Passion Jadi Profesi ala Gen Z di Bandung

Firyal Hanan Maulida - detikJabar
Selasa, 31 Mar 2026 06:30 WIB
Gurita House. (Foto: Doumentasi Pribadi)
Bandung -

Bagi sebagian besar anak muda, khususnya Gen Z, hobi sering kali dianggap sebagai pelarian dari penatnya rutinitas. Namun, di tangan mereka yang jeli melihat celah, kesenangan pribadi bisa bertransformasi menjadi unit bisnis yang menjanjikan.

Fenomena ini bukan lagi sekadar tren, melainkan pembuktian bahwa gairah kreatif jika dikelola dengan konsistensi bisa menghasilkan nilai ekonomi yang nyata.

Inilah yang menjadi fondasi berdirinya Gurita House, sebuah toko bunga yang kini mulai mewarnai Kota Bandung. Berlokasi di Jalan Gempol, Kota Bandung, bisnis ini resmi menyapa publik pada pertengahan November 2025. Mengusung konsep kesegaran dan estetika, Gurita House menawarkan ragam pilihan mulai dari fresh flowers hingga artificial flowers.

Berawal dari Ketertarikan Masa Kecil

Rita, sang pemilik Gurita House, adalah representasi Gen Z yang berani mengambil langkah besar tak lama setelah lulus dari bangku SMA. Kecintaannya pada bunga bukanlah hal baru. Ia telah jatuh hati pada kelopak-kelopak cantik dan seni merangkai sejak kecil.

"Awal mulanya berawal dari ketertarikan yang pastinya. Karena aku suka bunga, aku senang dengan kerajinan, crafting, dan warna-warna yang menarik. Makanya menurut aku bisnis bunga ini salah satu bisnis yang bisa bikin aku happy," ungkap Rita saat ditemui oleh detikJabar.

Bagi Rita, bunga bukan sekadar komoditas, melainkan bahasa universal untuk berbagai emosi manusia. Ia melihat peluang bisnis ini sangat awet karena bunga selalu hadir dalam setiap fase kehidupan manusia.

"Momen bunga itu pasti akan hadir di berbagi perasaan setiap orang, kaya ulang tahun, graduation, maaf sebelumnya ada yang meninggal, dan lain-lain. Makanya menurut aku bunga itu adalah suatu bisnis yang memang long lasting," tambahnya.

Perjalanan Rita membangun Gurita House tidak didapat dari sekolah formal. Ia membangun kemampuannya secara otodidak melalui tutorial di YouTube dan media sosial, dibarengi dengan observasi langsung ke pasar-pasar dan kebun bunga.

"Aku belajar otodidak, aku belajar dari Youtube, dari sosial media, dan lain-lain. Observasi ke pasar bunga, ke kebun bunga. Nah sampai akhirnya ketika tahun 2025. Aku mendirikan house ku ini. Aku mulai untuk belajar yang memang lebih serius dengan pakar-pakar bunga. Dengan klien-klien, bahkan relasi-relasi kebun bunga sendiri," kenang Rita.

Kini, operasional bisnisnya terbagi menjadi dua pilar utama untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Gurita Bouquet difokuskan untuk pelatihan kelas bagi mereka yang ingin belajar merangkai bunga. Sementara itu, Gurita House lebih difokuskan untuk pemesanan bunga dan melayani mereka yang ingin belajar merangkai secara private dengan waktu yang fleksibel melalui sistem reservasi.

Dipo, pengelola Gurita House, menambahkan dimensi lain dari bisnis bunga ini bagi generasi muda. Menurutnya, merangkai bunga bisa menjadi media ekspresi karakter dan perasaan seseorang. Lebih dari itu, aktivitas ini memiliki dampak positif bagi kesehatan mental.

"Itu sebenarnya bisa jadi me time, terus bisa jadi stress release juga. Karena kalau misalnya kita ngerangkai sendiri, kita tuh jadi fokus masalah-masalah kita tuh bisa kayak escape lah gitu. Apalagi buat orang yang suka bunga, aromanya dan visualnya yang cantik itu sangat relieving," tutur Dipo saat berbincang dengan detikJabar.

Tantangan Menciptakan Permintaan

Membangun bisnis baru tentu bukan tanpa hambatan. Dipo mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini adalah membangun brand awareness dan pengelolaan inventori, terutama untuk bunga segar yang memiliki daya simpan terbatas.

"kalau artificial flowers secara inventori lebih gampang karena nggak akan layu. Tapi kalau fresh flower ada masanya. Tantangannya adalah ketika ada customer yang ingin pesan dadakan dan langsung kirim, stok bunga harus lengkap. Tapi kalau stok lengkap dan nggak keluar, itu jadi kerugian. Jadi sistem inventori harus sangat efisien supaya nggak ada bahan baku yang wasted," jelas Dipo.

Gurita House memberikan fleksibilitas pesanan custom seharga Rp100.000 hingga Rp1.000.000, tergantung ukuran, jumlah, serta jenis bunga seperti Tulip impor seharga Rp100.000 satu tangkai. Untuk menjaga perputaran stok tersebut, mereka aktif memanfaatkan pemasaran digital di media sosial guna menciptakan permintaan, terutama pada momen tertentu seperti Lebaran atau Valentine.

Pesan Konsistensi untuk Anak Muda

Sebagai pelaku usaha dari Gen Z, Rita memahami betul adanya keraguan atau kelabilan yang sering melanda saat ingin memulai sesuatu. Namun, kuncinya bagi Rita hanya dua, kesukaan dan konsistensi.

"berawal dari yang kamu suka dulu. Kalau kamu suka, seberat apapun pasti akan bikin kamu happy dan tidak terbebani. Selanjutnya konsisten, karena kalau tidak konsisten, akan sangat sulit untuk kita berkembang," tutup Rita.

Gurita House tidak hanya menjadi tempat menjual bunga, tetapi juga menjadi bukti bahwa di tangan Gen Z, hobi yang ditekuni dengan hati bisa merekah menjadi bisnis yang menghidupi.




(orb/orb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork