Hidup Tri Atini berubah drastis setelah penyakit gagal ginjal stadium akhir menghampirinya. Perempuan asal Desa Gunungsari, Kecamatan Sukagumiwang, Kabupaten Indramayu, itu sempat berada pada kondisi ketika berjalan saja harus dengan bantuan orang lain.
Namun, keterbatasan tersebut tidak membuat Tri menyerah. Di tengah kewajiban menjalani hemodialisis dua kali dalam sepekan, perlahan ia kembali menata kehidupannya. Kini, Tri sudah mampu beraktivitas secara mandiri, mengendarai sepeda motor, bepergian, bahkan mengembangkan usaha.
Sebelum jatuh sakit, Tri pernah bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) di Taiwan. Kondisi kesehatannya yang semakin menurun membuat majikannya memutuskan memulangkannya ke Indonesia.
Berdasarkan catatan medis, Tri mengalami chronic kidney disease end stage on HD. Kondisi tersebut disertai sejumlah gangguan lain, di antaranya hipertensi, anemia renal, gastritis, ascites, serta asma bronkial akut.
Masa itu menjadi salah satu fase paling berat dalam hidupnya. Bukan hanya fisiknya yang melemah, kondisi tersebut turut memengaruhi mental dan semangatnya.
Harapan mulai tumbuh ketika Tri bertemu Bripka Rusmanto, anggota Polri yang bertugas di Polsek Kota Indramayu, Polres Indramayu.
Di luar jam dinas, Rusmanto memberikan pendampingan kepada Tri. Bukan hanya berupa dukungan batin, tetapi juga penguatan mental, perubahan pola pikir, doa, serta dorongan agar Tri tetap memiliki semangat untuk menjalani kehidupan.
Pendampingan itu berjalan beriringan dengan penanganan medis. Tri tetap menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala dan menjalani hemodialisis dua kali setiap pekan.
Bagi Tri, dukungan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam prosesnya untuk kembali bangkit. Perlahan, ia mulai berani menjalani aktivitas sehari-hari tanpa selalu mengandalkan bantuan orang lain.
Kini, ruang geraknya pun semakin luas. Ia sudah kembali menikmati aktivitas di luar rumah, termasuk bepergian dan berjalan-jalan.
"Pokoknya dibuat senang saja. Jalan-jalan ke mal. Sekarang saya bahkan sudah punya usaha sendiri, berjualan kue sampai terima jastip barang luar negeri," ujar Tri kepada detikJabar, Jumat (4/9/2026).
Perubahan itu menjadi capaian tersendiri bagi Tri. Di tengah kondisi kesehatan yang masih mengharuskannya menjalani cuci darah, ia memilih untuk tetap produktif dan membangun kemandirian.
Bripka Rusmanto menekankan bahwa pendampingan mental dan spiritual yang dilakukannya tidak dimaksudkan untuk menggantikan pengobatan medis.
Menurutnya, penguatan mental dan spiritual justru menjadi pelengkap bagi pasien yang sedang menghadapi persoalan kesehatan berat. Sebab, penyakit kronis tidak hanya memberikan dampak terhadap kondisi fisik, tetapi juga dapat memicu kecemasan, tekanan psikologis, hingga persoalan ekonomi.
"Saya tetap menempatkan tugas negara sebagai nomor satu. Saya melakukan terapi menolong orang sakit hanya ketika lepas dari jam dinas," tegas Rusmanto, yang telah mengabdi lebih dari dua dekade di institusi kepolisian.
Selama berada di Indramayu, Rusmanto juga dikenal aktif dalam sejumlah kegiatan sosial. Ia pernah terlibat dalam penemuan situs kuno Sambimaya pada 2019.
Pada awal 2026, ia juga tercatat menginisiasi pengerahan ekskavator menggunakan dana pribadi untuk membantu penanganan banjir di Perumahan Margalaksana.
Perjalanan Tri memperlihatkan bahwa hidup dengan penyakit berat bukan berarti harus berhenti melangkah. Di tengah rutinitas cuci darah yang masih harus dijalani, ia kembali menemukan ruang untuk berkarya, bersosialisasi, dan membangun penghasilan.
Bagi Tri, bangkit bukan berarti penyakitnya telah hilang. Bangkit adalah ketika ia kembali mampu menjalani hidup dengan lebih mandiri dan tidak membiarkan keterbatasan menentukan seluruh masa depannya.
(yum/yum)