Bu Tarwo Sumosutargio, Sepenuh Hati-Selama Hidup Mengabdi Tari

Bayu Ardi Isnanto - detikJateng
Rabu, 19 Jan 2022 15:07 WIB
Suyati Tarwo Sumosutargio, maestro tari dari Pura Mangkunegaran
Suyati Tarwo Sumosutargio, maestro tari dari Pura Mangkunegaran. Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikjateng
Solo -

Dedikasi adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kehidupan Suyati Tarwo Sumosutargio. Hampir seluruh hidupnya digunakan untuk mengabdikan diri sebagai penari di Pura Mangkunegaran, Kota Solo.

Bu Tarwo, demikian perempuan berusia 88 tahun ini akrab disapa. Wajahnya masih tampak cerah. Meski dengan suara bergetar, dia masih bisa berkomunikasi dengan baik.

Menari adalah bagian terbesar dalam hidupnya. Wanita yang lahir pada 27 Mei 1933 dengan nama Suyati itu mulai belajar menari sejak usia 9 tahun.


Saat itu Mangkunegaran masih dipimpin oleh KGPAA Mangkunegara VII. Sedangkan saat ini, suksesi Mangkunegaran sudah memasuki era Mangkunegara X. Artinya, Bu Tarwo menjadi penari empat generasi!

Saat detikJateng berkunjung ke kediamannya, Jalan Indragiri, Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Bu Tarwo menyambut mengenakan jarik dan kebaya kutubaru hijau, warna khas Mangkunegaran. Rambutnya disisir rapi ke belakang.

Bu Tarwo lahir dari pasangan Kartodiwiryo dan Sumarni. Namun, pada usia 5 tahun, dia tinggal bersama orang tua angkatnya, Wongsosemito dan Sinem di Gondowijayan, yang berada di sebelah barat Mangkunegaran (sekitar rumah dinas Wakil Wali Kota Solo).

"Saat umur 9 tahun, saya pertama kali belajar tari dari Ki Demang Ponco Sewoko, abdidalem Mangkunegaran. Umur 10 tahun mulai belajar di Mangkunegaran," kata Bu Tarwo, Rabu (15/12/2021).

Masuknya Suyati kecil ke Mangkunegaran adalah hal istimewa. Dia bisa ikut berlatih tari dan tinggal di asrama Mangkunegaran berkat bakat tarinya yang menonjol.

"Waktu Mangkunegara VII berkeliling lewat Gondowijayan, diberi tahu oleh Pak Bei Toro, tetangga saya yang juga abdi dalem, bahwa saya bisa menari. Setelah Mangkunegara melihat, lalu saya diminta masuk ke Mangkunegaran," ujar dia.

Suyati Tarwo Sumosutargio, maestro tari dari Pura MangkunegaranPotret saat Suyati mendapat penghargaan dari Joko Widodo yang saat itu menjabat sebagai Wali Kota Solo Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikjateng

Mangkunegara VII saat itu memang sedang gencar mengajak generasi muda untuk berkecimpung melestarikan budaya. Tak jarang sang Penguasa Mangkunegaran itu melihat langsung para penari berlatih.

Suyati pernah mendapatkan kesempatan langka, yakni menari dalam rangkaian acara pernikahan putri Mangkunegara VII, Gusti Siti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumowardani. Dari situ, kemampuan tari Bu Tarwo semakin dilihat orang hingga sering tampil dalam berbagai acara.

Pada 2009, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Ri Jero Wacik memberinya penghargaan dan menobatkan Bu Tarwo sebagai Maestro Tari tradisional Gaya Mangkunegaran.

Berjodoh dengan keturunan ningrat

Dalam buku biografi Suyati Tarwo Sumosutargio Maestro Tari Gaya Mangkunegaran (2018) karya Sri Rochana Widyastutieningrum, dikisahkan bahwa kepiawaian Suyati menari rupanya membuat banyak pria terpikat. Tak sedikit pria mendatangi rumah Suyati untuk berkenalan, bahkan melamar.

Di antara para pria itu, ada tiga orang putra bangsawan Mangkunegaran yang juga sering mengunjungi rumah Suyati. Mereka adalah Seno, Pudyo dan Tarwo. Pada akhirnya, Suyati menaruh hati pada Tarwo.

Namun, kisah cinta mereka mengalami banyak hambatan, terutama masalah latar belakang. Tarwo adalah putra dari Raden Mas Panji (RMP) Sumosutargio yang merupakan mantan komandan legiun Mangkunegaran sekaligus trah dari Mangkunegara III. Sementara Suyati hanyalah rakyat jelata yang kehidupannya serba sulit.

"Sebuah kejutan justru datang dari RMP Sumosutargio. Suatu hari beliau mendadak bersilaturahmi ke rumah Bu Tarwo, untuk melihat dan berkenalan dengan calon mantunya. Dengan ditemani adik iparnya yang bernama Sastro, RMP Sumosutargio bertemu Suyati. Beliau berkata 'ini ya calon mantuku yang pandai menari'," tulis Rochana.

Pernikahan antara Suyati dan Tarwo pun berlangsung. Setelah menikah, Bu Tarwo masih terus menari, namun tidak untuk kegiatan di luar Mangkunegaran. Setiap Rabu, Suyati rutin mengikuti pisowanan di Pura Mangkunegaran.

Meski Tarwo masih keturunan bangsawan, kehidupan mereka tak berlangsung mudah. Mereka masih tinggal bersama orang tua karena belum bisa hidup mandiri.

Setelah dua bulan pernikahan, Tarwo baru mendapatkan pekerjaan atas tawaran kakak iparnya yang merupakan pemborong bangunan. Saat itu, Suyati sedang hamil anak pertama.

Selanjutnya, Tarwo mendapatkan tawaran dari kakak kandungnya untuk bekerja sebagai mandor penanaman bibit tebu di Pabrik Gula (PG) Tasikmadu. Dari situ, Tarwo mendapatkan hak menempati rumah dinas yang ditinggali bersama keluarganya.

Karena dianggap berhasil, Tarwo mendapatkan tugas-tugas selanjutnya hingga harus berpindah-pindah tempat. Dia pernah dipindah ke PG Colomadu hingga akhirnya Tarwo menjadi pemimpin Kantor Perwakilan PPRI di Baturetno, Wonogiri.

"Walaupun saya di Tasikmadu, Colomadu, Baturetno, saya tetap sendika dhawuh (patuh) ketika diminta menari di Mangkunegaran, karena saya abdi dalem," ujar Suyati.

Kembali ke Solo

Tarwo kemudian pensiun pada 1981 dan kembali ke Solo. Suyati yang sebetulnya sudah kerasan tinggal di Baturetno, mau tak mau harus ikut suaminya pulang ke Solo. Mereka pun masih hidup menumpang karena tidak memiliki rumah sendiri.

Pada 1987, Mangkunegara VIII memberikan kekancingan kepada Suyati sebagai punggawa Kemantren Langenpraja Pura Mangkunegaran agar bisa memberikan masukan untuk perkembangan tari di Mangkunegaran. Sebab selama jauh dari Mangkunegaran, Suyati tak lagi aktif, kecuali menghadiri pisowanan dan acara-acara tertentu.

Saat Kemantren Langenpraja diminta mengisi siaran tari Mangkunegaran di TVRI Yogyakarta, Suyati memperoleh kesempatan menari di TVRI Yogyakarta. Dari situ, Suyati semakin dikenal publik sebagai penari andal dari Mangkunegaran.

Suyati pun berkesempatan tampil di berbagai acara di mancanegara, seperti di Paris, Tokyo hingga San Francisco. Dia juga sempat melatih tari anak-anak Indonesia di Vietnam. Terakhir, Suyati bergelar bupati sepuh dengan sebutan 'kanjeng'.

Atas izin Mangkunegara VIII, masyarakat umum diperbolehkan mengikuti latihan menari di Mangkunegaran. Suyati pun menjadi pelatih tari hingga sekarang.

Suyati Tarwo Sumosutargio, maestro tari dari Pura MangkunegaranPotret Suyati bersama mendiang suaminya, Tarwo Sumosutargio Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikjateng

Suaminya, Tarwo meninggal pada 1990 karena sakit. Pasangan itu telah dikaruniai 12 anak. Sepeninggal Pak Tarwo, Suyati harus membanting tulang agar anak-anaknya yang sebagian masih kecil bisa hidup dengan layak.

Keluarga itu akhirnya membeli rumah di Sangkrah yang hingga kini ditempati Bu Tarwo bersama beberapa anaknya. Beberapa anak yang sudah dewasa bergotong royong untuk membeli rumah itu. Bu Tarwo pun mengambil keuntungannya dari menanam saham pada bisnis temannya selama di Baturetno.

Keahlian menari Bu Tarwo rupanya tidak menurun kepada anak-anaknya, namun justru pada salah satu cucunya. Saat ini cucunya menjadi penari, abdidalem, sekaligus asisten Bu Tarwo dalam melatih tari di Mangkunegaran.

"Sekarang justru anak saya yang meneruskan keahlian ibu. Ibu saya kan kalau melatih cuma duduk, anak saya yang jadi asisten eyangnya," kata anak kedelapan Suyati, Achees Sumosutargio.

Sosok disiplin waktu

Di mata Achees, Bu Tarwo adalah sosok yang disiplin waktu. Menurutnya, hal inilah yang mungkin membuatnya awet muda.

"Ibu itu sangat disiplin waktu. Bangun tidur langsung merapikan diri, keluar kamar sudah dandan. Kemudian gosok gigi, cuci muka, senam, lalu ngeteh. Kemudian mandi, lalu sarapan," kata Achees.

"Setelah itu, ibu selalu berjemur, kemudian istirahat tiduran. Siang bangun makan siang. Tapi kalau tidur malam tidak tentu waktunya, kadang awal waktu, kadang sampai larut malam," ujar dia.

Anak kedua Bu Tarwo, Bambang Tarsanto, juga menyebut ibunya adalah sosok yang disiplin, salah satunya soal olahraga. Bu Tarwo juga disebut sebagai orang yang sabar, namun tetap tegas.

"Olahraga itu rutin, walaupun ringan-ringan. Termasuk menari itu juga seperti olahraga, sehingga masih sehat di usia 80-an. Beliau orangnya sabar, tapi tetap tegas kalau soal kedisiplinan," ujar Bambang.

Merekonstruksi tari lama

Penulis buku biografi Suyati Tarwo Sumosutargio Maestro Tari Gaya Mangkunegaran (2018), Sri Rochana Widyastutieningrum, menilai dedikasi Bu Tarwo terhadap tari adalah hal yang luar biasa. Rochana pun pernah berlatih tari bersama Bu Tarwo.

Suyati Tarwo Sumosutargio, maestro tari dari Pura MangkunegaranPiagam sebagai Maestro Tari yang diperoleh dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikJateng)

"Beliau itu selama hidup mengabdi dengan menari. Beliau menari dengan hati. Jadi tidak sekadar menyesuaikan musik dengan gerakan, tapi beliau memahami setiap karakter tari yang dibawakan. Setiap orang yang melihat pasti ikut terhanyut, karena dibawakan dengan hati," kata mantan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Solo itu kepada detikJateng.

Menurutnya, Bu Tarwo juga memiliki sumbangsih dalam merekonstruksi sejumlah tari lama agar bisa dipelajari penari masa kini. Di antaranya ialah tari 'Golek Mantra', 'Mandraretna', 'Mandrakusuma', hingga 'Bedhaya Bedhah Madiun'.

"Karena beliau dulu pernah belajar tari itu dulunya, sehingga ketika membaca manuskrip tari itu bisa memperagakan dengan baik," pungkasnya.

(ahr/mbr)