Riwayat Sentra Stempel Cikapundung di Tengah Transformasi Digital

Riwayat Sentra Stempel Cikapundung di Tengah Transformasi Digital

Shifa Lupiah Ajijah - detikJabar
Sabtu, 28 Mar 2026 12:00 WIB
Sentra stempel di Cikapundung, Kota Bandung.
Sentra stempel di Cikapundung, Kota Bandung. (Foto: Shifa Lupiah Ajijah/detikJabar)
Bandung -

Di sudut Jalan ABC, tepatnya di kawasan Cikapundung, Kota Bandung, deretan lapak gerobak masih bertahan di sepanjang trotoar. Namun, aktivitas alat ukir dan mesin laser kini tidak seintens periode sebelumnya.

Sentra Stempel Cikapundung, yang telah lama menjadi tujuan utama pembuatan stempel dan papan nama di Jawa Barat, kini berada di masa transisi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi Rijka (33), lapak stempel adalah warisan keluarga yang dikelolanya. Rijka telah menekuni profesi ini selama lebih dari sepuluh tahun, meneruskan usaha ayahnya yang sudah merintis di lokasi tersebut sejak lama.

"Saya mah nerusin yang si Bapak sih. Bapak mah sudah puluhan tahun, 20 tahun lebih mungkin," ujar Rijka saat ditemui detikJabar belum lama ini.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan ingatan para perajin, pusat stempel di kawasan ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1979. Dahulu, kawasan Cikapundung merupakan permukiman warga sebelum akhirnya berkembang menjadi kawasan komersial seperti sekarang.

"Dulu mah sebelum ada gedung, ini permukiman, teh. Bapak di sini, terus dipindahin ke lokasi ini," kenang Rijka.

Sentra ini sempat mengalami masa produktivitas tinggi pada era 2010-an. Namun, kehadiran marketplace dan toko daring memberikan dampak signifikan terhadap ekosistem usaha. Rijka mengakui adanya penurunan omzet dibandingkan periode sebelumnya.

"Turun atuh omzetnya. Hampirlah 40-30 persenan. Dulu mah sering stempel tiap hari dapat 10, 5, sekarang mah susah, 1-2 juga," keluh Rijka.

Perbedaan harga menjadi salah satu faktor pelanggan beralih ke platform digital. Di lapak Cikapundung, sebuah stempel memiliki standar harga tertentu, sementara di toko daring harganya bisa lebih kompetitif.

"Kalau di sini harganya 100, di online 50 gitu. Setengahnya, hampir setengahnya," jelas Rijka.

Meski menghadapi tantangan digitalisasi, Sentra Cikapundung masih tetap bertahan. Faktor pendukung kelangsungan usaha mereka terletak pada kepercayaan pelanggan dari instansi besar yang sudah menjalin kerja sama selama bertahun-tahun.

"Langganan mah ada aja, teh. Perusahaan tuh nggak mau nyari yang lain, udah masuk nama kita, tokonya gitu," kata Rijka.

Instansi seperti Itenas hingga UPI masih rutin memesan berbagai produk selain stempel, seperti huruf timbul dan plakat akrilik.

"Itenas, Tahura, UPI itu langganan juga. UPI mah bikin plakat, kalau Itenas banyakan huruf," tambahnya.

Sentra Stempel Cikapundung menjadi potret bagaimana sektor tradisional berupaya beradaptasi. Rijka kini mulai memanfaatkan platform digital seperti Instagram dan TikTok melalui akun @rr_reklame untuk menjaga relevansi usahanya.

"Harapannya pengen kayak dulu lagi sih Teh, rame lagi. Tapi kan susah sekarang mah zamannya emang harus online sih," tutup Rijka.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads