Telinga orang Sunda akan pindah ke mode fokus saat mendengar nama camilan ini, yaitu ewe deet. Dua kata yang menjadi nama camilan sohor di wilayah Priangan Timur, seperti Ciamis, Tasikmalaya, dan Garut ini memang punya konotasi.
Dari segi kata, éwé berarti hubungan senggama suami istri. Sementara deet merujuk kepada makna dangkal. Namun, meski 'dangkal', kegiatan suami-istri tersebut tetap mengandung unsur kenikmatan, seperti hal nikmatnya camilan ewe deet.
Memang nama itu cukup cawokah (vulgar), tetapi penamaannya bisa ditelusur sebagai ungkapan eksprésif atas kenikmatan yang dirasakan saat mengunyah camilan itu.
Ewe deet adalah camilan yang tersusun atas daging buah kelapa dipotong kecil memanjang, lalu disiram dengan peueut, yakni air nira dalam godokan yang sudah menuju kental dan sebentar lagi akan mencapai tekstur gula merah siap cetak. Pada praktiknya, ada yang cukup disiram, ada yang dilumuri hingga merata dengan cara diaduk.
Masih Ditemukan di Kampung Adat Kuta
Di era kekinian, ewe deet sudah jarang dikonsumsi masyarakat secara umum. Di Ciamis, ewe deet di antaranya masih bisa ditemukan, meski sangat jarang, di Kampung Adat Kuta, Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari. Khusus di Kampung Kuta, camilan ini biasanya dimakan perajin gula aren saat sedang membuat gula.
Dilansir detikJabar, Kepala Dusun Kuta, Didi Sardi, mengatakan hal itu tidak terlepas dari kondisi pada zaman dulu yang makanannya tidak sebanyak dan variatif seperti sekarang. Sehingga, kelapa pun oleh masyarakat dijadikan camilan.
Di Kampung Kuta, warga perajin gula mencoba memadukan kelapa muda dengan disiram nira yang direbus sudah mendekati jadi gula sebelum dicetak. Setelah dicoba, ternyata rasanya enak.
"Rasanya gurih, manis, kelapanya tidak tua, juga tidak terlalu muda, teksturnya nyakrek (renyah)," ucap Didi, Jumat (26/9/2025).
Silsilah Nama Ewe Deet
Bahasa adalah suatu lambang bunyi yang arbitrer, yaitu bersifat manasuka. Camilan berupa potongan daging kelapa setengah tua disiram gula merah cair dinamakan ewe deet pun bersifat demikian.
Penamaannya muncul dari rasa yang sangat enak. Rasa enak yang teramat sangat di mulut, serupa dengan rasa enak ketika senggama. Dalam kaitan antara manusia dan makanan, urusan rasa adalah urusan yang paling intim.
Studi dalam jurnal Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, volume 5 Nomor 3 (2022) mengungkapkan hubungan manusia dan rasa tersebut.
"Berbagai ragam makanan dapat dinikmati berdasarkan rasa nikmat saat mengonsumsinya. Rasa nikmat tersebut dapat meliputi cita rasa, tekstur, hingga bahan dasar. Ketiga rasa nikmat tersebut diperoleh melalui proses yang melibatkan beberapa tahap, yakni melihat, mencium, dan mengecap (Coff, 2006, p. 6). Relasi antara manusia dan makanan akan menjadi sangat intim apabila berbicara tentang kenikmatan, terutama saat makanan tersebut dicicipi," tulis jurnal tersebut.
Menariknya, makanan yang betul-betul diresapi rasa nikmatnya, bukan makanan yang mengenyangkan, melainkan makanan ringan semata. Camilan ewe deet adalah salah satu dari camilan yang punya fungsi kenikmatan itu.
Jurnal LOKABASA Vol.7, No.1, April 2016 mengungkapkan ada 7 kelompok penamaan makanan, dari yang berdasarkan onomatope atau peniruan bunyi hingga yang manasuka:
1. Nama berdasarkan peniruan bunyi, seperti camilan keremes karena bunyi camilan itu ketika dikunyah.
2. Nama berdasarkan persamaan, seperti bola-bola, gemblong kancing, ketan uli, kue saroja, dan putri noong. Penamaan ini karena makanan-makanan tersebut ada persamaannya dengan benda lain. Bola-bola, ya makanan bentuknya seperti bola.
3. Nama berdasarkan bahan, yaitu nama makanan disebutkan dengan bahannya, seperti keripik singkong, kulub hui, dodol nangka, dsb.
4. Nama berdasarkan tempat asal, seperti dodol Garut, wajit Cililin, opak Linggar, dsb.
5. Nama berdasarkan sifat yang menonjol, di antaranya bisa memuat proses pembuatannya, warna, dan bentuk. Misalnya, opak bakar, bolu ungu, papais monyong, dsb.
6. Nama berdasarkan sebagian anggapan, misalnya bubur kemplang, yaitu bubur yang cara pembuatannya dipukul sampai menjadi bubuk.
7. Nama manasuka, ini bertalian dengan kondisi lokal setiap penutur nama makanan ini. Misalnya, nama ades, ampyang, bongko, rarawuan, wiwingka, dsb.
Merujuk pada paparan tersebut, penamaan ewe deet bersifat manasuka. Penamaan itu berdasarkan pada ekspresi kenikmatan ketika camilan tersebut dikunyah. Rasa manis dari gula cair dan gurih kelapa membuat pengunyahnya merasakan nikmat luar biasa.
(orb/orb)