Stoples bekas yang sudah tak terpakai ternyata bisa disulap menjadi kerajinan yang menarik hati di tangan anak-anak yatim binaan Kedai Imah Suri, Bandung. Selain mengasah kreativitas anak, kerajinan akan dijual kepada pelanggan dan penghasilan dimasukkan ke dalam buku tabungan mereka sendiri.
Jalan Terusan Sutami menjadi lokasi rumah kedua bagi sejumlah anak yatim untuk mengenal dan meningkatkan kompetensi diri. Gagasan awal Imah Seuri dirintis oleh Zaehanan, seorang motivator sekaligus public speaker yang peduli pada nasib anak yatim. Sejak 2010, Imah Seuri telah hadir membantu anak-anak yatim agar memiliki keterampilan serta ruang untuk mengembangkan kreativitas.
"Kalau denger istilah anak yatim pasti yang terbesit dalam pikiran lebih banyak kisah sedihnya. Dinamakan Imah Seuri harapannya bisa menghadirkan senyuman dan membuat anak-anak gembira. Jadi mereka harus sering berbagi tertawa di sini," ujar Wad selaku penjaga Kedai Imah Seuri saat diwawancarai, Kamis (22/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aktivitas anak-anak yatim di Kedai Imah Seuri dijadwalkan setiap akhir pekan. Sejak pukul delapan pagi, sebanyak total 25 anak yatim usia dini hingga tingkat sekolah menengah pertama akan memadati rumah yang dipenuhi berbagai hiasan. Kegiatan pertama yang akan mereka lakukan adalah menyetor hafalan Al-Quran.
Setelah selesai, anak-anak akan disediakan peralatan untuk membuat kerajinan tangan. Bagi mereka yang lebih tertarik untuk mendalami ilmu tata boga, Kedai Imah Seuri juga mengajarkan anak-anak memasak dan membuat minuman kekinian layaknya kopi hingga matcha.
"Kalau akhir pekan mereka suka ikut nyajiin makanannya juga supaya bisa ngobrol sama pelanggan. Tujuannya untuk melatih agar mereka tidak kaku berbicara sama orang lain dan jadi terbiasa bertemu orang baru," ucap Wad lebih dalam.
Walau tidak tinggal bersama, anak-anak yatim binaan Kedai Imah Seuri selalu kompak dalam urusan mendoakan orang tua yang telah tiada. Selain itu, terkadang anak-anak binaan diajak untuk mengadakan siaran langsung di TikTok sehingga mic di ruang tengah sontak akan dikerubungi oleh mereka.
Wad mengonfirmasi bahwa seluruh kegiatan yang diselenggarakan oleh Kedai Imah Seuri murni sebagai wadah pengembangan diri anak yatim. Maka dari itu, segala keuntungan yang dihasilkan dari penjualan kerajinan tangan akan dijadikan sebagai tabungan bagi masing-masing anak binaan.
"Uangnya kita tabung di sini ada ditandai dengan nama mereka masing-masing. Jadi kalau tiba-tiba ada keperluan buat sekolah bisa diambil. Karena kalau langsung kita kasih uangnya takut habis hanya untuk jajan saja," tutur Wad sambil tertawa mengenang tingkah anak-anak.
Kedai Imah Seuri Foto: Siti Nurhaliza |
Wad bahkan bercerita bahwa beberapa anak berhasil mengumpulkan tabungan untuk digunakan sebagai biaya plesiran ke luar kota. Kegiatan jalan-jalan ini merupakan upaya menambah wawasan sekaligus sebagai pengalaman baru bagi anak-anak yatim.
Siang itu Wad tidak sendirian di kedai. Rupanya ia ditemani oleh Yandi, pemuda usia 19 tahun yang turut membantu Wad mengurus Kedai Imah Seuri. Yandi yang juga merupakan seorang anak yatim bercerita bahwa ia telah bergabung sejak 2022.
"Dulu sebelum ke sini, saya tinggal di sebuah yayasan. Karena enggak betah di situ jadinya aku kabur. Aku hubungi Imah Seuri dan kemudian ikut kerja di sini," tutur Yandi saat ditanyai soal pengalamannya.
Yandi kembali bercerita bahwa kegiatan sehari-hari dihabiskan olehnya di dapur. Nasi goreng merupakan menu andalannya. Sementara itu menurut Wad, Yandi merupakan spesialis matcha di sana. Selain bermain di dapur, Yandi juga kerap menghabiskan waktu bersama teman-teman lain di akhir pekan.
Ketika ditanyai mengenai tantangan mengelola Kedai Imah Seuri, Wad mengungkapkan mereka kerap kesulitan mencari sarana dan prasarana bagi kegiatan komersial barang hasil kreativitas anak-anak. Saat ini, Kedai Imah Seuri masih mengandalkan event tertentu agar kerajinan karya anak yatim bisa diakui oleh banyak orang.
"Kami ingin kedai ini terus hidup dan semakin ramai. Pertama, agar biaya kebutuhan anak-anak bisa terbantu dari hasil penjualan. Kedua, kami berharap ada acara-acara yang bisa mengundang kami karena sangat membutuhkan kesempatan untuk terus memperkenalkan hasil karya anak-anak. Jadi, hasil karya mereka tidak hanya menumpuk di sini, tetapi bisa dikenal lebih luas. Anak-anak juga jadi lebih semangat berkarya karena punya kebanggaan tersendiri, bisa bilang bahwa itu hasil karya mereka. Hal-hal seperti itu yang bisa membangkitkan semangat mereka untuk terus maju dan mengembangkan usahanya," ujarnya.
(yum/yum)

