Fenomena ekonomi yang kian menantang mendorong masyarakat mencari alternatif penghasilan di luar pekerjaan formal. Persaingan kerja yang semakin ketat, ditambah keterbatasan lapangan kerja di Indonesia, membuat banyak orang mulai melirik usaha mandiri sebagai sumber pemasukan harian.
Generasi Z (Gen Z) sebagai kelompok usia yang dominan dinilai memiliki potensi besar dalam menciptakan model bisnis yang kreatif dan inovatif. Namun, di balik potensi tersebut, muncul tantangan berupa kecenderungan mengikuti tren sesaat atau fear of missing out (FOMO), yang kerap membuat usaha tidak berkelanjutan.
Iksan, seorang pengusaha muda yang mengembangkan pasar kontemporer sekaligus pelaku di industri kreatif, membagikan pandangannya terkait fenomena tersebut. Selain mengelola usaha, ia juga aktif di sebuah agensi di Jakarta yang bergerak di bidang Key Opinion Leader (KOL).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aku di Jakarta punya agensi yang fokus di KOL. Jadi kalau ada brand yang ingin mengembangkan usahanya, aku bisa bantu karena memang latar belakangku di agensi," ujar Iksan.
Ia menilai, banyak anak muda memulai usaha dari hobi atau minat pribadi. Tidak sedikit pula pelaku UMKM dari kalangan Gen Z yang memanfaatkan jasanya. Menurutnya, tujuan usaha sangat menentukan arah pengembangannya.
Jika hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, berjualan di lokasi ramai seperti pasar temporer atau car free day sudah cukup efektif. Namun, jika ingin membangun usaha jangka panjang, diperlukan perencanaan yang lebih matang.
"Kalau tujuannya untuk penghasilan harian, cari tempat ramai itu sudah cukup. Tapi kalau ingin membangun merek untuk jangka panjang, harus dipikirkan lebih serius," katanya.
Iksan menekankan pentingnya memahami identitas dan nilai dari produk yang dijual. Menurutnya, edukasi kepada konsumen menjadi kunci agar merek dapat dikenal luas.
"Orang harus tahu dulu kita jual apa. Tidak mungkin orang membeli sesuatu tanpa tahu produknya. Dari situ baru bisa berkembang dan menghasilkan," jelasnya.
Ia juga mengakui pernah mengalami kegagalan dalam berbisnis karena tidak memahami produk yang dijual. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting baginya.
"Kalau hanya ikut tren, waktunya bisa terbuang. Kecuali memang sekadar iseng. Tapi kalau ingin serius, menurutku itu kurang bijak," ujarnya.
Fenomena FOMO, menurut Iksan, sering kali membuat anak muda terburu-buru dalam mengambil keputusan bisnis tanpa perhitungan matang. Padahal, tidak semua tren menjanjikan keuntungan jangka panjang.
"Kalau memang paham produknya, silakan dijalankan. Tapi kalau hanya ikut-ikutan tren, biasanya sulit bertahan. Lebih baik fokus pada hal yang benar-benar disukai agar menjalaninya juga lebih nyaman," tuturnya.
Di akhir, Iksan berpesan agar para pelaku UMKM, khususnya generasi muda di Jawa Barat, tidak terburu-buru dalam memulai usaha.
"Pesannya sederhana, jangan terburu-buru. Pikirkan matang-matang sebelum memulai usaha. Jangan sampai karena FOMO, akhirnya bingung di tengah jalan," pungkasnya.
(yum/yum)










































