Pemkot Bandung sedang menggagas sebuah wacana Kawasan ekonomi Khusus (KEK) untuk ekonomi digital di area Asia Afrika. Kawasan ini diproyeksikan menjadi basis perusahaan blockchain yang bergerak di bidang ekonomi digital.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, KEK ekonomi digital sedang disiapkan berada di kawasan Asia Afrika, tepatnya dari daerah Cicaheum hingga ke Cibeureum. Proyeksi ini kata Farhan sejalan dengan rencana reaktivasi Bandara Husein Sastranegara yang bakal dibuka kembali secara resmi pada 14 Agustus 2026.
"Kalau kawasan ekonomi khusus kan kita kebayangnya fisik ya, nah kalau ini justru kita ingin membangun kawasan yang fisik tapi virtual. Fisiknya adalah kita akan mengembangkan yang namanya kawasan finansial Asia Afrika dari Cicaheum sampai Cibeurem. Di mana di situ nanti kita akan dorong untuk masyarakat atau pebisnis dan investor yang ingin mengembangkan blockchain untuk keuangan digital atau digital currency," kata Farhan, Sabtu (8/8/2026).
Farhan menyadari, wacana KEK tersebut membutuhkan dukungan infrastruktur yang kuat. Kebetulan, Kota Bandung bakal ditunjang dengan moda transportasi massal yang memadai seperti Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya, Bandara Husein, termasuk pasokan listrik dari PSEL Legok Nangka.
"Jadi, apabila memang ada investor yang mau membangun data center di Kota Bandung pun memungkinkan. Kenapa? Karena iklim Kota Bandung yang lebih sejuk dibanding Karawang, Bekasi dan lain-lain. Membuat data center itu akan lebih hemat listrik untuk pendingin data center. Ini peluangnya ada, besar," ucapnya.
"Di area yang saya sebut sebagai KEK Finansial Asia Afrika dari Cicaheum sampai Cibeurem ini, ini kan baru visi nih. Itu bisa dibangun tuh gedung-gedung tinggi sebagai tempat data center untuk membangun blockchain, infrastruktur blockchain. Itu yang kita harapkan," tambahnya.
Wacana ini kata Farhan diusulkan berdasarkan Undang-undang Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) yang baru disahkan Juli 2026. Wacana ini sempat ditawarkan ke beberapa daerah oleh pemerintah pusat, dan Kota Bandung langsung menyambut usulan tersebut.
"Ini adalah kawasan ekonomi khusus keuangan dalam rangka menarik para investor dunia menjadikan Indonesia sebagai hub keuangan internasional. Jadi ada tiga pilar yang penting yaitu capital access, digital, dan inovasi digital dan inovasi keuangan," bebernya.
"Tentu saja akan ada insentif pajak, ditambah satu lagi infrastruktur Kota Bandung yang sangat matang. Untuk bisa menjadi PFII, Bandung ada perguruan tinggi-perguruan tinggi terbaik bahkan internasional. Jadi untuk merekrut orang-orangnya dengan sangat mudah terlibat," tutur Farhan.
Wacana ini kata Farhan, diproyeksikan realisasinya pada 2030 mendatang. Sejumlah investor dari luar negeri pun Farhan klaim sudah siap terlibat seperti Tiongkok, Taiwan hingga Dubai, Uni Emirat Arab.
Selain KEK Keuangan Digital, Farhan juga punya proyeksi mengembangkan kawasan ekonomi Pasar Baru. Setelah Bandara Husein beroperasi, Farhan menginginkan wisata belanja di area itu tidak hanya terjadi pada pada hingga sore, namun juga hingga malam hari.
"Kita lagi mengembangkan sebuah konsep di mana malam sekalipun Pasar Baru tetap hidup. Bisa kuliner, bisa merchandising. Tapi yang pasti sesuai dengan janji saya kepada Pak Gubernur, jalan-jalan seputaran Jalan Otista itu akan kita perbaiki dengan cepat. Seperti Jalan Tamim, jalan belakang pasar, Jalan Pecinan lama, Jalan ABC, Suniaraja, semua kita akan muluskan dulu. Nah, kenapa Otista tidak dimuluskan Karena Otista akan masuk ke dalam paket perbaikan infrastruktur BRT oleh pemerintah pusat, khususnya Kementerian PU," pungkasnya.
Simak Video "Memborong Pakaian Murah di Pasar Gede Bage, Bandung"
(ral/dir)