Di balik gersangnya hamparan Gurun Sahara, Aljazair, berdiri sebuah benteng kuno yang menyimpan rahasia besar peradaban masa lalu. Namanya Ksar Draa. Bukan sekadar tumpukan batu, benteng ini adalah saksi bisu dari sebuah harmoni multikultural yang nyaris terhapus dari ingatan dunia.
Dibangun dengan material lokal seperti batu dan tanah liat, arsitektur Ksar Draa dirancang sangat tangguh untuk melawan iklim ekstrem Sahara. Bangunan ini menjadi bukti nyata bagaimana kecerdasan masyarakat lokal dalam beradaptasi dengan keganasan gurun selama berabad-abad.
Namun, daya tarik sejati Ksar Draa terletak pada kisah orang-orang di dalamnya. Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, benteng ini adalah rumah bagi keberagaman. Di sini, komunitas Yahudi hidup berdampingan dengan keluarga Berber dan Arab. Mereka bahu-membahu menggerakkan roda perdagangan dan kerajinan yang menjadi urat nadi kehidupan di oasis tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya, harmoni itu mulai retak setelah Aljazair meraih kemerdekaan dari Prancis pada tahun 1962. Di tengah semangat membangun identitas nasional yang baru, tekanan terhadap kelompok minoritas justru meningkat, termasuk terhadap komunitas Yahudi.
Situasi kian memanas saat serangan mulai menyasar rumah, tempat usaha, hingga rumah ibadah. Kondisi ini memaksa banyak keluarga meninggalkan Ksar Draa untuk bermigrasi ke Prancis maupun Israel. Eksodus besar-besaran ini membuat desa kuno tersebut perlahan sunyi, ditinggalkan, hingga akhirnya menjadi situs bersejarah yang sunyi seperti sekarang.
Melansir laporan Green Prophet, Ksar Draa kini menjadi pengingat betapa kayanya keberagaman budaya yang pernah tumbuh di wilayah tersebut. Namun, laporan itu juga memberikan peringatan keras mengenai kondisi situs yang kini terbengkalai dan minim perlindungan.
"Video yang beredar di YouTube menunjukkan siapa pun dapat masuk dan menjelajahi benteng ini, yang mengindikasikan situs tersebut belum terlindungi dengan baik untuk generasi mendatang," demikian laporan Green Prophet.
Sisa-sisa rumah dan sinagoge tua di kawasan itu tetap berdiri, menjadi saksi bisu bahwa dahulu ada kedamaian dalam perbedaan di Ksar Draa. Keberadaan benteng ini seolah berbisik kepada dunia bahwa Sahara bukan hanya soal pasir yang tandus, tapi juga tentang jejak kemanusiaan yang mendalam.
Artikel ini sudah tayang di detikInet, baca selengkapnya di sini.
Simak Video "Video RI Siapkan 15 Cagar Budaya untuk Diajukan Jadi Warisan Dunia UNESCO"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
