Terik matahari di pertengahan Juli 2026 ini seolah memanggang tanah di Blok Pasir Torok, Desa Cikawung, Indramayu. Bagi Carka, pria senja berusia 68 tahun, musim kemarau bukan sekadar siklus alam tahunan. Ia adalah penanda dimulainya perjuangan fisik yang lebih berat demi menyambung hidup dan memadamkan dahaga.
Lahan di tempat tinggal Carka merupakan kawasan tadah hujan. Artinya, napas pertanian di sana sangat bergantung pada langit. Padi hanya bisa tumbuh sekali setahun saat musim penghujan tiba. Kini, ketika kemarau merajai, sawah-sawah berubah menjadi hamparan tanah retak yang membisu, memaksa para petani seperti Carka memutar otak agar dapur tetap mengepul.
Di sebuah gubuk sederhana di tengah kawasan Perhutani, Carka menghabiskan hari-harinya seorang diri. Meski anak dan istrinya menetap di bagian lain desa tersebut, ia memilih bertahan di sana demi menjaga lahan garapannya. Namun, karena sawah tak lagi bisa diandalkan, Carka mengalihkan pandangannya ke aspal panas Jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) yang membelah wilayah tersebut.
Setiap hari, ia menyisir tepian jalan tol, mencari botol plastik atau barang rongsokan yang dibuang pengguna jalan. Inilah "panen" alternatifnya saat musim kering.
"Kalau musim kemarau saya cari botol bekas dan rongsokan di jalan tol. Lumayan ditimbang setiap lima hari atau satu minggu sekali, dapat sekitar Rp70 ribuan," tutur Carka kepada detikJabar, beberapa hari lalu.
Uang yang tak seberapa itu menjadi tumpuan tunggalnya. Namun, urusan perut bukan satu-satunya beban. Akses air bersih menjadi momok yang menguras tenaga rentanya. Saat debit air tanah menyusut, pompa bor milik warga sering kali hanya mengeluarkan angin.
Kondisi ini memaksa Carka melakukan ritual "ngangsu"-memikul air menggunakan jeriken 20 liter dari balai desa. Jaraknya memang hanya 10 menit perjalanan, namun bagi pria seusianya, berkali-kali memikul beban berat di bawah sengatan matahari adalah ujian fisik yang nyata.
"Kalau lagi nggak ada air, saya sampai ngangsu pakai dua jeriken. Biasanya ke balai desa, jaraknya sekitar 10 menit dari sini. Bolak-balik terus sampai beberapa kali, sampai bak mandi penuh, dan sampai stok minum dan lainnya terpenuhi," ujarnya.
Di tengah peliknya hidup, secercah harapan muncul beberapa hari lalu. Melalui program Rumah Terang dari BAZNAS RI, wilayah Pasir Torok mulai mendapatkan akses penerangan lewat panel surya. Kini, kegelapan malam tak lagi sepekat dulu bagi warga yang selama ini minim akses listrik.
Meski cahaya lampu kini sudah menerangi gubuknya, persoalan mendasar tentang air bersih dan penghasilan tetap membayangi keseharian Carka. Baginya, memunguti botol bekas di pinggir Tol Cipali adalah satu-satunya siasat sederhana untuk tetap bertahan, setidaknya sampai awan hitam kembali membawa hujan dan menghidupkan kembali sawah yang kini mati suri.
Simak Video "Video: Siap-siap! Awal Musim Kemarau di Indonesia Dimulai Juli"
(dir/dir)