Lorong Waktu

Jejak Obat 'Urang Gunung' Warga Cianjur dalam Naskah Kuno

Ikbal Selamet - detikJabar
Kamis, 17 Sep 2026 07:00 WIB
Potongan manuskrip pengobatan Cianjur (Foto: Ikbal Selamet/detikJabar)
Cianjur -

Jauh sebelum fondasi rumah sakit pertama berdiri di tanah Cianjur, masyarakat di kaki Gunung Gede rupanya telah memiliki sistem kesehatan yang mapan. Kearifan lokal ini tak sekadar menjadi tutur lisan, melainkan terdokumentasi dalam sebuah manuskrip langka yang kini tersimpan ribuan kilometer dari tanah asalnya, tepatnya di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Dokumen bersejarah dengan kode cod.od.7892 tersebut bertajuk "Ngaran Ubar-ubaran Urang Gunung" atau nama obat-obatan orang pegunungan. Keberadaannya sangat istimewa karena menjadi satu-satunya naskah bertema pengobatan dengan bahasa Sunda di antara ratusan koleksi lainnya di perpustakaan tersebut.

Filolog Munawar Holil, yang akrab disapa Kang Mumu, menceritakan pengalamannya saat menelusuri jejak literasi medis ini. Dari total 789 manuskrip Sunda yang tersimpan di Leiden, hanya naskah inilah yang secara spesifik mengulas tentang dunia pengobatan.

"Manuskrip ini saya temukan saat melakukan penelitian di Leiden beberapa tahun lalu. Dari ratusan manuskrip, hanya ada satu manuskrip ini yang berisi tentang pengobatan," ungkap dia, Rabu (16/9/2026).

Catatan sejarah menunjukkan bahwa naskah ini sampai ke tangan peneliti Belanda, Snouck Hurgronje, saat ia berkunjung ke Cianjur pada tahun 1982. Ketertarikan Snouck terhadap cara warga lokal menyembuhkan diri membuatnya meminta bantuan kepada Penghulu Besar Cianjur saat itu. Sang penghulu diminta menyusun daftar penyakit yang lazim menyerang warga beserta ramuan penyembuhnya.

"Penghulu Besar ini merupakan penghulu pernikahan. Di saat itu penghulu tidak hanya bertugas menikahkan, tapi juga dianggap memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam pengobatan tradisional. Sehingga diminta untuk menuliskannya," kata Kang Mumu.

Isi manuskrip tersebut merangkum sekitar 40 jenis penyakit yang umum ditemui pada masa itu. "Penyakit yang ditulis ialah yang kerap diderita masyarakat Cianjur saat itu, diantaranya sakit kepala dan penyakit kulit," lanjutnya.

Hal yang paling mengagumkan adalah detail dan variasi obat yang ditawarkan. Sebagian besar bahan bakunya berasal dari tanaman herbal yang tumbuh subur di pekarangan rumah warga. Tak hanya satu, satu jenis penyakit terkadang memiliki belasan alternatif penyembuhan.

"Ini yang menarik, satu penyakit bisa sampai 14 obat alternatifnya. Termasuk cara pemakaian, ada yang diminum, dimakan, hingga dioleskan. Tertulis dengan sangat terperinci," tuturnya.

Berbeda dengan naskah kuno pada umumnya yang sering kali ditulis dalam bentuk narasi panjang atau puisi, manuskrip ini disusun dengan sangat modern dan sistematis. Penulisnya membagi informasi ke dalam tiga kolom yang memudahkan pembaca.

"Kolom pertama nama penyakit, kolom kedua nama obatnya, dan kolom ketiga cara pengobatannya. Jadi susah sangat sistematis penulisannya, berbeda dengan manuskrip lain. Sehingga ini manuskrip yang sangat mudah dipahami untuk diaplikasikan," jelas Kang Mumu.

Keberadaan naskah ini menjadi bukti otentik bahwa masyarakat pegunungan Cianjur telah memiliki kesadaran medis yang tinggi jauh sebelum layanan kesehatan modern masuk. Sebagai catatan, rumah sakit pertama di Cianjur baru resmi beroperasi pada tahun 1925, sementara naskah ini lahir puluhan tahun sebelumnya.

"Betapa hebatnya pendahulu di Cianjur. Karena rumah sakit itu baru ada di 1925, tapi naskah ini ditulis puluhan tahun sebelumnya. Dan tentu tidak mungkin bisa tercatat dan ada obatnya jika jauh sebelumnya tidak dilakukan untuk mengobati. Apalagi 90 persennya menggunakan herbal," tegasnya.

Bagi Kang Mumu, naskah ini bukan sekadar benda koleksi museum, melainkan harta karun ilmu pengetahuan yang bisa digali kembali untuk kepentingan medis masa kini.

"Tentu manuskrip ini penting, terutama untuk bidang kesehatan di Cianjur," tambahnya.

Gayung bersambut, temuan ini menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Cianjur. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Made Setiawan, menyatakan ketertarikannya untuk membedah lebih dalam isi manuskrip tersebut, terutama dalam pengembangan pengobatan herbal yang kini tengah digalakkan pemerintah daerah.

"Tentu kami akan teliti lebih dalam. Apalagi Dibales Cianjur sekarang juga fokus pada pengobatan herbal untuk masyarakat Cianjur," pungkas Made.



Simak Video "Menjelajahi Cafe Viral yang Instagramable di Cianjur"

(dir/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork