Gen Z Bandung Sulap Sate Merah Jadi Cuan Jutaan Rupiah

Gen Z Bandung Sulap Sate Merah Jadi Cuan Jutaan Rupiah

Firyal Hanan Maulida - detikJabar
Minggu, 19 Apr 2026 06:30 WIB
Sate Bakarjo Bandung
Sate Bakarjo Bandung (Foto: Firyal Hanan Maulida/detikJabar)
Bandung -

Lidah seolah punya memori otomatis setiap kali wangi gurih sate menyapa indra penciuman; rasa lapar langsung datang seketika. Sate bukan sekadar makanan, ia adalah ritual malam hari yang berhasil menghangatkan suasana. Ada kepuasan tersendiri saat melihat kepulan asap, menunggu tusukan daging matang sempurna sambil menanti perpaduan rasa yang meresap.

Kecintaan pada sepiring sate inilah yang sering kali memicu adrenalin para pecinta kuliner untuk tak sekadar menjadi penikmat, tetapi juga mencoba peruntungan di dunia bisnis kecil-kecilan. Di tengah kawasan Citarum, Bandung, muncul sebuah gerobak yang membawa rasa berbeda, sebuah keberanian dari sosok muda yang percaya bahwa sate bisa naik kelas tanpa kehilangan jati dirinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fenomena ini menarik ketika kita melihat bagaimana Gen Z, yang sering dicap sebagai generasi serba instan, justru memilih untuk bekerja keras di depan panggangan panas dan pekatnya asap demi sebuah orisinalitas rasa. Bukan sekadar mengikuti arus tren, tetapi berani membuat resep dari nol, mengubah kegagalan eksperimen di dapur menjadi sebuah produk yang memiliki identitas.

Di balik kepulan asap Sate Bakarjo, ada narasi tentang seorang anak muda yang tidak hanya ingin memberi makan perut yang lapar, tetapi juga ingin memberikan warna baru di tengah ribuan tusuk sate yang beredar di Kota Bandung.

ADVERTISEMENT

Sejak November 2025, kawasan Citarum kedatangan penghuni baru yang kini mulai menjadi incaran para pencari kuliner malam. Sate Bakarjo, yang beroperasi setiap hari mulai pukul 17.30 hingga tengah malam, menawarkan harga yang bersahabat di kantong, yaitu Rp1.800 per tusuk untuk sate ayam, serta Rp2.000 untuk sate kulit dan jando.

Nata Wijaya, sang pemilik, memulai bisnis ini bukan karena iseng, melainkan karena kejeliannya melihat tingginya permintaan pasar akan sate asin pedas khas Bandung. Namun, ia tak ingin sekadar menjadi pengikut tren yang sudah ada.

"Sebenarnya awal mula aku merintis Bakarjo ini karena aku melihat peluang pasar sate di Bandung itu peminatnya banyak, orang Bandung tuh cinta banget sama sate asin pedas. Tapi, Bakarjo hadir sebagai inovasi baru. Kami punya menu andalan sate merah yang rasanya cenderung manis pedas, ada juga menu sate asin pedas yang udah akrab di lidah warga. Kami juga menyediakan jando dan kulit untuk melengkapi pilihan," ujar Nata saat ditemui oleh detikJabar belum lama ini.

Keberanian Berinovasi dengan Sate Merah

Sate Bakarjo BandungSate Bakarjo Bandung Foto: Firyal Hanan Maulida/detikJabar

Memperkenalkan rasa baru di kota yang sudah punya standar kuliner tinggi seperti Bandung butuh nyali besar. Nata memilih "Sate Merah" sebagai jagoannya, sebuah menu yang masih jarang ditemukan di deretan kuliner kaki lima Bandung yang biasanya didominasi bumbu kacang atau asin pedas saja.

"Aku tuh sebenarnya lebih ya itu yang tadi aku coba berani berinovasi dan aku coba ngeluarin menu yang gak biasa gitu, mungkin di Bandung ada beberapa cuman engga banyak gitu dan untuk tendansi food ini kayaknya masih belum ada gitu, mungkin ya," jelasnya

Nata bukanlah seseorang yang bisa memasak. Ia mengaku tidak memiliki latar belakang di dunia F&B. Namun, semangat khas Gen Z yang haus akan informasi membuatnya belajar secara otodidak, memanfaatkan teknologi untuk meracik resep yang kini dicintai pelanggannya.

"Gagal, pasti ada sih. Aku tuh background-nya enggak ada di dunia F&B. Aku tuh enggak bisa masak sebenarnya cuman karena aku mau coba terus, aku bereksperimen dan pada saat itu aku membuat sate merah gitu, based on internet dan ya video di Youtube dan segala macem. Aku R&D terus gitu ya. Pertama-pertama mungkin rasanya masih aneh masih ya gak cocok lah, setiap harinya setiap ada customer datang, aku nanya kurangnya apa biar aku lebih bisa memaksimalkan sate merah ini dan alhamdulillahnya mungkin sekarang udah final production sate merah dari Bakarjo, udah bisa dimakan di Bakarjo," kata Nata.

Keberanian Nata berinovasi ternyata membuahkan hasil yang cukup manis bagi bisnis yang baru seumur jagung. Di balik kepulan asapnya, Sate Bakarjo mencatatkan angka pertumbuhan yang stabil. Setiap harinya pada hari kerja, Nata menyiapkan stok sekitar 400 tusuk sate. Jumlah ini melonjak hampir dua kali lipat saat akhir pekan, di mana ia harus menyiapkan 700 hingga 800 tusuk untuk memenuhi antusiasme pembeli. Kerja keras meracik sate dari sore hingga tengah malam ini sukses menghasilkan omzet yang menjanjikan, yakni berkisar di angka Rp10 juta hingga Rp12 juta per bulannya.

Kini, Bakarjo mulai dikenal karena keunikannya. Sate merahnya menjadi magnet bagi mereka yang bosan dengan rasa sate yang itu-itu saja. Nata berhasil menciptakan niche sendiri di tengah ketatnya persaingan kuliner malam di Bandung.

"Responsnya oke positif. Mereka ngerasa sate di Bakarjo itu nice dibanding sate yang lain, terutama di sate merahnya. Jadi orang-orang tuh apa sih, kadang mesti nanya sate merah tuh gimana sih. Jadi aku mau jelasin, sate merah itu sate yang dominannya lebih ke manis pedas. Itu asalnya bukan dari Bandung, sebenernya dari Jogja cuman dimodifikasi dengan lidah Bandung," tambah Nata

Kunci Eksistensi dan Pesan untuk Pengusaha Muda

Ke depannya, Nata sudah menyiapkan kejutan menu baru yang masih ia rahasiakan. Baginya, kunci agar bisnis sate tetap relevan di tengah persaingan bukan hanya soal rasa di piring, tetapi juga tentang bagaimana brand tersebut berbicara di jagat digital melalui konsistensi inovasi.

Nata memberikan semangat bagi mereka yang masih ragu untuk memulai langkah di dunia bisnis. Baginya, status sebagai pemilik meski dalam skala kecil adalah sebuah pencapaian yang membanggakan.

"Kuncinya ada di media sosial. Attachment orang-orang di sosial media tuh harus tahu kalau sate kita itu ada, dan kita harus selalu berinovasi, gak bisa terus dengan menu yang sama. Buat teman-teman gen Z, jangan takut untuk mencoba karena umur kalian masih panjang ada jatah buat gagal, meskipun usaha kalian kecil kalian tuh owner nya," pungkas Nata

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads