Tumpukan karung berisi puing kayu dan seng bekas menyisakan pemandangan muram di salah satu sudut Jalan Tjihapit pada Kamis (8/10/2026) siang, Oktober 2026. Bangunan semipermanen berukuran 3x2 meter yang puluhan tahun berdiri itu kini telah rata dengan tanah.
Di dekatnya, Bagja Tanuraharja (63) yang mengenakan kaus oblong hanya bisa menatap kosong ke arah trotoar. Sesekali, matanya tertuju pada sisa-sisa buku yang basah kuyup akibat guyuran hujan dan tercampur lumpur akibat proses pembersihan yang terburu-buru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemandangan tersebut adalah akhir dari perjalanan Kios Buku Tjihapit, benteng terakhir literasi konvensional di kawasan itu yang telah bertahan selama 46 tahun. Di tengah gempuran kafe estetik dan pasar kuliner kekinian, kebijakan sterilisasi trotoar Pemerintah Kota Bandung mengharuskan lapak tersebut dibongkar.
Namun, kisah utamanya bukan sekadar pada hilangnya sebuah kios fisik di sudut kota. Ini adalah potret kepiluan seorang pedagang tua yang terpaksa merelakan ribuan buku berharganya yang dikumpulkan dengan dedikasi puluhan tahun berakhir di atas timbangan loak dengan harga yang tak seberapa.
Kawasan Cihapit kini memang tampak lebih rapi dan tertata. Trotoarnya luas dan lowong, memanjakan pejalan kaki yang ingin menyinggahi deretan kedai kopi modern di sekitarnya. Namun, di balik keberhasilan tata kota tersebut, terselip pemandangan yang menyayat hati bagi para pencinta literasi.
Ribuan buku dari kios Bagja yang bervolume setara dengan muatan dua bak mobil pikap terbuka terpaksa dievakuasi secara kasar ke dalam karung goni.
Buku-buku bernilai sejarah yang dahulu ia buru satu per satu dengan modal jutaan rupiah kini ditumpuk kasar untuk ditimbang. Nilainya dihargai sangat murah, yakni hanya Rp1.000 per kilogram. Dari total ribuan buku yang dikilokan tersebut, Bagja hanya mengantongi uang ganti sekitar Rp300.000.
"Sedih sih, sedih. Mau gimana lagi ya kita dikejar-kejar. Ini harus cepat-cepat beres," ujar Bagja dengan raut pasrah saat melihat koleksinya diangkut.
Langkah drastis menjual buku secara kiloan itu terpaksa diambil bukan karena Bagja tak lagi menyayangi dagangannya. Pemberitahuan tertulis dari Kelurahan Cihapit baru datang pada hari Kamis, sementara pembongkaran lapak diwajibkan tuntas pada Senin (5/10/2026).
Bagja sempat ditegur pihak kelurahan karena proses pembersihan lapaknya dinilai paling lambat dibanding pedagang lain. Demi tidak menghambat penertiban, ia melepas buku-bukunya karena rumah pribadinya tidak memiliki cukup ruang untuk menampung stok yang begitu masif.
Nasib Kios Buku Tjihapit sejatinya telah mengalami pasang surut akibat rentetan perubahan regulasi tata kota. Pada era sebelum 2013, lapak ini masih berwujud bangunan permanen yang kokoh dengan pintu gulung (rolling door). Aturan kemudian berubah pada era Wali Kota Ridwan Kamil, di mana ukuran lapak diperkecil dan dilarang menggunakan bangunan permanen, melainkan hanya ditoleransi menggunakan tenda.
Kini, pada Oktober 2026, tenda semipermanen pun dilarang berdiri menetap. Regulasi terbaru dari Kelurahan Cihapit mewajibkan sistem lapak bongkar-pasang menggunakan meja lipat yang harus dibawa pulang setiap kali selesai berjualan. Hal ini menjadi pukulan telak bagi pedagang buku yang memiliki tonase barang sangat berat dan membutuhkan etalase tetap.
Di tengah kekacauan proses evakuasi dan kesedihan yang mendera, ada secercah solidaritas yang hadir dari para pegiat literasi lokal. Anggota komunitas LawangBuku dan para pencinta buku bekas berdatangan ke lokasi untuk memilah langsung dan memborong buku yang masih layak. Kehadiran mereka sekaligus menjadi dukungan moral bagi Bagja yang telah merintis usaha ini dari sekadar hobi sejak usianya 35 tahun.
Sebuah buku langka cetakan tahun 1800-an berhasil diselamatkan dari tumpukan kiloan tersebut. Bagja akhirnya merelakan harta karun berusia dua abad itu jatuh ke tangan rekannya dari LawangBuku agar tetap terawat dengan baik.
"Tadinya sih buku yang terbitan 1800-an itu sama saya disimpan buat koleksi pribadi, cuma ya karena kemarin kondisinya tidak ada tempat, akhirnya dikasihin ke Lawang Buku saja," kata Bagja.
Bagi pria paruh baya ini, buku memiliki nilai magis yang tidak bisa diukur semata-mata dengan lembaran rupiah. "Buku itu boleh dibilang ya istilahnya jendela dunia. Jadi dengan kita banyak baca buku, wawasan kita bertambah," ucapnya.
Dahulu, perempatan Jalan Riau dan Jalan Cihapit adalah tonggak kebanggaan literasi karena diisi oleh empat pedagang buku bekas yang legendaris. Satu per satu dari mereka gulung tikar seiring berjalannya waktu, menyisakan Bagja sebagai penyintas terakhir. Selama empat dekade berjualan, kebahagiaan terbesarnya selalu sederhana, yakni ketika ia berhasil menemukan buku-buku antik. Ia juga menjadi saksi bisu perjalanan hidup para pelanggannya.
"Banyak dari yang tua sampai yang muda. Dari yang dulu masih mahasiswa, sekarang datang lagi sudah jadi dosen," tutur Bagja mengenang masa kejayaan kiosnya.
Kini, setelah kiosnya tiada, Bagja memilih libur total karena kehabisan stok. Rencananya, ia akan mencoba membangun ulang usahanya dari nol secara daring, seraya menyiapkan lapak kecil-kecilan di masa depan. Ia menatap nanar perubahan zaman, di mana minat baca anak muda kian meredup dan interaksi sosial perlahan memudar.
"Coba saja dilihat, anak-anak kalau berkumpul masing-masing sibuk main HP atau game. Tidak ada interaksi mengobrol sesama teman," ujar Bagja.
Jalan Cihapit sore itu kembali dipadati oleh hiruk-pikuk kaum urban yang berburu tempat nongkrong kekinian. Trotoar telah bersih tanpa celah, memenuhi standar estetika kota yang diidamkan. Namun, bagi para pencinta buku dan sosok seperti Bagja, ruang publik yang kini luas itu terasa sangat hampa.
Hilangnya Kios Buku Tjihapit bukan sekadar tentang bangunan kayu yang diratakan dengan aspal, melainkan hilangnya sebuah ruang interaksi dan jendela dunia yang tak akan pernah bisa dibangun kembali dengan wujud yang sama.
(sud/sud)
