Gunung Ciremai, atap Jawa Barat yang menjulang setinggi 3.078 meter di atas permukaan laut (mdpl), tak pernah kehilangan daya pikatnya. Sejak masa Hindia Belanda, gunung berapi ini telah menjadi kiblat bagi mereka yang haus akan petualangan dan ketenangan di ketinggian.
Arsip lama dari surat kabar De Niewe Vorstenlanden edisi 12 April 1893 merekam sebuah fragmen sejarah yang menarik. Kala itu, empat warga Belanda memutuskan meninggalkan hiruk-pikuk Cirebon demi menaklukkan puncak tertinggi di tanah Pasundan ini. Alasan mereka sederhana namun puitis, mencari udara segar dan melepas penat dari rutinitas kota yang menjemukan.
"Mungkin kisah ini akan merangsang warga Cirebon yang dengan tenang bermimpi di atmosfer hangat kota. Untuk keluar dari kelesuan mereka dan merasakan keinginan untuk melepas lelah selama beberapa hari dari lingkungan yang menyebabkan depresi ini, serta melayang bebas ke atmosfer yang lebih tinggi," tulis surat kabar tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekspedisi itu dimulai pada Sabtu sore, sekitar pukul 15.30 WIB. Dengan kereta kuda, rombongan ini membelah jalanan menuju Kuningan. Di tengah perjalanan, mereka sempat singgah di Cilimus, sekitar 21 kilometer dari Cirebon, untuk mengukur ketinggian yang saat itu menunjukkan angka 350 mdpl.
Dua jam berselang, mereka tiba di jantung Kota Kuningan yang berada di ketinggian 500 mdpl. Di sini, moda transportasi berganti. Kereta kuda ditinggalkan, diganti dengan empat ekor kuda gunung yang kekar dan tangguh, siap mengantar mereka menuju kaki gunung di Pejambon.
"Empat ekor kuda gunung bertubuh kekar, yang disiapkan dari pacuan kuda setempat yang terkenal, sedang menggigit tali kekang menunggu kedatangan kami-hal yang terlihat dari kegelisahan mereka menapakkan kaki di jalan berkerikil. Meskipun sanggurdi (alat pijak kaki kuda) tidak disesuaikan dengan panjang tubuh kami dan pelana terasa agak keras, kuda-kuda itu membawa kami naik dengan gembira, dan kami menyusuri jalan bermandikan cahaya bulan menuju Pejambon, terletak pada ketinggian 950 M di atas permukaan laut," tulis surat kabar tersebut.
Sepanjang jalur menuju Pejambon, alam seolah menyambut mereka dengan tangan terbuka. Udara dingin yang menusuk kulit justru terasa menyegarkan, kontras dengan hawa panas Cirebon. Pemandangan sawah yang menghijau di bawah siraman cahaya bulan menciptakan suasana magis yang menenangkan jiwa.
Puncak Gunung Ciremai pada masa Hindia Belanda Foto: Istimewa/KITLV Perpustakaan Universitas Leiden |
Setibanya di Pejambon pukul 18.30 WIB, rombongan tak membuang waktu. Setelah berdiskusi sejenak dengan kepala desa dan pemandu lokal, mereka memutuskan untuk langsung mendaki malam itu juga. Cahaya bulan yang benderang menjadi pemandu alami yang sempurna.
"Sementara itu, senja yang singkat memberi jalan bagi kegelapan; perjalanan dilanjutkan dengan obor, tetapi tak lama kemudian cahaya buatan ini menjadi tidak diperlukan lagi, karena bulan segera terbit menerangi jalan kami dengan sinar peraknya.Untuk memberikan gambaran tentang pemandangan yang indah luar biasa, yang ditawarkan oleh lanskap yang tersiram cahaya bulan lembut itu. Pemandangan itu saja sudah cukup membayar jerih payah perjalanan mendaki gunung," tulis surat kabar tersebut.
Setelah satu setengah jam berkuda melewati jalur yang mulai menanjak, mereka beristirahat di Pos Cigowong pada ketinggian 1.500 mdpl. Di sebuah pondok sederhana, mereka menyantap hidangan hangat dan merebahkan diri di atas alas jerami sebelum melanjutkan perjuangan menuju puncak.
"Setelah perjalanan kami menyusuri jalan gunung yang semakin terjal, di mana kami terkadang berada di jurang yang curam, kuda-kuda tangguh kami yang awalnya kami tatap dengan sedikit ketidakpercayaan. Tetapi kemudian sangat kami hargai tiba pada pukul 8 malam di pondok Cigowong 1500 Mdpl," tulis surat kabar tersebut.
Dini hari pukul 03.20 WIB, kesibukan kembali terlihat. Setelah sarapan singkat, rombongan mulai mendaki lagi pada pukul 04.30 WIB. Kali ini, kuda-kuda mereka ditinggalkan karena medan yang semakin ekstrem. Mereka harus mengandalkan kekuatan kaki sendiri untuk menapaki jalan setapak yang curam.
Lelah mereka terbayar saat fajar menyingsing. Dari ketinggian 1.750 mdpl, tepat di persimpangan jalur Majalengka dan Kuningan, panorama spektakuler terbentang luas.
"Pemandangan gunung yang megah kini terbentang di hadapan kami. Dengan mata telanjang, rumah-rumah di Maja, Argalingga, and Majalengka terlihat jelas, dengan pegunungan Sumedang, Garoet di latar belakang. Di tempat ini, altimeter menunjukkan ketinggian 1750 m dan termometer 60° Fahrenheit," tulis surat kabar tersebut.
Perjalanan berlanjut menembus hutan purba yang lebat. Lumut-lumut tebal menyelimuti pepohonan, menciptakan suasana sunyi yang hanya dipecahkan oleh suara satwa liar.
"Sinar cahaya menembus hutan yang agak gelap dan memancarkan bintik-bintik cahaya ke lingkungan hijau di sekitarnya. Kami melanjutkan perjalanan dengan gigih; selusin kuli, yang pertama mendahului kami, kemudian mengikuti kami, memecah keheningan di hutan belantara dengan suara hewan yang mencari makanan. Seekor merpati hutan yang sendirian, melarikan diri dari para penyusup, terbang menjauh sambil bertengkar," tulis surat kabar tersebut.
Di ketinggian 2.300 mdpl, rombongan berhenti sejenak. Para kuli pribumi melakukan ritual doa demi keselamatan, sementara para pendaki Belanda ini memilih bersantai di rerumputan sambil menikmati bir Bavaria Amsterdam yang mereka bawa.
Mendekati puncak di ketinggian 2.800 mdpl, vegetasi mulai berubah. Bunga-bunga langka bermunculan di antara bebatuan vulkanik. Sekitar pukul 10.00 WIB, mereka akhirnya berdiri di bibir kawah yang megah.
"Kawah tersebut setidaknya berdiameter 100 meter, dikelilingi oleh jalan setapak yang sempit dan tidak rata, yang menurut kepercayaan, diukir ke dalam bebatuan orang zaman dahulu yang sering mengunjungi kawah tersebut. Dari jalur ini, bagian dalam kawah menawarkan pemandangan yang indah, miring ke atas, di sana-sini ditumbuhi semak rendah, membentuk dasar berbukit dengan keliling 200 meter. Di dasar ini, di tengahnya menjulang bendungan setinggi 100 meter, dari mana uap belerang tipis di kedua sisinya dikelilingi oleh danau belerang," tulis surat kabar De Niewe Vorstenlanden edisi 12 April 1893.
Satu jam kemudian, mereka mencapai titik tertinggi di 2.850 mdpl. Dari sana, Gunung Slamet dan garis pantai Laut Jawa terlihat samar di kejauhan. Meski kabut mulai turun menyelimuti tugu triangulasi di puncak, rasa puas tak terbendung.
"Dataran hijau yang diterangi matahari, sungai-sungai yang jernih mengalir di dataran rendah, berbagai nuansa warna di dataran rendah itu semuanya sangat indah. Sementara itu, makan besar telah menyegarkan kami sedemikian rupa. Meskipun lelah selama pendakian, kami masih memiliki keinginan ketika kami melihat sebuah rumah kecil di sisi lain kawah untuk mengarahkan langkah kami ke arah itu, didorong oleh rasa ingin tahu. Setelah pendakian yang berbahaya dan sangat sulit selama setengah jam, kami mencapai rumah kecil itu, di bawah atapnya terdapat tiang triangulasi (tugu). Ini adalah titik tertinggi gunung," tulis surat kabar tersebut.
Perjalanan turun ternyata tak kalah menantang. Hujan badai disertai petir menyambut mereka pada pukul 14.00 WIB, mengubah jalur pendakian menjadi aliran air yang deras. Namun, semangat mereka tak surut hingga akhirnya tiba di Palutungan pada sore hari.
"Kami dengan senang hati menyampaikan penghormatan kepada pemandu gunung yang gagah berani ini dan kami menyarankan setiap pendaki Tjerimai untuk meminta kerja sama dari orang ini dalam usaha tersebut. Detak jantung berdebar kencang, kata-kata yang sangat indah, dengan jabat tangan dari walikota, kami makan, meskipun dengan sedikit melankolis, di hamparan gunung yang indah, tempat kami merasakan begitu banyak emosi, dan berkendara setelah melirik terakhir kali ke desa Palutungan yang indah," tutup surat kabar tersebut.
Lebih dari satu abad berlalu, daya tarik Ciremai tetap abadi. Eska Nata Suryana, Koordinator Urusan Data, Evaluasi Pelaporan, dan Kehumasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), mengungkapkan bahwa minat masyarakat untuk mendaki terus meningkat.
Data terbaru menunjukkan bahwa pada tahun 2025, sebanyak 39.116 pendaki telah menapaki jalur-jalur Ciremai. Tren positif ini berlanjut hingga tahun 2026. Dalam kurun waktu Januari hingga Juni 2026 saja, tercatat sudah ada 23.690 orang yang melakukan pendakian.
"Total jumlah Pendaki dari Sumber data: Laporan Realisasi PNBP pada Januari sampai Desember 2025 ada 39.116 orang. Untuk Januari sampai Juni 2026 ada 23.690 orang. Paling ramai saat libur anak sekolah dan menjelang momen 17 Agustus serta Momen libur akhir tahun sampai tahun baru," pungkas Eska.
(dir/dir)

