Rahasia Cobek Hitam dan Manisnya Rezeki Tahu Gejrot Asim di Kuningan

Rahasia Cobek Hitam dan Manisnya Rezeki Tahu Gejrot Asim di Kuningan

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Senin, 31 Agu 2026 10:00 WIB
Tahu Gejrit Asim
Tahu Gejrot Asim (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar)
Kuningan -

Matahari tepat berada di atas kepala saat Asim (53) menyandarkan gerobak pikulnya di tepian Jalan Raya Jalaksana Manis Lor, Kabupaten Kuningan. Di tengah bising kendaraan yang melintas, pria paruh baya ini tetap tenang melayani pembeli, jemarinya lincah meracik bumbu di atas cobek tanah liat yang menghitam.

Sambil mengulek, Asim mulai membuka lembaran ceritanya. Sebelum setia dengan pikulan tahu gejrotnya, ia sempat mengadu nasib di belantara Jakarta. Namun, panggilan untuk dekat dengan keluarga dan tuntutan ekonomi yang kian mendesak membawanya pulang ke tanah kelahiran 16 tahun silam. Kuningan pun dipilihnya sebagai tempat menyambung hidup.

"Asalnya dari Cirebon, sudah 16 tahun jualan tahu gejrot di sini. Dulu kerja merantau di Jakarta. Awal jualan itu di Cibulan. Saat itu di sana masih ramai, belum ada tukang tahu gejrot," tutur Asim.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masa-masa awal di kawasan wisata Cibulan adalah masa keemasan bagi Asim. Kala itu, tahu gejrot racikannya menjadi primadona bagi para pelancong. Dalam sehari, ia bisa meraup omzet hingga satu juta rupiah. Stok tahu yang ia bawa seringkali ludes sebelum matahari terbenam.

ADVERTISEMENT

"Dulu mah dua bisa kali ngambil tahu. Pagi jam 8 habis, ambil lagi terus jual lagi di Cibulan Sampai jam 5 habis lagi. Bisa 100 porsi habis Bawa tahu sampai 800 biji lebih. Satu juta mah dapet ya kalau Lebaran sama waktu liburan," tutur Asim.

Namun, roda kehidupan terus berputar. Seiring menjamurnya pedagang serupa di kawasan wisata tersebut, pendapatan Asim perlahan menyusut. Persaingan yang kian ketat memaksanya memutar otak hingga akhirnya ia memutuskan untuk berpindah lokasi ke pinggir jalan raya sejak tiga tahun lalu.

"Sebabnya karena banyak yang mengikuti, jadi banyak yang juga pada pedagang tahu gejrot di situ. Dulu kan di Cibulan nah Mangkal di sini baru 3 tahun. Menurun sekarang paling habis 30 porsi sekitar Rp 300 ribuan sehari. Harganya Rp 10.000 per porsi. Buka dari jam 8 pagi sampai 5 sore," tutur Asim.

Tahu Gejrot AsimTahu Gejrot Asim Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar

Meski omzetnya tak lagi sedahsyat dulu, Asim pantang menyerah. Ia tetap menjaga kualitas rasa dengan teknik yang unik. Salah satu rahasianya terletak pada wadah atau cobek tanah liat yang ia gunakan. Berbeda dengan cobek biasa yang berwarna merah, cobek milik Asim berwarna hitam pekat karena melalui proses pembakaran khusus dengan gula merah.

Menurutnya, proses ini bukan sekadar estetika, melainkan cara agar cairan manis gurih dari bumbu tahu gejrot bisa meresap sempurna ke dalam pori-pori wadah, menciptakan aroma dan rasa yang lebih dalam.

"Kan pertamanya beli pas dibeli kan masih merah. Digosok lagi pakai gula, terus dibakar lagi. Ini kan pakai gula matang jari biar matang menyerap. Gula merah tuh ditembuskan ke dalam. Buat saat dipakai itu cita rasanya jadi lebih sedap dan meresap, kan tahu gejrot pakai gula merah juga," tutur Asim.

Keaslian rasa itu kian terjaga karena Asim mengharamkan penggunaan bahan pengawet kimia. Kuah cokelat yang menggoda selera itu murni hasil perpaduan gula merah cair, bawang putih, bawang merah, garam, asam jawa, dan cabai. Hasilnya adalah sensasi manis, pedas, dan gurih yang menyatu dalam tekstur tahu yang kenyal.

Di balik setiap ulekan bumbu dan peluh yang menetes, ada kebahagiaan sederhana yang dirasakan Asim. Dari hasil berjualan tahu gejrot inilah, ia berhasil membesarkan ketiga buah hatinya.

"Alhamdulillah. Semuanya tamat SMA dan sudah kerja semua. Tapi Yang bungsu mau lanjut dikuliahkan katanya," pungkas Asim dengan nada syukur.



(dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads