Ketika Hari-hari Berlalu Tanpa Terasa di Buitenzorg

Ketika Hari-hari Berlalu Tanpa Terasa di Buitenzorg

Andry Haryanto - detikJabar
Sabtu, 29 Agu 2026 08:00 WIB
Meadow in Bogor Botanical Gardens
Kebun Raya Bogor (Foto: Getty Images/Ali Alhamizan)
Bogor -

Jauh sebelum kata healing digunakan untuk menyebut perjalanan melepas penat, Buitenzorg telah menjadi tempat orang-orang meninggalkan panas dan kesibukan Batavia. Mereka bergerak ke selatan menuju kota di kaki pegunungan untuk menghirup udara lebih sejuk, beristirahat, atau memulihkan kesehatan.

Kesan itu terekam dalam buku Java: The Garden of the East karya Eliza Ruhamah Scidmore. Penulis dan pelancong asal Amerika Serikat tersebut mengisahkan perjalanannya melintasi Jawa pada penghujung abad ke-19, dari Batavia hingga Banjoewangi di ujung timur pulau.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Buitenzorg menjadi salah satu persinggahan yang mendapat tempat khusus dalam catatannya. Dalam Bab VI berjudul "A Dutch Sans Souci", Scidmore tidak hanya menggambarkan kota pemerintahan kolonial. Ia merekam lanskap, kehidupan masyarakat, perkebunan, Kebun Raya, dan Gunung Salak yang terlihat dari tempatnya menginap.

Pemandangan pertama datang ketika fajar menyingsing. Dari serambi penginapan, Scidmore melihat Gunung Salak berdiri di hadapannya. Lereng gunung itu masih hijau hingga ke puncak oleh perkebunan dan hutan purba.

ADVERTISEMENT

"At daylight we saw that our portico looked full upon the front of Mount Salak, green to the very summit with plantations and primeval forests," tulis Scidmore menggambarkan Buitenzorg kala itu. (Saat fajar menyingsing, kami melihat serambi tempat kami berada menghadap langsung ke Gunung Salak, yang hijau hingga ke puncaknya oleh perkebunan dan hutan purba.)

Jauh di bawah penginapan terbentang lembah yang ia umpamakan seperti Taman Eden. Ribuan pohon palem terus bergerak mengikuti angin. Dari kejauhan, ayunan cabangnya tampak selembut bulu burung unta. Namun, daun-daun itu mengeluarkan gemerisik keras yang berbeda dari suara pepohonan di negeri beriklim sedang.

Ketika angin bertiup lebih kuat, permukaan lembah terlihat bergelombang seperti ladang jelai (serelia). Di tepi sungai terdapat perkampungan dengan rumah-rumah dari anyaman bambu. Dari ketinggian, Scidmore menyaksikan kehidupan masyarakat berlangsung sejak matahari terbit.

Penduduk keluar dari rumah, merentangkan tangan, lalu berenang di sungai. Mereka berkumpul di bawah keteduhan untuk menyantap nasi dan kari dari piring daun pisang. Peralatan memasak kemudian dicuci dalam aliran air sebelum setiap orang memulai pekerjaan.

Para lelaki pergi bekerja atau duduk membuat perkakas. Perempuan mencuci pakaian, menganyam keranjang, dan melukis sarung. Sementara itu, anak-anak bermain di bawah pohon kelapa atau keluar-masuk sungai.

Bogor city square, city park, public space, Bogor, West Java, Indonesia, March 2023Bogor city square, city park, public space, Bogor, West Java, Indonesia, March 2023 Foto: Getty Images/Egga Laksmana

Gambaran tersebut menunjukkan Buitenzorg bukan hanya kota peristirahatan pejabat kolonial. Di balik vila, hotel, dan istana gubernur jenderal, terdapat kampung-kampung yang kehidupannya bertumpu pada sungai, kebun, kerajinan, dan alam sekitarnya.

Namun, kesaksian Scidmore tetap perlu dibaca secara kritis. Sebagai pelancong Barat pada masa kolonial, ia beberapa kali melihat penduduk pribumi sebagai bagian dari pemandangan yang eksotis. Catatannya merupakan kesan personal seorang pengunjung pada akhir abad ke-19, bukan gambaran yang sepenuhnya objektif tentang masyarakat Jawa.

Tempat Melupakan Panas Batavia

Buitenzorg berjarak sekitar 40 mil dari Batavia. Namun, kedua kota itu menawarkan pengalaman yang bertolak belakang. Batavia digambarkan panas, lembap, dan menyesakkan. Sebaliknya, Buitenzorg memiliki udara jernih, malam sejuk, serta hujan yang menyegarkan hampir setiap hari.

Setelah tiba di kota itu, Scidmore merasa waktu seperti berhenti bergerak. Kalender tak lagi penting dan panas Batavia perlahan menghilang dari ingatan.

"Buitenzorg, the Bogor of the natives, who will not call it by its newer name, is one of the enchanted spots where days can slip by in dateless delight," kata Scidmore. ("Buitenzorg, merupakan salah satu tempat memesona, tempat hari-hari dapat berlalu dalam kesenangan tanpa terasa.")

Kutipan itu juga merekam dua nama yang hidup dalam satu kota. Pemerintah kolonial menyebutnya Buitenzorg, sedangkan masyarakat setempat tetap menggunakan nama Bogor. Penamaan resmi boleh berubah, tetapi sebutan lokal bertahan dalam kehidupan sehari-hari.

Kesan Scidmore mengenai hilangnya waktu kemudian disambung dengan perbandingan yang tajam terhadap Batavia. "One forgets the calendar and the flight of time, and hardly remembers the heavy, sickening heat of Batavia stewing away on the plains below," Ia menggambarkan secara rinci kondisi Bogor dulu kala. ("Orang melupakan kalender dan perjalanan waktu serta hampir tidak mengingat panas Batavia yang berat dan memuakkan, yang terus mendidih di dataran rendah.")

Pada masa itu, Buitenzorg telah berkembang menjadi tempat berlindung bagi orang-orang Eropa. Kota ini menjadi kediaman gubernur jenderal sekaligus pusat kehidupan sosial pemerintahan kolonial. Pejabat, saudagar, bankir, dan pemilik perkebunan memiliki rumah atau menghabiskan masa istirahat di sana.

Orang sakit dan mereka yang dianggap memiliki tubuh lemah juga datang untuk memulihkan kondisi. Udara pegunungan dipercaya dapat mengembalikan tenaga yang terkuras oleh iklim panas dataran rendah.

Fungsi itu membuat Scidmore menyebut Buitenzorg sebagai "Simla dari Hindia Belanda". Simla, kini Shimla, merupakan kota pegunungan yang digunakan pejabat Inggris di India untuk menghindari panas.

"Buitenzorg is the Simla of Netherlands India, but it awaits its Kipling to record its social life in clear-cut, instantaneous pictures." ungkap Scidmore. ("Buitenzorg adalah Simla bagi Hindia Belanda, tetapi kota itu masih menunggu Kipling-nya untuk merekam kehidupan sosialnya dalam gambaran yang tajam dan seketika.")

Dalam bahasa kalcer sekarang, Buitenzorg telah menjadi kota healing. Orang datang untuk mengambil jarak dari pekerjaan, menghindari hawa panas, dan mencari kesegaran di bawah bayang-bayang pegunungan.

Namun, ruang pemulihan itu tidak terbebas dari struktur kolonial. Kenyamanan terutama dinikmati pejabat dan kelompok berada Eropa. Penduduk pribumi lebih banyak hadir sebagai pekerja perkebunan, tukang kebun, pelayan, pengrajin, dan penghuni kampung di pinggiran kota.

Kebun Raya, Surga yang Ditata

Kekaguman terbesar Scidmore tertuju pada Kebun Raya Buitenzorg. Ia menyebut tempat tersebut sebagai lokasi utama yang dipamerkan kepada pengunjung sekaligus kebanggaan Pulau Jawa.

"The famous Botanical Garden at Buitenzorg is the great show-place, the paradise and pride of the island," tulisnya. (Kebun Raya Buitenzorg yang terkenal merupakan tempat pameran utama, surga, dan kebanggaan pulau ini.")

Kebun tersebut dibangun dan dikembangkan selama puluhan tahun. Panas matahari tropis, hujan yang turun setiap hari, serta pengetahuan hortikultura orang Belanda membuat koleksi tanamannya berkembang.

Cara ke Kebun Raya Bogor naik KRL bisa dilakukan dari Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Bogor, Stasiun Bekasi, dan Stasiun Tangerang. Yuk, simak langkah-langkahnya di sini.Cara ke Kebun Raya Bogor naik KRL bisa dilakukan dari Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Bogor, Stasiun Bekasi, dan Stasiun Tangerang. Yuk, simak langkah-langkahnya di sini. Foto: M Solihin/detikcom

Istana gubernur jenderal berdiri di tengah kawasan seluas sekitar 90 acre atau lebih dari 36 hektare. Dari gerbang utama, pengunjung melewati jalan yang dinaungi pohon-pohon kenari. Cabangnya melengkung pada ketinggian seratus kaki dan membentuk lorong menyerupai katedral hijau.

Batang pohon dipenuhi paku tanduk rusa, paku sarang burung, rotan, palem merambat, anggrek, dan tanaman udara. Di dekatnya terdapat danau teratai, pandan, serta palem Banka berbatang merah yang tumbuh berdesakan di sebuah pulau kecil.

Semakin jauh masuk, pengunjung menemukan terowongan pohon waringin, jalan yang diapit palem raja, rumpun paku pohon, dan belukar kamboja. Dari salah satu bukit kecil, Scidmore melihat dua puncak Gedeh dan Pangrango yang tampak biru serta diselimuti uap. Seutas asap disebut terus mengapung dari salah satu puncaknya.

Halaman istana dinaungi waringin, pohon sosis, dan pohon lilin. Bugenvil menutupi cabang-cabang, sedangkan rusa berkeliaran di antara halaman rumput. Kesan yang muncul bukan sebatas kebun koleksi, melainkan bentang alam tropis yang sengaja disusun menjadi panggung.

Scidmore juga mencatat sejumlah pengalaman yang terasa asing bagi pengunjung dari negeri beriklim sedang. Buah pala tergeletak di tanah seperti biji ek. Manggis dan rambutan tumbuh di depan mata. Kamboja dapat dikumpulkan hanya dengan membalikkan payung dan membiarkan bunganya berjatuhan.

Ragam bambu tumbuh dari jenis berdaun halus hingga bambu Burma yang menjulang setinggi seratus kaki. Rotan dan palem merambat memanjang dari satu pohon ke pohon lain. Anggrek Jawa dan Borneo dipelihara dalam bangsal yang dinaungi pepohonan tinggi.

Di antara koleksi tersebut, Scidmore paling mengingat kantong semar. Tanaman itu memiliki kelopak hijau pucat dengan urat merah marun. Kantongnya berisi air, berbau tidak sedap, dan lengket. Bentuk serta warnanya membuat tanaman tersebut menetap paling lama dalam ingatannya.

Di Balik Romantisme Buitenzorg

Kebun Raya tidak semata-mata dibangun untuk keindahan dan rekreasi. Tempat itu juga menjadi pusat penelitian tanaman yang mendukung perekonomian kolonial.

Lebih dari sembilan ribu spesimen hidup dirawat oleh seratus pekerja kebun pribumi di bawah arahan seorang kepala kebun Eropa. Laboratorium dan ruang kerja tersedia bagi ahli botani dari berbagai negara.

Sungai Tjiliwong memisahkan Kebun Raya dari kebun budidaya seluas sekitar 40 acre atau 16 hektare. Sebanyak 70 pekerja merawat tanaman bernilai ekonomi seperti kina, tebu, karet, teh, kopi, rami, getah, dan rempah-rempah.

Tanaman tidak sekadar dikumpulkan. Semuanya diteliti, diuji, dan disesuaikan dengan iklim sebelum dikembangkan di perkebunan. Keindahan Kebun Raya berjalan beriringan dengan kepentingan ilmu pengetahuan dan keuntungan ekonomi pemerintah kolonial.

Penataan serupa terlihat di luar kebun. Jalan-jalan Buitenzorg dinaungi pohon kenari dan waringin. Lembah, dataran, serta lereng bukit ditanami dalam barisan teratur. Perkebunan teh dan kopi menyerupai taman dengan daun-daun tanpa cacat serta tanah merah yang tetap gembur di sekitar akar.

Scidmore berkeliling menggunakan kereta besar yang disebut milord. Kendaraan sepanjang sekitar dua puluh kaki itu melaju melewati jalan teduh, barak, rumah sakit, jembatan, dan perkampungan. Anak-anak bertepuk tangan ketika kereta tersebut melintas.

Perjalanannya membawa Scidmore ke makam Raden Saleh, Batoe Toelis, dan vila tempat seorang pangeran Ashantee pernah hidup dalam pengasingan. Dari kawasan vila tersebut, ia kembali melihat bentang luas menuju Gedeh, Pangrango, dan Salak.

Semua pemandangan itu membentuk romantisme Buitenzorg sebagai kota hijau yang berada di antara sungai dan pegunungan. Kota tersebut memberikan jeda bagi orang-orang yang jenuh oleh panas serta kesibukan Batavia.

Lebih dari satu abad kemudian, arus perjalanan ke Bogor tidak pernah benar-benar berhenti. Orang datang menggunakan kereta komuter, mobil, dan sepeda motor. Mereka memenuhi Kebun Raya, mencari makanan, mengunjungi tempat rekreasi, atau melanjutkan perjalanan menuju kawasan Puncak.

Alat transportasi dan wajah kota telah berubah. Namun, alasan kedatangan mereka tetap berdekatan dengan pengalaman yang ditulis Scidmore, yaitu mencari udara berbeda, menikmati kehijauan, dan mengambil jarak sejenak dari kepenatan kota besar.

Di antara hujan, pepohonan, dan bayang-bayang Gunung Salak, Bogor masih memikul imajinasi lamanya. Ia menjadi tempat orang-orang berharap dapat melupakan pekerjaan dan perjalanan waktu-tempat hari-hari berlalu tanpa terasa.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Momen Bahagia Bermain Air di Air Terjun Memukau di Bogor"
[Gambas:Video 20detik] (dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads