Kisah Innerchild: Studio Kreatif Bandung yang Gandeng Gen Z

Kisah Innerchild: Studio Kreatif Bandung yang Gandeng Gen Z

Adi Mukti - detikJabar
Selasa, 28 Apr 2026 06:30 WIB
Kondisi ruang kerja Innerchild.
Kondisi ruang kerja Innerchild. (Foto: Adi Mukti/detikJabar)
Bandung -

Kreativitas sering membawa peluang yang tidak disangka. Alih-alih mengambil jalan formal dengan melamar ke perusahaan swasta atau nasional, industri kreatif kini menjadi pilihan menarik bagi Generasi Z yang memiliki referensi visual unik dan modern. Industri ini menghasilkan berbagai produk fisik maupun digital seperti komik, buku bergambar, novel, hingga poster.

Buku bergambar dan komik menjadi media edukasi anak yang efektif. Namun, tantangannya adalah menghadirkan visual baru yang interaktif. Kehadiran Gen Z sebagai pekerja kreatif membawa ide yang lebih segar mengikuti perkembangan zaman. Industri kreatif yang diisi anak muda ini juga menjadi incaran banyak penerbit dan institusi pemerintahan dalam menyusun konsep visual, salah satunya Innerchild.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Innerchild merupakan industri kreatif yang berfokus pada pembuatan ilustrasi seperti sampul buku anak, komik, novel, hingga buku gambar. Studio kreatif ini bertempat di kediaman pribadi milik Dwi Prihartono. Dwi, selaku pendiri Innerchild, membangun bisnis ini dengan penuh ambisi dan melibatkan Gen Z dalam setiap proses kreatifnya.

Awal Berdiri dan Tantangan COVID-19

"Saya mula bekerja itu antara tahun 2000 atau 2001. Alhamdulillah belum sempat nganggur, tapi saya langsung kerja, tapi saya dalam perjalanan kuliah. Sampai selesai itu. Saya merintis kan. Merintis itu kerja apalah yang bisa kita kerjakan Sebagai illustrator gitu ya waktu itu alhamdulillah saya jalani itu tawaran itu. Mulai berkembang kan, saya bikin nama internet, nah logo ini tercipta," ujar Dwi kepada detikJabar.

ADVERTISEMENT

Dalam perjalanan kariernya, Dwi mulai menggeluti dunia kreatif pada tahun 2000. Ia beberapa kali berganti profesi dan sempat bekerja di salah satu penerbit besar. Hingga pada 2009, sembari menuntaskan kuliahnya, Dwi mendirikan studio animasinya sendiri bernama Innerchild. Bersama istrinya, Dwi membangun Innerchild dengan penuh dedikasi.

"Zaman 2009 sampai sebelum Covid lah. Normal 40 project kan setiap bulan, nah pas Covid kita drop, kurang-lebih karena memang klien-klien merangkak juga, ya. Waktu itu antara 15 sampai 20 kurangnya hampir Setengahnya kurang lebih. Saya bisa bertahan. Di sisi pribadi saya tidak pernah membedakan klien kan. Tidak pernah membedakan klien dari situlah, tapi justru itu menyelamatkan kita di saat Covid kemarin. Mereka yang penjualannya lebih bagus justru," kata Dwi.

Perjalanan Innerchild tidak selalu mulus. Ketika pandemi Covid-19 melanda, proyek yang masuk mengalami penurunan jumlah cukup drastis. Dwi memahami pada masa itu hampir semua sektor usaha mengalami kesulitan. Namun, Innerchild tetap bertahan hingga sekarang. Dwi menyadari satu hal penting dalam membangun studio kreatif. Ia tidak pernah menyepelekan setiap peluang atau tawaran yang datang.

"Kita ditawarin Kebudayaan. Dan semua kita ditawarin kerjaannya, BIMTEK-nya, meeting, dan sebagainya. Alhamdulillah sejauh ini udah bekerja sama dengan kementerian nasional juga. Kita terlibat dalam pekerjaan proyek dari Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) terutama waktu itu tahun 2015, Kantor Direktorat Masyarakat Adat ya bersama yang untuk daerah itu kita mengerjakan dari kantor Kantor Balai Bahasa," ungkapnya.

Sebagai industri kreatif yang berbasis di Jalan Sragen, Antapani Kidul, Kota Bandung, studio ini telah bekerja sama dengan banyak lembaga negara. Nilai yang dipegang Dwi dengan menyambut antusias semua tawaran serta sikap tanggap dalam berkomunikasi, mendatangkan kesempatan yang lebih luas, salah satunya dari Kantor Balai Bahasa. Keunikan Innerchild terletak pada stafnya yang didominasi anak muda dengan ide dan keahlian inovatif.

"Karena memang saya pengen klien tuh melihat Innerchild itu muda-muda ya, lebih agresif dari segi konsep dan ide, serta akselerasinya bagus gitu. Jadi lebih meng-eksplore stream. Jadi yang jelas saya pribadi belajar dari mereka pun dengan zaman mereka, kan kita harus adaptasi gitu ya. Jadi akhirnya mah saya harus belajar dari mereka kadang-kadang saya ngobrol sama mereka," ujarnya.

Ide dan Kontribusi Segar Gen Z di Innerchild

Ia melihat potensi Generasi Z yang mempunyai ide inovatif mengikuti tren saat ini. Dwi juga mengaku banyak belajar dari anak-anak muda yang menggeluti dunia kreatif tersebut. Kehadiran Gen Z di Innerchild membawa perubahan signifikan, terutama dari segi output seperti animasi dan tata letak sampul buku.

Anak-anak muda di Innerchild sebagian merupakan pemagang dari kampus atau siswa Praktik Kerja Lapangan (PKL). Namun, sebagian dari mereka kini telah dikontrak secara profesional oleh Innerchild.

"Gimana caranya maintenance klien itu. Caranya ya update lah. Seperti ini kang. Dari masing-masing tim. Dari format In-house Magang PKL dan sebagainya. Kalau yang PKL ternyata Itu mereka Ini kan studi ya. Sangat berbeda kang. Karena memang kita harus adaptasi Tidak mungkin Selamanya pakai gaya saya kan. Tapi saya harus men-direct karena saya punya Klien yang Saya harus arahkan ke mereka." Ujarnya.

Sebagai industri animasi rumahan, Innerchild mempercayakan ide dan kreativitas kepada Gen Z. Dwi menegaskan tidak akan berhenti merekrut anak muda dengan ide segar demi membesarkan nama Innerchild sebagai studio kreatif yang tepercaya dan diandalkan banyak pihak.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads