Di tengah padatnya permukiman Kota Bandung, lahan sempit bukan alasan untuk berhenti menghasilkan pangan sendiri. Agus Hadiyana (49) membuktikannya dengan memanfaatkan ruang berukuran 4x4 meter di rumahnya di Jalan Laswi, Kecamatan Batununggal, sebagai ruang urban farming.
Bukan tanaman hidroponik atau kebun mini yang memenuhi ruangan tersebut. Agus justru memilih beternak ayam kampung petelur. Puluhan ayam kini hidup di dalam ruangan yang sebelumnya biasa ia sewakan sebagai kamar kos.
Sekilas, tidak ada yang istimewa dari sebuah kamar berisi ayam. Namun, ada satu hal yang cukup mencolok ketika memasuki ruangan tersebut, yakni nyaris tidak tercium bau menyengat yang biasanya identik dengan kandang ayam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di dalam kamar itu, 22 ekor ayam bergerak bebas. Mereka dapat berjalan, menggaruk-garuk alas, hingga mencari posisi nyaman tanpa sekat-sekat kandang.
Bagi Agus, aktivitas tersebut bermula dari kegelisahannya membaca berbagai persoalan mengenai krisis pangan. Dari sana, muncul gagasan sederhana dengan mengusahakan sumber protein sendiri dari rumah.
"Membaca hal-hal yang terkait dengan krisis pangan dan sebagainya gitu. Akhirnya saya memberanikan diri ya mengadopsi ayam-ayam untuk disimpan di dalam rumah," tutur Agus saat berbincang dengan detikJabar, Rabu (12/8/2026).
Pilihan Agus bukan tanpa proses belajar. Selama lebih dari setahun, ia mempelajari cara mengelola ruang, menjaga kesehatan ayam, hingga mengolah bahan-bahan yang tersedia di dapur menjadi ramuan untuk ayam.
"Ya minimal pada akhirnya kita memiliki ketahanan protein sendirilah dengan memiliki telur yang didapatkan tiap hari tanpa harus pergi ke pasar atau belanja ke warung, gitu aja sih sebenarnya," katanya
"Meskipun ya sampai saat ini kita belajar juga bagaimana memanajemen kandang, menjaga kesehatan ayam, terus bagaimana mengolah bahan dapur untuk menjadi jamu-jamuan ayam agar ayam ini sendiri sebenarnya tanpa vaksin, tanpa obat gitu," sambung Agus
Bukan Kandang, tapi 'Kamar Ayam'
Agus sendiri tidak ingin menyebut aktivitasnya sebagai peternakan dalam skala besar. Baginya, apa yang dilakukan lebih dekat dengan hobi yang sekaligus menjawab persoalan keterbatasan lahan di tengah kota.
"Sebenarnya kalau kita ngobrolin tentang beternak, sebenarnya ini terlalu besar ya disebut beternak, tapi ini lebih ke hobi sih sebenarnya. Terus ya kita melihat bagaimana kan kota ini terlalu sempit untuk kita beraktivitas, untuk menghasilkan sesuatu," ucapnya.
'Kamar Ayam' Agus di Bandung Foto: Bima Bagaskara/detikJabar |
Keterbatasan lahan membuat Agus berpikir ulang terhadap fungsi ruang di rumahnya. Kamar yang sebelumnya dapat digunakan untuk tempat tinggal orang lain akhirnya dialihfungsikan menjadi ruang bagi ayam.
"Akhirnya ya karena keterbatasan lahan sendiri di rumah, akhirnya ya memanfaatkan kamar yang biasanya kita kontrakan untuk orang lain, ya kita manfaatkan saja untuk jadi bukan kandang sih, konsepnya lebih ke kamar ayam," kata dia.
Konsep itu juga membuat Agus tidak ingin memenuhi ruangan dengan sekat-sekat sempit. Ia justru memberikan ruang gerak yang cukup bagi ayam agar tetap bisa menjalankan perilaku alaminya.
Saat ini, 22 ekor ayam menempati kamar tersebut. Jumlah itu sebenarnya masih bisa ditambah berkali-kali lipat, tetapi Agus memilih tidak mengejar jumlah produksi semata.
"Sebenarnya kalau sekarang ini ada 22 ekor. Sebenarnya bisa juga sih sampai 100 ekor kalau kita mau push ayam ini untuk banyak. Tapi saya kan ya sedikit mendapat masukan dari teman-teman juga bagaimana ayam ini kan juga harus memiliki kesejahteraan," ujarnya.
"Dengan kondisi ruang yang agak bebas seperti ini kan ayam pun bisa bergerak bebas. Ya bagaimana mereka menjadi ayam-ayam yang bahagia dan merdeka. Itu aja sih sebenarnya," tambah Agus.
Setiap Hari Panen Telur
Dari 22 ekor ayam tersebut, Agus rata-rata dapat mengumpulkan sekitar 18 butir telur dalam sehari. Produksi itu memang tidak selalu sama karena kondisi cuaca turut memengaruhi produktivitas ayam.
"Sebenarnya kalau panen di kisaran 18 telur per hari karena kapasitas kita baru ayam ini baru 22 ekor. Tapi tergantung juga kadang-kadang kalau cuaca lagi enggak bagus seperti dingin paling ya bisa 10. Tapi untuk kebutuhan rumah sendiri sih ya itu sudah cukup," terangnya.
Telur-telur tersebut pada awalnya memang tidak ditujukan untuk dijual. Agus memprioritaskan hasilnya untuk memenuhi kebutuhan protein keluarganya, terutama anak-anak. Namun kemudian, sebagian hasil panen akhirnya ia jual kepada tetangga dan kerabat.
"Awalnya lebih untuk kebutuhan anak sendiri ya karena saya pikir protein terbaik, termudah, dan termurah itu kan ada di telur. Tapi kadang-kadang kelebihan ya ada juga tetangga yang beli, tukang jamu. Ya akhirnya ya setelah kita konsumsi ya kita jual juga sih," katanya
Rahasia Kamar Ayam Tak Bau
Memelihara puluhan ayam di dalam ruangan yang berdampingan dengan kamar kos tentu bukan perkara sederhana. Salah satu tantangan terbesar adalah mengendalikan kotoran dan bau.
Namun, Agus menemukan formula setelah mempelajari pengelolaan kandang selama lebih dari setahun.
"Kalau kotoran pasti semua orang persepsinya sama. Kalau ayam, kandang, atau orang yang memelihara ayam pasti bau dan sebagainya. Tapi sebenarnya itu kan setelah saya belajar ya kurang lebih setahunan lebih, akhirnya ada formula-formula yang bisa kita manfaatkan," ungkapnya.
'Kamar Ayam' Agus di Bandung Foto: Bima Bagaskara/detikJabar |
Ia memanfaatkan sejumlah material yang mudah ditemukan, mulai dari sekam hingga kapur dolomit dan pasir sungai. Bahan-bahan tersebut kemudian dikombinasikan dengan kotoran hewan lain.
"Dari bahan dapur, terus dari si liter istilahnya atau alas kandang. Ya kita mengolah dari sekam atau gabah, terus kita manfaatin juga kapur dolomit, kita tambah juga pasir sungai, terus kita tambah dua variabel lagi ya kohe atau kotoran hewan dari kambing sama sapi," jelasnya.
Menurut Agus, kombinasi tersebut membantu mengurangi aroma amonia yang berasal dari kotoran ayam. Namun, pengelolaan alas kandang saja belum cukup.
"Ini semua sebenarnya yang bisa menggerus bau-bauan amoniak dari tahi ayam itu sendiri, kotoran ayam. Tapi sebenarnya ada lagi yang paling penting adalah bagaimana caranya kita memproses usus ayam itu sendiri untuk tidak menghasilkan bau, yaitu dengan membuat jamu-jamuan dan pola pakan yang fermentasi," kata Agus.
'Kamar Ayam' Agus di Bandung Foto: Bima Bagaskara/detikJabar |
Bandung dan Tantangan Cuaca
Di balik hasil belasan telur setiap hari, Agus juga menghadapi tantangan yang tidak sedikit. Salah satunya adalah kondisi cuaca Bandung yang menurutnya sulit diprediksi.
"Kendala sih sebenarnya sampai sejauh ini kalau untuk Bandung ya, mungkin karena perubahan cuaca Bandung yang tidak konstan gitu. Bandung itu kadang-kadang lagi panas-panas, lagi dingin-dingin. Itu berpengaruh besar pada tingkat produktivitas telur si ayam," ungkap dia.
Persoalan lain datang dari kebutuhan pakan. Mengandalkan pakan pabrikan sepenuhnya dinilai cukup mahal. Karena itu, Agus memanfaatkan bahan-bahan sisa yang masih layak diolah.
"Sementara ya paling selain itu ya tentu pakan. Pakan kalau pabrikan kan tentu mahal. Akhirnya bagaimana saya mengolah bahan-bahan limbah. Bahan-bahan limbah itu dalam artian seperti nasi sisa, terus sayuran bekas," tutup Agus.
Simak Video "Video: Dedikasi Urban Farming Antar Dani Arwanto Raih Anugerah Ekonomi Hijau"
[Gambas:Video 20detik] (bba/dir)



