Bagja Tanurahardja (63), mungkin belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan sekarang. Setelah 46 tahunan berjualan buku di Jalan Cihapit, Kota Bandung, lapak dagangan yang selama ini jadi sumber penghidupannya justru harus dibongkar.
Ribuan buku yang sebelumnya memenuhi lapak itu kini tak lagi tersusun seperti biasa. Bahkan yang lebih ironisnya, koleksi milik Bagja seluruhnya terpaksa dia jual secara kiloan kepada pengepul dan hanya menghasilkan Rp 300 ribu.
Bagi Bagja, buku-buku itu bukan sekadar barang dagangan. Selama puluhan tahun, buku menjadi bagian dari keseharian sekaligus sumber penghasilannya. Bahkan, pada hari-hari biasa, Bagja mengaku bisa menjual sekitar 10 buku untuk menutup kebutuhan hariannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semuanya bermula saat lapak tersebut dibongkar sendiri oleh Bagja pada Senin (5/10) lalu. Tindakan itu ia lakukan setelah mendapat pemberitahuan secara lisan dari pihak kelurahan. Karena tak punya pilihan, Bagja akhirnya memutuskan membongkar sendiri lapaknya demi bisa mengikuti aturan pemerintah.
"Dari kelurahan itu hari Kamis ngasih pemberitahuan, ya, bahwa ada penertiban. Akhirnya dikasih waktu sampai hari Senin. Ya sudah, kemarin hari Senin, kita semua pedagang kaki lima sepakat pembongkaran," kata Bagja saat mengawali perbincangannya dengan detikJabar, Kamis (8/10/2026).
"Kalau surat pemberitahuan sih belum ada. Jadi ya boleh dibilang spontan sih. Boleh dibilang belum ada (surat pemberitahuan atau peringatan). Cuma pemberitahuan gitu aja, lisan, ya tidak secara resmi," ungkapnya menambahkan.
Koleksi di lapak buku Bagja terbilang bukan sembarangan. Dia pernah memiliki buku terbitan tahun 1.800-an berbahasa Belanda dan Jerman.
Namun sekarang, koleksi itu sudah tak lagi terpajang. Bagja terpaksa menjual ribuan bukunya dengan cara dikilo dan hanya mendapat uang Rp 300 ribu untuk menyambung kehidupannya.
Bagja pun memilih mengikuti aturan pemerintah meski harus menanggung kerugian dari pembongkaran. Dengan mata yang samar terlihat berkaca-kaca, Bagja mengaku hanya bisa pasrah meratapi sisa-sisa pembongkaran lapaknya.
"Ya sekarang, kayak kita pedagang kaki lima, mau enggak mau harus nurut pemerintah. Kita enggak punya kekuatan hukum apa-apa, kan. Ya udahlah, dari pada jadi polemik, ya udah bongkar sendiri aja. Walaupun ya boleh dibilang rugi sih," ucapnya.
"Yang kemarin aja kan ribuan buku akhirnya kita kiloin semua ke pengepul. Sekarang paling dari ribuan buku itu cuma jadi Rp 300 ribuan. Padahal kalau hari-hari biasa, paling cuma jual 10 buku juga udah ketutup itu," tuturnya.
Meski harus kehilangan lapak dan koleksi bukunya, Bagja rupanya belum ingin meninggalkan pekerjaan yang telah dijalaninya selama puluhan tahun. Buku tetap menjadi bidang yang dia pilih untuk melanjutkan hidup.
Di usia 63 tahun, Bagja mengaku akan kembali mengumpulkan buku sedikit demi sedikit. Setelah itu, dia berencana kembali menjajakannya di lokasi yang sama, meski tak lagi dengan lapak seperti sebelumnya.
"Ya mau enggak mau harus kita sedikit-sedikit ngumpulin lagi buku sih. Soalnya ya boleh dibilang keahlian saya cuma di bidang buku. Ya mau enggak mau ya bergerak lagi di bidang buku lagi sih," ujar Bagja.
Bagja bahkan memastikan akan tetap berjualan di titik tersebut. Hanya saja, kondisi baru membuatnya harus mengubah cara berdagang.
Lapak permanen tak lagi menjadi pilihan. Bagja akan menggunakan cara bongkar pasang, menata buku ketika mulai berdagang dan membereskannya kembali setelah selesai.
"Ya dengan kondisi ya bongkar pasang lah. Walaupun ya merepotkan sih," pungkasnya.
(ral/yum)
