Duka mendalam sempat menyelimuti warga Kampung Adat Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, usai musibah kebakaran hebat yang menghanguskan puluhan rumah panggung pada Sabtu (25/7/2026) lalu.
Namun, di balik puing-puing bangunan berbahan kayu dan ijuk yang tersisa, warga adat kini perlahan bangkit dari bayang-bayang trauma.
Ketua Kasepuhan Adat Ciptamulya, Abah Hendrik Suhendrik Wijaya, menceritakan betapa beratnya masa-masa awal pascamusibah. Rasa syok dan bingung sempat melumpuhkan kasepuhan di lereng Gunung Halimun Salak tersebut selama seminggu penuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awal-awalnya tentu syok sekali. Dari dua, tiga hari, sampai seminggu pertama, perasaan berat itu sangat terasa, termasuk oleh Abah sendiri," kata Abah Hendrik saat ditemui detikJabar di lokasi penampungan sementara, Cisolok, Sukabumi, Senin (10/8/2026).
Meski begitu, Abah Hendrik menegaskan warga tak mau berlarut-larut dalam ratapan. Falsafah kepasrahan dan kesadaran spiritual warga adat menjadi kunci utama proses pemulihan trauma (trauma healing) secara mandiri. Warga memilih menerima musibah tersebut sebagai takdir yang harus dijalani.
"Tapi dengan keadaan yang terjadi seperti ini, masyarakat akhirnya bisa menerima dengan lapang dada. Kami meyakini ini adalah bagian dari takdir yang harus dijalani," tuturnya penuh ketenangan.
Proses pemulihan psikologis warga Kasepuhan Ciptamulya berjalan cepat berkat kuatnya rasa kekeluargaan. Pascakejadian, tak ada satu pun warga korban kebakaran yang terabaikan.
Sebagian warga yang kehilangan tempat tinggal langsung ditampung di rumah-rumah kerabat serta warga adat tetangga yang rumahnya selamat dari api. Sementara sebagian lainnya menempati tenda-tenda darurat yang didirikan oleh BPBD dan pemerintah daerah.
Komunikasi intens antara pimpinan adat (Abah), para pemangku adat (Pegawai Tujuh), dan kepala desa (Jaro) turut memberikan rasa aman dan menenangkan batin warga.
"Abah selalu memberikan arahan dan menenangkan warga. Kata Abah, 'Tenang saja, kita menanggung beban ini bareng-bareng. Tempatnya sudah ada.' Arahan dan kepastian itu yang membuat warga paham, tidak panik, dan tidak terburu-buru," terang Abah Hendrik.
Bantuan Melimpah, Hibur Duka Warga
Faktor lain yang mempercepat pemulihan psikologis warga adalah gelombang empati dan aliran bantuan dari berbagai pihak. Kehadiran jajaran Pemkab Sukabumi, BPBD, Dinas Sosial, hingga bantuan langsung dari Gubernur Jawa Barat menjadi pelipur lara di masa kritis.
Bahan pangan yang terjamin, perlengkapan tidur, hingga kepastian anggaran untuk pembangunan kembali permukiman adat dinilai sangat menghibur duka warga. Dalam bahasa lokal Sunda, kondisi ini disebut kabangbraangkeun artinya mampu mencerahkan dan mengobati kesedihan yang mendalam.
"Alhamdulillah, bantuan dari berbagai instansi sangat membantu. Ibaratnya kabangbraangkeun, duka dan harta benda yang hilang seolah digantikan oleh perhatian serta kepedulian yang begitu besar dari banyak orang. Ada rasa terharu dan gembira di tengah ujian ini," ungkapnya.
Kini, riak-riak ketakutan di Kasepuhan Ciptamulya berangsur surut. Warga adat mulai merajut kembali rutinitas harian mereka sambil bersiap memasuki tahapan relokasi dan pembangunan kembali permukiman baru secara gotong royong sesuai tatanan adat leluhur.
Simak Video "CTARSA Gebrag Korban Kebakaran Kemayoran"
[Gambas:Video 20detik] (sya/mso)
