Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kemarau panjang pada 2026. Kondisi cuaca ekstrem yang dipicu fenomena El Nino diperkirakan mulai berdampak pada wilayah Ciamis sejak Juni ini.
Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah wilayah di Ciamis bahkan mulai jarang diguyur hujan. Kondisi tersebut menjadi perhatian BPBD karena dikhawatirkan memicu kekeringan dan krisis air bersih di sejumlah daerah rawan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Pelaksana BPBD Ciamis Ani Supiani mengatakan, berdasarkan data Kajian Risiko Bencana (KRB) tahun 2023, terdapat sekitar 20 kecamatan di Ciamis yang masuk kategori rawan kekeringan saat musim kemarau tiba.
Namun dari jumlah tersebut, ada tiga kecamatan yang hampir setiap tahun mengalami kesulitan air bersih, yakni Kecamatan Banjarsari, Banjaranyar, dan Pamarican.
"Wilayah yang paling rutin membutuhkan suplai air bersih itu Banjarsari, Banjaranyar, dan Pamarican. Totalnya mencakup sekitar 15 desa," ujar Ani, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, pola musim kemarau tahun ini diprediksi tidak jauh berbeda dengan kondisi ekstrem yang terjadi pada 2023 lalu. Saat itu, BPBD Ciamis harus mendistribusikan sekitar dua juta liter air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan.
Ani menjelaskan, meski saat ini hujan masih sesekali turun, kondisi tersebut merupakan bagian dari anomali cuaca. Sementara berdasarkan prediksi BMKG, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang.
"Awalnya musim kemarau diprediksi mulai Mei. Kalau sekarang masih ada hujan, itu karena anomali cuaca. Prediksi BMKG, puncak kemarau terjadi Agustus," katanya.
Belajar dari penanganan tahun sebelumnya, BPBD Ciamis kini menyiapkan pola distribusi air yang lebih efektif agar penyaluran bantuan tidak terhambat.
Masyarakat di daerah rawan pun diminta mulai menyiapkan tempat penampungan air bersama atau penampungan komunal di lingkungan masing-masing.
"Kami mengimbau daerah rawan seperti Banjarsari, Banjaranyar dan Pamarican agar menyiapkan penampungan air di wilayahnya," kata Ani.
Ia menilai distribusi air secara door to door menggunakan jeriken kecil memerlukan waktu lebih lama dan membuat wilayah lain harus menunggu giliran bantuan.
"Jangan sampai distribusi masih dilakukan satu per satu ke rumah warga memakai wadah kecil. Itu memakan waktu cukup lama, sementara daerah lain juga membutuhkan pasokan air bersih," jelasnya.
BPBD Ciamis juga memastikan koordinasi kesiapsiagaan sudah dilakukan bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Bahkan, sosialisasi penanganan kekeringan telah digelar secara daring dan diikuti OPD serta para camat se-Jawa Barat.
Untuk mendukung penanganan di lapangan, BPBD Ciamis saat ini menyiagakan empat unit mobil tangki air. Armada tersebut nantinya akan diperkuat bantuan kendaraan dari PDAM Ciamis apabila kebutuhan distribusi air bersih meningkat.
"Logistik dan armada sudah kami siapkan. Mudah-mudahan saja kondisi kekeringan tidak terlalu parah," pungkas Ani.
Simak Video "Video: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Rekor Suhu Terpanas Pecah"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
