Menjaga Nyala Literasi dan Ruh Kertas di Tengah Gempuran Era Digital

Menjaga Nyala Literasi dan Ruh Kertas di Tengah Gempuran Era Digital

Nedzar Rabbany El Haq - detikJabar
Sabtu, 24 Okt 2026 12:00 WIB
Perpustakaan Pitimoss di Bandung
Perpustakaan Pitimoss di Bandung (Foto: Nedzar Rabbany El Haq/detikJabar)
Bandung -

Di sebuah sudut ruangan, Rangga menggenggam buku di tangannya. Matanya fokus tertuju pada lembaran buku bertema fiksi.

Satu halaman selesai, jemari tangannya kemudian membalikkan lembaran buku ke halaman lain. Suasana tenang di ruangan itu, membuatnya lebih rileks dan fokus pada buku bacaan di tangannya.

Rangga merupakan satu di antara pengunjung yang datang ke toko Pitimoss Fun Library, sebuah oase literasi di tengah Kota Bandung tepatnya di Jalan Banda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rangga bukanlah orang baru di toko tersebut. Sejak 2022 silam, dia sudah menjadi 'bagian' dari keluarga toko buku tersebut.

Di tengah era teknologi dan modernitas, apa yang dilakukan Rangga tergolong langka. Alasan sederhana terucap dari mulut pria 24 tahun itu.

ADVERTISEMENT

"Tangan memegang kertas itu rasanya lebih enak. Kalau digital terasa kurang, tidak ada sensasi hidupnya," kata Rangga kala berbincang dengan detikJabar, Jumat (23/10/2026).

Pitimoss seolah jadi 'rumah kedua' bagi Rangga. Dalam sepekan, 5 hari di antaranya tak pernah absen untuk datang membaca buku.

Novel bergenre roman hingga fiksi jadi favorit Rangga. Terlebih buku karya penulis Pidi Baiq yang tersohor akan karya berjudul 'Dilan' itu.

Bagi Rangga, perpustakaan bukan sekadar ruang menyimpan buku. Lebih dari itu, ia dapat berinteraksi sesama pengunjung dan kedekatan dengan penjaga toko buku.

"Energi bukunya lebih kuat. Saya juga bisa menambah relasi dan bertanya-tanya ke pelanggan lain," tutur Rangga.

Keberadaan Pitimoss Fun Library di tengah Kota Bandung seolah menjadi ruang ekspresi bagi pecinta literasi. Sejak tahun 2003, Pitimoss tetap bertahan di era gempuran kecerdasan buatan saat ini.

Koleksi bukunya tak main-main. Sebanyak 91.132 buku tersimpan rapi di rak yang berderet. Banyak koleksi buku dari mulai komik, novel hingga buku pengetahuan umum lainnya.

Meski aktivitas membaca buku saat ini terbilang langka, namun Pitimoss seolah memiliki magnet tersendiri. Jumat siang itu, banyak orang yang datang untuk sekadar membaca dan mencari buku.

Melintasi Zaman, Melawan Arus Digital

Pitimoss lahir dari tangan empat sekawan yang memutuskan untuk menggabungkan koleksi buku pribadi mereka. Hafidz, Kepala Toko Pitimoss Fun Library, mengenang bahwa misi utama mereka adalah membuka pintu bagi mereka yang memiliki keterbatasan biaya untuk membeli buku baru.

Namun, mengelola puluhan ribu buku fisik di tengah perubahan zaman adalah tantangan besar. Hafidz mencatat bagaimana tren kunjungan sempat goyah ketika teknologi mulai mengambil alih perhatian masyarakat.

"Pengunjung mulai turun semenjak ponsel Blackberry keluar. Namun pascapandemi COVID-19, trennya mulai naik lagi. Orang-orang merasakan sensasi yang berbeda jika datang ke perpustakaan fisik," ucap Hafidz.

Perpustakaan Pitimoss di BandungPerpustakaan Pitimoss di Bandung Foto: Nedzar Rabbany El Haq/detikJabar

Kini, cara orang menemukan buku pun berubah. Jika dulu diskusi hangat dan sinopsis menjadi rujukan utama, sekarang tren di media sosial menjadi kompas bagi pengunjung dalam mencari judul tertentu. Profil pembaca pun bergeser, jika dulu didominasi seragam sekolah, kini mayoritas pengunjung berada di rentang usia 20 hingga 35 tahun.

Meski format digital menawarkan kepraktisan, Pitimoss tetap teguh merawat tumpukan kertas mereka. "Kami ingin melestarikan fisik bukunya, bukan sekadar aktivitas membacanya," ujar Hafidz.

Seni Merawat dan Aturan Main

Menjaga kelestarian lebih dari 91 ribu buku bukanlah perkara mudah. Setiap buku baru wajib mengenakan 'baju zirah' berupa sampul plastik transparan.

"Bagi pencinta buku ini agak menyakitkan. Namun kami tidak bisa menebak cara orang membuka buku. Tanpa sampul, jilidan gampang lepas," tutur Hafidz.

Setiap minggu, para petugas berjibaku membersihkan rak secara bergiliran. Mereka menyortir buku yang mulai 'lelah' atau yang rusak ditarik ke gudang untuk diperbaiki atau diganti dengan unit baru. Aturan ketat pun diberlakukan: perusak buku dikenakan denda, sementara yang menghilangkan buku wajib menggantinya dengan judul yang sama.

Menariknya, koleksi karya Pramoedya Ananta Toer menjadi primadona sekaligus yang paling rawan hilang. Untuk mengantisipasi keterlambatan pengembalian, pengelola menerapkan sistem teguran bertahap, mulai dari pesan singkat selama tujuh hari, panggilan telepon, hingga menghubungi kontak darurat penyewa.

Pitimoss juga terus bersolek. Setiap minggu, judul-judul baru selalu hadir mengisi rak. Mereka bahkan menyediakan situs web agar pengunjung bisa memantau antrean peminjaman. Jika buku yang dinanti sudah kembali, petugas akan segera memberi kabar.

Perpustakaan Pitimoss di BandungPerpustakaan Pitimoss di Bandung Foto: Nedzar Rabbany El Haq/detikJabar

Pintu Masuk Menuju Kebiasaan

Pitimoss sengaja menonjolkan buku-buku hiburan seperti komik dan novel. Menurut Hafidz, buku-buku ringan adalah 'pintu masuk' yang paling efektif bagi mereka yang belum terbiasa membaca.

Guna memikat generasi muda, perpustakaan yang beroperasi setiap hari pukul 09.00 hingga 20.00 WIB ini rutin menggelar program baca gratis setiap hari Minggu.

"Target utamanya agar anak-anak sekitar mau main dulu ke sini," kata Hafidz.

Lebih dari sekadar tempat transaksi sewa-menyewa, Hafidz bermimpi Pitimoss bisa memberikan dampak sosial yang nyata, di mana memegang buku kembali menjadi rutinitas yang lumrah di tengah masyarakat.

"Saya ingin orang membaca buku bukan sekadar performatif atau untuk gaya-gayaan. Membaca harus menjadi hal yang biasa," ucap Hafidz.

Bagi pembaca seperti Rangga, setiap helai kertas di Pitimoss menawarkan ketenangan yang tak bisa diberikan oleh cahaya biru layar ponsel. Selama masih ada jemari yang rindu membalik halaman, Pitimoss akan terus berdiri di Jalan Banda, menjaga api literasi tetap menyala.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "OJK Perluas Literasi Keuangan hingga Ujung Selatan Indonesia"
[Gambas:Video 20detik] (dir/dir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads