Belajar Menjaga Daya Hidup dari Sabar Gorky

Bayu Ardi Isnanto - detikJateng
Kamis, 20 Jan 2022 12:09 WIB
Sabar Gorky, atlet panjat dinding difabel dari Kota Solo
Sabar Gorky, atlet panjat dinding difabel dari Kota Solo. (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikJateng)
Solo -

Peristiwa pada sebuah siang di April 1990 itu masih melekat kuat diingatan Sabar Gorky (53). Kecelakaan di stasiun kereta api di Karawang saat itu membuat kehidupannya berubah drastis.

"Saat itu pukul dua siang, saya turun dari kereta untuk beli air minum. Saat naik, kereta jalan, saya terpeleset sampai kaki saya masuk ke kolong kereta," kata Sabar saat dijumpai di tempat kerjanya, kantor PMI Solo, Senin (6/12/2021).

Pria yang merupakan atlet senior panjat tebing itu pun masih ingat detik-detik mencekam saat dirinya dievakuasi. Darah tak henti mengucur dari kakinya yang terluka parah hingga terlihat tulangnya.

Sabar yang saat itu berusia 22 tahun merasa beruntung karena ada seseorang yang bisa memberi pertolongan pertama dengan teknik yang benar. Nyawanya yang terancam melayang akhirnya bisa terselamatkan.

"Ada seseorang yang luar biasa, dia mengikat bagian kaki saya yang mengucurkan darah hingga menghentikan pendarahan," ujar pria kelahiran 1968 itu.

Meski demikian, Sabar tetap harus kehilangan salah satu kakinya. Kaki kanannya harus diamputasi karena memang sudah tidak bisa difungsikan.

Menjadi seorang difabel membuat Sabar muda sempat merasa putus harapan. Namun beberapa bulan kemudian, Sabar memutuskan harus menjalani kehidupan ini selayaknya manusia lain.

"Orang tua pasti khawatir, tapi saya berontak dalam arti baik. Kalau saya mendekam terus, saya tidak akan maju. Alhamdulillah saya bisa membuktikan bisa melakukan apa yang dikatakan orang lain tidak mungkin," ungkapnya.

Pria yang tinggal di Gang Demak, Kelurahan/Kecamatan Jebres, Solo itu memulai lagi hidupnya dengan mendaki gunung. Mendaki memang sudah menjadi hobinya sejak lama.

"Saya sempat mendekam, tidak lama, karena banyak teman yang peduli. Bahkan saya berkali-kali dirayu sama teman-teman untuk ikut mendaki, pertama itu ke Lawu tahun 1990," ujarnya.

Pada awalnya, Sabar dengan kondisi satu kaki hanya mampu mencapai beberapa pos pendakian. Namun setelah beberapa kali pendakian, dia mampu mencapai puncak.

Sejumlah gunung yang sudah dia daki, antara lain Lawu, Merapi, Merbabu, Semeru, hingga Rinjani. Bahkan dia sudah menaklukkan empat gunung dari tujuh puncak dunia yang dikenal sebagai Seven Summit.

Empat gunung itu yakni Jayawijaya (Carstensz), Papua, Gunung Elbrus (Rusia), Gunung Kilimanjaro (Tanzania), dan Aconcagua (Argentina). Di Aconcagua, Sabar belum bisa mencapai puncak karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan.

Sedangkan pendakian di Elbrus pada 2011, membuat dirinya memiliki nama baru. Pria yang lahir bernama Sabar itu menambahkan nama Gorky di belakang.

"Nama Gorky ini diberikan oleh staf Kedubes RI di Rusia setelah turun dari Elbrus. Gorky artinya pahit. Nama ini sudah saya resmikan di Dispendukcapil," ujar dia.

Dia sebetulnya sudah memiliki rencana pendakian ke Vinson Massif, namun tertunda karena pandemi COVID-19. Meski usianya sudah kepala lima, dia masih ingin menyelesaikan tiga puncak dunia lainnya.

"Kalau keinginan itu pasti ada, tapi Tuhan yang menentukan. Entah kapan kita belum tahu," ujarnya.

Jadi Atlet Panjat Dinding

Tak hanya mendaki gunung, Sabar juga ahli dalam panjat dinding maupun panjat tebing. Bahkan dia pernah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional melalui kompetisi panjat dinding.

Cabang olahraga ini dia tekuni sejak 1994. Teman-temannya turut membantu sebagai bilayer atau orang yang menjaga agar pemanjat tetap aman ketika jatuh.

"1994-1995 ikut sirkuit panjat dengan orang normal, 1996 ikut PON. Tahun 2009 ikut kompetisi di Korsel, alhamdulilah dapat emas. Tahun 2012 ikut paraclimbing di Prancis peringkat empat," katanya.

Keahliannya dalam panjat dinding juga dia manfaatkan untuk bekerja. Dia membuka jasa membersihkan kaca gedung-gedung tinggi.

"Tahun 1998 itu banyak gedung kotor karena terjadi pembakaran di mana-mana. Itu saya dapat kerjaan 'laundry gedung'. Sekarang pun masih, sebentar lagi berangkat ke Kamboja untuk laundry dan maintenance," ujar dia.

Sabar Gorky latihan sebelum mendaki Gunung Elbrus, Solo, Kamis (2/8/2018).Sabar Gorky latihan sebelum mendaki Gunung Elbrus, Solo, Kamis (2/8/2018). (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikJateng)

Pria berkepala plontos ini pun sempat beberapa kali menghebohkan publik dengan aksi-aksinya. Antara lain memanjat Bundaran HI dalam waktu tak sampai 10 menit.

"2014 saya berhasil memanjat Monas, meskipun sempat ditolak-tolak. Butuh waktu sekitar 45 menit untuk sampai ke atas," kata pemilik usaha warung kopi Gorky tersebut.

Di balik aksi-aksinya tersebut, Sabar mengaku hanya ingin agar masyarakat tidak memandang sebelah mata para difabel. Dia juga mengajak para difabel untuk terus bersemangat dan terus berkarya.

"Tujuan saya satu, menyamaratakan difabel dengan yang normal. Sama-sama manusia, sama-sama memiliki hak. Saya ingin mengubah paradigma. Difabel punya harkat, martabat dan bisa berprestasi," katanya.

"Kawan-kawan semangatlah, semua ada waktunya. Seperti alam, Semeru itu kalau udah marah seperti itu, sama seperti teman difabel juga bisa memiliki kekuatan dahsyat," katanya.

Kisah asmara dari panjat dinding

Beralih ke kehidupan keluarganya, Sabar memiliki seorang istri bernama Lenie Indria dan dua anak yang masih bersama mereka. Hati mereka tertaut dari arena panjat dinding.

Sabar merupakan pelatih panjat dinding bagi Lenie yang masih mahasiswa. Lenie saat itu kuliah di Universitas Kristen Surakarta (UKS) di daerah Margoyudan, Banjarsari, Solo.

"Dia dulu pelatih saya. Sebenarnya saya takut sama dia, penampilannya seram, tapi lama-lama biasa. Setahun kenal, akhirnya menikah tahun 2001," kata Lenie kepada detikJateng.

Kondisi Sabar sebagai difabel tentu sulit baginya untuk bekerja di sektor formal. Mereka pun pernah membuka berbagai macam usaha, mulai dari cuci sepeda motor, wedangan, toko outdoor hingga warung kopi.

"Dia itu mandiri, artinya tidak perlu bantuan untuk berkegiatan sehari-hari, seperti orang normal. Bahkan dari dulu sudah bisa naik motor sendiri, naik mobil sendiri," ungkapnya.

Lenie menilai Sabar ialah sosok keras kepala, namun pantang menyerah. Meski demikian, Sabar juga dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab.

"Orangnya keras kepala, sampai menurun ke anak-anak saya. Tapi dia itu bertanggung jawab sebagai kepala keluarga," ujar dia.

Seorang kawan Sabar, Ahmad Rafiq, membenarkan pernyataan Lenie yang menganggap Sabar sosok yang sepintas terlihat seram. Selain tampang yang garang, penampilan Sabar dahulu juga terlihat ngeri.

Rafiq saat itu adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) yang tinggal di kos milik Sabar. Hampir seluruh penghuni kos, terutama penghuni baru, takut dengan Sabar. Namun Rafiq justru akrab dengan Sabar.

"Kalau orang lihat pertama kali pasti takut, seperti preman. Tangan dan kakinya penuh dengan gelang dari tali prusik," ujar Rafiq.

Namun, di balik penampilannya dan sikap keras itu, ternyata Sabar merupakan sosok yang hangat dan humoris. Selama tinggal 4 tahun di kos bernama Padepokan Klampis Ireng itu, Rafiq merasa sangat kerasan dan dianggap seperti keluarga.

Selama pacaran dengan Lenie, Sabar kerap meminjam sepeda motor milik Rafiq. Rafiq pun sempat melihat penampilan Sabar yang mungkin tidak pernah dilihat banyak orang.

"Kalau malam Minggu itu motor C70 saya sudah pasti dipakai dia untuk datang ke rumah pacarnya. Sampai akhirnya menikah itu saya sempat lihat acara pernikahan di rumah Sabar. Waktu itu Sabar menggunakan kaki palsu. Dia sebenarnya sudah lama punya kaki palsu, tapi tidak pernah dipakai," kata dia.

Soal kemandirian dan kegigihan Sabar, Rafiq pun mengakui. Menurutnya, wajar jika Sabar berhasil dengan pencapaian-pencapaiannya selama ini.

"Memang diakui, dia sangat mandiri dan gigih. Contoh saja, untuk menyetir mobil pasti sulit dilakukan seorang difabel. Tapi justru saya bisa menyetir karena dulu diajari sama Sabar," kata Rafiq.

"Berbagai jenis usaha sudah pernah dilakukan. Saya juga pernah ikut Sabar membuat dinding panjat di berbagai kampus. Memang orangnya gigih, jadi ya wajar saja kalau dia menang kejuaraan, bisa mencapai berbagai puncak gunung," pungkasnya.



Simak Video "Layanan Ojek Online Dengan Pengemudi Difabel, Karya Triyono"
[Gambas:Video 20detik]
(ahr/sip)