keunikan masjid peninggalan Sunan Muria berada di atas puncak Gunung Muria. Konon disebutkan jika masjid ini seperti berada di atas awan karena letaknya di puncak gunung.

"Untuk kelebihan atau yang membedakan Masjid Sunan Muria ini berada di puncak gunung, gunung yang ketinggiannya sekitar 1.000 meter. Puncak Muria ya ini yang masjid ini," terang Mastur saat ditemui detikJateng beberapa waktu lalu.

Mastur mengatakan Sunan Muria mendirikan masjid di tengah hutan dan di atas gunung bukan tanpa sebab. Menurutnya jika kelak nanti masjid tersebut bakal banyak dikunjungi orang dari Kudus bahkan daerah lain.

"Beliau mendirikan masjid di puncak gunung ternyata dulu juga banyak yang mempertanyakan, kenapa Sunan Muria mendirikan masjid berada di puncak gunung dan tengah hutan. Beliau menjawab kala itu tapi belakangan nanti akan dikunjungi orang dari mana-mana. Ternyata sekarang tidak melulu hanya orang sekitar, dari mana saja, kota desa datang ke sini," ujar dia.

Masjid tersebut, kata dia, dibangun sekitar abad 15 sampai dengan abad 16 Masehi. Mastur mengatakan keunikan lainnya ada tempat pengimaman masjid tersebut bentuknya menjorok ke dalam bukan ke luar. Hal tersebut kata dia mengandung maksud umat muslim diharapkan mementingkan akhirat daripada duniawi.

"Masjid ini juga terutama Desa Colo belum ada masjid, ini sudah dimanfaatkan untuk salat Jumat di sini. Yang fisik keunikannya itu pengimaman ini kan bentuknya ke dalam, bukan ke luar. Ini juga konon memberikan pesan bahwa umatnya Sunan Muria diharapkan mementingkan keakhiratan, mementingkan rohani dari pada keduniaan, dianjurkan untuk lebih mementingkan urusan akhirat atau ibadah," jelasnya.

Masjid peninggalan Sunan Muria yang terletak di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Rabu (30/3/2022).Masjid peninggalan Sunan Muria yang terletak di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Rabu (30/3/2022). Foto: Dian Utoro Aji/detikJateng

Mastur mengatakan Sunan Muria menyebarkan agama Islam dengan jalan damai. Sunan Muria tidak menggusur budaya masyarakat yang ada di sekitar lereng Gunung Muria. Salah satu Wali Sanga itu membaur dengan masyarakat setempat. Masyarakat mengenal ajaran Sunan Muria yakni "tapa ngeli".

"Metode dakwah Sunan Muria, jadi beliau tidak menggusur budaya yang sifatnya duniawi. Masuk dengan tidak menggusur perkumpulan yang ada, beliau masuk dengan mengisi perkumpulan ini dengan kegiatan agama, seperti ada bayi dibacakan kidung, beliau masuk dibacakan berjanjen, mau mendirikan rumah, beliau masuk dibacakan manaqib, kalau ada orang mati konon diadakan sesaji, beliau masuk dibacakan tahlil. Jadi beliau tidak merombak perkumpulan secara fisik, jadi isinya diisi dengan agama," terang dia.

"Tapa ngeli jadi beliau mengikuti jadi mengikuti arus masyarakat tapi tidak mengikuti budaya masyarakat, jadi masyarakat yang diajak mengikuti yang agama itu," sambung Mastur.

Mastur menambahkan ajaran Sunan Muria yang masih dilestarikan masyarakat adalah "pagar mangkok". Menurutnya istilah pagar mangkok berarti perbanyak untuk bersedekah.

"Istilah lagi pager mangkok juga, ini berarti perbanyak sedekah, jangan lupa tetangga, dikasih antara agar mereka juga menikmati rezeki yang kita terima," pungkas Mastur.



Simak Video "Mengagumi Indahnya Masjid Al-Aqsha Menara Kudus"
[Gambas:Video 20detik]
(rih/ahr)