Menjelang malam, ketika lampu-lampu mulai menyala di berbagai sudut Kabupaten Indramayu, suasana berbeda justru menyelimuti Blok Pasir Torok, Desa Cikawung, Kecamatan Terisi. Selama puluhan tahun, kegelapan menjadi bagian dari kehidupan sekitar 300 warga yang bermukim di kawasan terpencil di tengah hutan milik Perhutani itu.
Tak ada tiang listrik yang berdiri. Tak ada sakelar yang bisa dinyalakan ketika matahari tenggelam. Yang menemani malam hanyalah cahaya redup dari cempor atau lampu minyak yang perlahan menghabiskan solar di dalamnya.
Carka (68) menjadi salah satu saksi panjang kehidupan tanpa listrik di kampung itu. Selama lebih dari 20 tahun, ia tinggal di rumah sederhana seorang diri, menggantungkan hidup dari menggarap lahan hutan yang luasnya tak sampai satu hektare.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah 25 tahun saya tinggal di pemukiman di sini. Gak ada listrik di sini, air juga susah, nyawah juga gak ada air, gagal panen terus," tuturnya kepada detikJabar, saat ditemui pada Kamis (9/7/2026).
Bagi Carka, listrik bukan satu-satunya persoalan. Air bersih justru menjadi kebutuhan yang sama sulitnya untuk dipenuhi. Sawah yang digarapnya berkali-kali gagal panen karena kekurangan air.
Di daerah tersebut, padi dan tanaman lainnya hanya bisa ditanami satu kali dalam satu tahun, yakni saat musim tanam "rendeng" alias saat musim hujan. Keinginan untuk pindah ke tempat yang lebih layak pernah muncul, tetapi kondisi ekonomi membuatnya memilih bertahan.
Bagi warga Pasir Torok, malam hari identik dengan nyala api kecil dari lampu minyak. Bukan sekadar penerangan, tetapi simbol keterbatasan yang telah mereka jalani selama bertahun-tahun.
Inah (56), yang telah menetap selama 25 tahun di kampung itu, mengatakan setiap dua hari sekali ia harus membeli satu liter solar untuk menghidupkan cempor. "Mau gimana lagi kondisinya seperti itu. Karena penerangan hanya dari cempor. Cempor itu lampu minyak, lampu damar, soalnya di sini gak ada listrik," katanya, belum lama ini
Pengeluaran untuk membeli solar menjadi beban tambahan bagi warga, yang sebagian besar bekerja sebagai petani dengan penghasilan yang tidak menentu.
Persoalan lain yang tak kalah berat adalah ketersediaan air bersih. Saat musim hujan, warga mengandalkan kubangan tadah hujan sebagai sumber air. Air tersebut diangkut menggunakan ember atau galon menuju rumah masing-masing. Meski keruh, air itu tetap digunakan untuk mandi, mencuci pakaian, bahkan memenuhi kebutuhan sehari-hari karena tidak ada pilihan lain.
Di musim kemarau, kondisi menjadi lebih sulit. Persediaan air dari sumur bor semakin terbatas, sementara kebutuhan hidup tidak pernah berhenti. Harapan akhirnya datang ketika Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI menghadirkan Program Rumah Terang.
Sebanyak 103 rumah dan satu masjid dipasangi instalasi panel surya. Untuk pertama kalinya, warga Pasir Torok dapat menikmati penerangan listrik di rumah mereka.
Ketua BAZNAS RI, Sodik Mudjahid, mengatakan program tersebut merupakan hasil pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah masyarakat. Secara nasional, Baznas menargetkan pemasangan panel surya di 452 rumah, dengan Pasir Torok menjadi lokasi pertama pelaksanaan program tersebut.
Ia berharap kehadiran listrik dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, mulai dari kesempatan belajar anak-anak hingga produktivitas warga dalam bekerja. Namun, bagi warga, hadirnya listrik bukan berarti seluruh persoalan selesai.
Kepala Desa Cikawung, Sept Rahayu, mengakui masih banyak persoalan dasar yang harus diselesaikan di Pasir Torok. Selain listrik, warga masih membutuhkan akses air bersih dan jalan yang memadai.
Lokasi permukiman yang berada di tengah kawasan hutan membuat pembangunan infrastruktur tidak mudah dilakukan. Di sisi lain, sebagian warga juga belum memiliki administrasi kependudukan sesuai domisili sehingga berpotensi tidak terdata sebagai penerima berbagai program bantuan pemerintah.
Pemerintah desa terus mendorong warga untuk segera mengurus dokumen kependudukan agar hak mereka atas pelayanan publik dapat terpenuhi. Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Indramayu, Ahmad Syadali, mengaku baru mengetahui masih adanya permukiman di wilayahnya yang belum menikmati aliran listrik.
Menurutnya, kondisi tersebut akan menjadi bahan evaluasi pemerintah daerah agar pembangunan tidak hanya terpusat di wilayah yang mudah dijangkau. Di balik cerita tentang panel surya yang akhirnya menyala, Pasir Torok masih menyimpan pekerjaan rumah yang belum selesai. Air bersih, jalan yang layak, akses pendidikan, hingga kepastian administrasi kependudukan masih menjadi kebutuhan mendasar yang dinantikan warga.
Bagi Carka dan ratusan warga lainnya, cahaya listrik memang telah datang setelah penantian selama puluhan tahun. Namun mereka berharap, perhatian terhadap kampung kecil di tengah hutan itu tidak ikut padam setelah lampu-lampu mulai menyala.
(iqk/iqk)
