Jerat Manis di Balik Luka, Kisah Gadis Sukabumi Melawan Trauma TPPO

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Rabu, 21 Okt 2026 18:00 WIB
Foto: Ilustrasi perdagangan orang/prostitusi (Fuad Hashim/detikcom)
Sukabumi -

Duduk bersandar dengan pandangan yang sesekali tertunduk lesu, Mawar (17, bukan nama sebenarnya) mencoba merangkai kembali pecahan ingatan yang paling ingin ia lupakan. Usianya belum genap dewasa, namun raut wajah remaja asal Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, itu menyimpan beban trauma yang teramat berat.

Hari-hari Mawar sebelumnya lebih banyak dihabiskan di rumah tanpa kegiatan rutin. Jejak luka akibat perundungan oleh teman-temannya saat duduk di bangku kelas dua SMP membuatnya memilih putus sekolah. Ketiadaan ijazah dan desakan ekonomi keluarga membuatnya rentan terhadap bujuk rayu pihak luar.

Pintu masuk lingkaran petaka itu terbuka pada sebuah Senin di pertengahan Agustus. Seorang perempuan kenalannya, berinisial I, datang menawarkan pekerjaan.

Janjinya terdengar manis bagi seorang remaja putus sekolah, bekerja mengasuh anak dan asisten rumah tangga dengan tawaran upah menggiurkan.

"Ayo kerja katanya, jadi ART ngasuh. Ya udah kalau jelas, ayo langsung berangkat," tutur Mawar mengenang awal mula dirinya terbujuk saat menceritakan awal mula kisahnya kepada detikJabar, Rabu (21/10/2026).

Janji upah yang disampaikan I terbilang fantastis untuk ukuran pekerja pemula. Hal itu yang kemudian membuat Mawar tergiur.

"(Dijanjikan gaji) Rp 6 juta. Kalau udah naik nanti katanya Rp 15 juta," tuturnya.

Dengan restu orang tua yang berharap putrinya mendapat penghidupan layak, Mawar melangkah menuju Bekasi. Ia tidak pernah menduga bahwa langkah itu justru membawanya ke dalam jerat tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

Realitas berbanding terbalik begitu ia menjejakkan kaki di sebuah kontrakan di kawasan Pedurenan, Bekasi. Di bangunan dua kamar itu, tidak ada balita yang perlu diasuh. Mawar justru diserahkan ke tangan seorang pria berinisial S dan komplotannya.

Posisi Mawar kian rapuh lantaran telepon genggam miliknya rusak dan mati total. Jalur komunikasi ke dunia luar terputus seketika, ia tak mampu mengabarkan keberadaannya kepada keluarga, apalagi meminta pertolongan.

"(Bawa HP) cuman mati HP-nya, konektornya susah. Jadi enggak bisa ngabarin keluarga, mati total," ungkapnya.

Tanpa diberi jeda untuk memulihkan tenaga usai menempuh perjalanan malam, eksploitasi langsung dimulai. Mawar diperintahkan bersiap melayani seorang pria di sebuah hotel.

"Langsung kerja gitu. Langsung ditawarin katanya 'Ayo langsung ada panggilan'. Nolak sih awalnya, kaget banget. Terus kata dia, 'Diam aja, jangan banyak ngomong,'" kenang Mawar.

Penolakan dan tangisan Mawar malam itu sia-sia. "Sempat nolak, nangis, tetap aja dipaksa," lirihnya.

Kehormatan yang ia jaga direnggut paksa malam itu dengan transaksi senilai Rp 900.000. Namun, selembar rupiah pun tak sampai ke tangannya.

"Langsung ke aku dulu, terus langsung si S diambil. Enggak dapat apa-apa, enggak dapat uang waktu itu," ucap Mawar.

Selama sebulan penuh, kontrakan itu menjadi bilik penyekapan tanpa jeruji besi. Mawar dipaksa melayani pria hidung belang dari hotel ke hotel dengan frekuensi yang tak manusiawi.

"(Melayani tamu) sehari kadang lima, kadang empat, kadang tiga," ujarnya.

Bahkan saat tubuhnya lunglai dan didera rasa sakit, eksploitasi tersebut tak pernah berhenti. "Harus, dipaksa. Udah (menolak dan menangis) tapi tetap dipaksa," sambungnya.

Keberanian Berbisik dan Tekad Keluarga Menuntut Keadilan

Titik balik penderitaan Mawar hadir di tengah kelengahan pelaku. Suatu hari, S mengalami cedera pada kakinya dan mengajak Mawar menemaninya menjalani pengobatan urut ke kediaman seorang warga setempat berinisial G.

Melihat celah itu, Mawar memberanikan diri berbisik kepada G. "Awalnya mau masas (pijat) sama S ke rumah Teh G. Kata Teh G, 'Kamu mau pulang ya? Aku bantuin nanti'. 'Boleh Kak, mau pulang aku'," tutur Mawar.

G kemudian mengabarkan pengakuan Mawar kepada para pemuda dan warga sekitar. Warga setempat bergerak cepat mengamankan situasi, menindak pelaku, dan mengeluarkan Mawar dari pusaran sindikat tersebut. Tak berselang lama, kerabat korban datang menjemput dan membawanya pulang ke Sukabumi.

Kini Mawar telah kembali ke pangkuan keluarganya di Sukabumi. Kendati raga telah bebas, proses pemulihan trauma panjang masih membentang di hadapannya.

Pihak keluarga menegaskan tidak akan tinggal diam atas kejahatan yang menimpa putri mereka. Didampingi kerabat, keluarga bertekad membawa kasus ini ke meja hukum dengan mendatangi kantor polisi untuk membuat laporan resmi.

Mereka mendesak aparat penegak hukum segera menangkap dan memproses seluruh jaringan pelaku yang terlibat mulai dari perekrut awal hingga penampung agar keadilan bagi korban dapat ditegakkan seadil-adilnya.

Dihubungi terpisah, Kasat Reskrim Polres Sukabumi Iptu Dudi Suharyana mengaku telah menerima laporan korban. Saat ini pihaknya masih melakukan pemeriksaan.

"Sudah, korban sudah membuat laporan. Kami masih melakukan penyelidikan dan permintaan keterangan sejumlah pihak," singkatnya.



Simak Video " Video Polisi Beri Terapi Psikologis ke Pengungsi Gempa NTT di Ngada"

(sya/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork