Kisah Sumur Warak, Mata Air Keramat di Balik Nama Sukaurip

Kisah Sumur Warak, Mata Air Keramat di Balik Nama Sukaurip

Burhanudin - detikJabar
Selasa, 07 Jul 2026 10:00 WIB
Sumur Warak, sumber mata air dengan bangunan persegi seluas 6x6 meter ini berada di depan Balai Desa Sukaurip, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu.
Sumur Warak, sumber mata air dengan bangunan persegi seluas 6x6 meter ini berada di depan Balai Desa Sukaurip, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu (Foto: Burhanudin/detikJabar).
Indramayu -

Di balik ketenangan Desa Sukaurip, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, terdapat sebuah sumur tua yang hingga kini masih menyimpan kisah turun-temurun. Sumur Warak, yang menjadi sumber mata air alami bagi warga, tidak hanya dimanfaatkan sebagai penyedia air bersih, tetapi juga dikenal sebagai bagian dari sejarah dan budaya masyarakat setempat.

Berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 6 x 6 meter, Sumur Warak diyakini telah ada saat pertama kali terdapat pedukuhan di wilayah tersebut. Bagi warga, keberadaannya tak bisa dilepaskan dari cerita rakyat yang menjadi asal mula nama Desa Sukaurip.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tokoh masyarakat sekaligus mantan pamong desa, Aosari (58), menuturkan bahwa legenda tersebut berkisah tentang Pangeran Surantaka, Dewi Nawang Wulan, dan Elang Kuning. Kisah cinta yang berujung pengorbanan itu dipercaya menjadi bagian penting dalam sejarah lahirnya desa.

Menurut cerita yang diwariskan secara lisan, Dewi Nawang Wulan semula dipersunting oleh Pangeran Surantaka. Namun, Elang Kuning yang juga mencintainya kemudian menculik sang putri dan berusaha menjadikannya sebagai istri. Dewi Nawang Wulan memberikan syarat yang berat, yakni Elang Kuning harus membawa kepala Pangeran Surantaka sebagai bukti cintanya.

ADVERTISEMENT

Pangeran Surantaka yang dikenal memiliki kesaktian tinggi memilih mengorbankan dirinya. Setelah Surantaka gugur, Elang Kuning berhasil menikahi Dewi Nawang Wulan. Namun, pernikahan tersebut tidak menghadirkan kebahagiaan karena Dewi Nawang Wulan terus dirundung kesedihan atas kematian suaminya.

Melihat kondisi putrinya, sang ayah, Pageden Tepak, meminta bantuan Ki Arsitem, seorang tokoh setempat yang dikenal sakti, untuk menemukan kembali kepala dan jasad Pangeran Surantaka. Keduanya kemudian dipersatukan dan Surantaka dipercaya dapat hidup kembali.

Aosari menjelaskan proses menghidupkan kembali Pangeran Surantaka dilakukan dengan cara menyiramkan air dari Sumur Warak. Prosesi itu diyakini berlangsung di bawah pohon soka yang berada di samping sumur tersebut.

"Dari peristiwa itulah muncul nama "Sokaurip", yang seiring waktu berkembang pelafalannya menjadi Sukaurip," ujar Aosari kepada detikJabar, saat ditemui di kediamannya, Senin (6/7/2026).

Hingga kini, Sumur Warak tetap menjadi salah satu lokasi yang dihormati masyarakat. Selain menjadi sumber mata air, sebagian warga juga meyakini air dari sumur tersebut memiliki nilai spiritual dan dipercaya dapat membantu penyembuhan berbagai penyakit.

Salah seorang warga setempat, Idlhar Al-Ghifari (25), menceritakan bahwa saat bulan Muharam dan momen-momen tertentu, warga berbondong-bondong memanfaatkan air dari Sumur Warak untuk kehidupan sehari-hari.

"Ada yang sekadar membasuh anggota tubuh, ada yang nyuci motor, ada yang sampai nimba pakai wadah besar terus dibawa ke rumah buat keperluan dapur," kata Idlhar kepada detikJabar.

Bagi masyarakat Desa Sukaurip, Sumur Warak bukan sekadar peninggalan masa lalu. Keberadaannya menjadi simbol warisan budaya yang terus dijaga sebagai pengingat akan sejarah, legenda, dan identitas desa agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Tradisi Tarawih Kilat di Ponpes Indramayu, 23 Rakaat Tuntas 6 Menit"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads