Di balik deretan kios semipermanen yang mulai berdebu di Pasar Buku Palasari, Kota Bandung, Hendri (49) tak lagi bisa sekadar duduk memangku tangan menunggu pembeli singgah. Ketika lorong-lorong pasar tampak lengang, jemarinya sigap mengoperasikan gawai memotret tumpukan buku bekas, lalu mengunggahnya ke toko daring.
"Pola jualan sudah saya ubah. Dulu saya ke sini murni menunggu orang beli. Sekarang, kalau tidak ada orang datang, saya langsung posting buku secara online," ujar Hendri.
Sudah 30 tahun Hendri melakoni profesi sebagai pedagang buku di Palasari, meneruskan usaha yang dirintis oleh orang tuanya. Ia paham betul masa kejayaan era 1980 hingga 1990-an, ketika buku fisik menjadi sumber utama informasi dan hiburan. Kini, gelombang digitalisasi dan perubahan pascapandemi telah mengubah perilaku konsumen secara drastis.
Hendri mengibaratkan keengganan pembeli datang langsung ke Palasari serupa dengan pergeseran gaya hidup masa kini. "Orang sekarang beli sembako ke toko depan saja lebih milih nyuruh ojek online, apalagi beli buku," katanya memberi perumpamaan.
Ironisnya, di tengah lesunya transaksi tatap muka dan bayang-bayang wacana revitalisasi pasar yang mengancam identitas Palasari, Hendri justru menemukan fenomena menarik dari geliat literasi generasi muda yang datang ke kiosnya.
Berburu Madilog dan Sensasi Wangi Kertas Tua
Meski media sosial dan e-book membanjiri keseharian, Hendri mencatat adanya anomali kebangkitan minat baca dengan bobot bacaan yang kian kritis di kalangan anak muda. Tak sedikit dari mereka yang sengaja datang ke Palasari membawa daftar buruan khusus, mencari literatur sejarah hingga karya-karya pemikiran berat.
"Justru sekarang anak muda bacaannya meningkat. Ada yang nyari buku-buku sayap kiri seperti Madilog, ada juga yang cari karya Pramoedya. Kadang dalam beberapa minggu, orang-orang pada kompak nyari buku-buku itu semua," tutur Hendri seraya tersenyum.
Bagi para pembeli muda dan kolektor, ketersediaan buku fisik di Palasari menawarkan sensasi organik yang tak sanggup direplikasi oleh layar gawai. "Ada tipe pencinta buku sejati yang kalau memegang buku lama itu dicium. Katanya, wangi cetakan lama itu beda. Feel dan teksturnya dapat," ucapnya.
Di luar para kolektor, Palasari juga masih menjadi tumpuan mahasiswa tingkat akhir. Hendri bercerita bahwa banyak mahasiswa yang awalnya diwajibkan oleh kampus untuk menggunakan e-book. Namun, pada tahap akhir penyusunan skripsi, keluhan mata lelah membuat mereka kembali mencari literatur fisik.
"Banyak yang ujung-ujungnya pas akhir untuk skripsi, e-book kan enggak digunakan semua karena mata lelah. Jadi tetap diperlukan buku fisik dan larinya ke sini," kata Hendri.
Dari Lapak Sayur Menjadi Gudang Daring
Bertahannya Palasari hingga hari ini tentu tidak terlepas dari rentetan sejarah panjangnya. Hendri mengenang kembali wujud awal Palasari pada dekade 1980-an yang masih murni pasar tradisional. Kala itu, kios-kios buku masih berupa bangunan kayu yang berdiri menumpang tepat di atas lapak penjual sayur, sebelum akhirnya insiden kebakaran memaksa mereka direlokasi ke tata letak yang ada sekarang.
Kini, hantaman ekonomi pascapandemi kembali menguji daya tahan pasar ini. Situasi sepi membuat sebagian pedagang senior di Palasari menyerah pada pola konvensional dan mengubah fungsi lapaknya.
"Iya, ada yang tutup, tapi ada yang online di rumah. Jadi memang fisiknya tutup, tokonya di sini enggak ada aktivitas, cuma dijadikan gudang saja untuk kirim barang," ujar Hendri.
Ancaman di Balik Wacana Gedung Bertingkat
Di tengah perjuangan mati-matian beradaptasi dengan pasar digital, terselip kekhawatiran yang jauh lebih besar di benak para pedagang. Ketimbang mengharapkan intervensi pembangunan fisik dari pemerintah, mereka justru menyimpan ketakutan mendalam terhadap wacana revitalisasi bergaya modern.
Melihat sentra perbelanjaan lain di Bandung yang disulap menjadi gedung bertingkat dan akhirnya justru sepi pengunjung, Hendri menilai Palasari memiliki karakter akar rumput yang sangat rentan. Wacana meratakan Palasari untuk dibangun menjadi ruko berlantai-lantai ibarat mimpi buruk bagi napas ekonomi pedagang kecil.
"Yang kami khawatirkan, kalau bangunan dibikin mal atau ruko berlantai-lantai, biaya sewa lapak pasti membengkak. Yang tadinya sewa Rp100 ribu bisa jadi Rp1 juta," tutur Hendri.
Kenaikan biaya operasional tersebut otomatis akan dibebankan kepada harga jual buku, yang pada akhirnya membunuh identitas utama kawasan tersebut. Komik bekas yang biasa dijual seharga Rp15.000, misalnya, bisa melonjak menjadi Rp30.000 per eksemplar.
"Kalau harganya jadi mahal, apa bedanya Palasari dengan Gramedia? Ciri khas dan trademark Palasari sebagai sumber buku murah nanti malah hilang, dan pembeli makin kabur," katanya dengan raut khawatir.
Bagi Hendri dan para pedagang yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup di sana, harapan mereka sangat sederhana. Mereka tidak menuntut renovasi megah bergaya pusat perbelanjaan elit. Mereka hanya ingin dibiarkan merawat tradisi dan berniaga dengan tenang, menjaga Palasari agar tetap hidup sebagai suaka terakhir bagi para pencari buku murah di Kota Kembang.
(yum/yum)