Q, Mahasiswa ITB dengan Nama Unik yang Bermimpi Bangun Daerah

Q, Mahasiswa ITB dengan Nama Unik yang Bermimpi Bangun Daerah

Rifat Alhamidi - detikJabar
Selasa, 11 Agu 2026 19:15 WIB
Q, mahasiswa baru ITB dengan nama uniknya
Q, mahasiswa baru ITB dengan nama uniknya (Foto: dok ITB).
Bandung -

Seorang mahasiswa baru ITB asal Madiun belakangan ini memantik perhatian. Selain memiliki mimpi besar untuk membangun daerah asalnya, mahasiswa itu juga punya keunikan karena bernama satu huruf, yakni Q.

Q merupakan pemuda dari Desa Teguhan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, dan merupakan alumnus SMAN 2 Kota Madiun. Ia diterima di Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan-Infrastruktur Sipil, Lingkungan, dan Kelautan (FTSL-ISLK) ITB melalui jalur SNBT.

Saat ini, Q masih menjalani tahap awal perkuliahan dan belum memasuki program studi. Meski demikian, ia telah menetapkan Teknik Sipil sebagai pilihan yang ingin dikejarnya sesuai dengan minat dan cita-citanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nama saya memang cuma satu huruf, yaitu Q. Biasanya teman-teman memanggil saya Q, Qi, atau Qiu," katanya dalam keterangan di situs resmi ITB sebagaimana dikutip detikJabar, Selasa (11/8/2026).

Di balik namanya yang hanya satu huruf, ternyata tersimpan cerita dan harapan besar dari kedua orang tuanya. Nama Q terinspirasi dari salah satu karakter dalam rangkaian film James Bond, yaitu Q atau Quartermaster.

ADVERTISEMENT

Dalam cerita tersebut, Q merupakan sosok yang bekerja di balik layar dengan mengembangkan berbagai peralatan dan teknologi canggih untuk mendukung tugas agen James Bond. Karakter itu menjadi salah satu tokoh yang disukai ayah Q.

"Ayah saya ingin saya bisa sepintar dan secerdik Q dalam film James Bond. Dia adalah kepala di bidang riset dan teknologi yang membuat berbagai teknologi canggih," tutur Q.

Nama tersebut juga memiliki makna lain bagi keluarganya. Huruf Q merupakan huruf ke-17 dalam alfabet. Angka 17 kemudian dimaknai sebagai simbol Hari Kemerdekaan Indonesia sekaligus berkaitan dengan tanggal yang diyakini sebagai momentum turunnya Al-Qur'an.

Melalui nama tersebut, orang tua berharap Q bisa tumbuh menjadi seseorang yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memberikan manfaat bagi bangsa, negara, dan agama. Harapan melalui nama-nama singkat ternyata juga diberikan kepada kedua adik perempuannya, yaitu Ayna dan An Nawa.

Q tumbuh dalam keluarga sederhana bersama dua adik perempuannya. Sejak kecil, ia mendapatkan kasih sayang, perhatian, dan dukungan yang kuat dari orang tua maupun keluarga besarnya.

Pendidikan menjadi salah satu nilai utama yang ditanamkan dalam keluarganya. Ia terus didorong untuk mengejar ilmu, menjadi pribadi yang berbakti, serta kelak memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Saya selalu diingatkan orang tua untuk terus mengejar ilmu dan pendidikan. Dukungan dari orang tua dan keluarga besar menjadi salah satu alasan saya bisa sampai di ITB," katanya.

Selain keluarga, perjalanan akademik Q turut dipengaruhi seorang guru IPA bernama Pak Dian yang ditemuinya ketika menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri. Cara mengajar Pak Dian menumbuhkan rasa ingin tahunya terhadap ilmu pengetahuan, khususnya fisika, serta membuatnya tertarik memahami berbagai peristiwa dan cara dunia bekerja.

"Pak Dian menjadi salah satu guru yang membuat saya tertarik mempelajari bagaimana dunia ini bekerja. Dari beliau, saya mulai menyukai IPA, terutama fisika," ungkapnya.

Ketertarikannya pada fisika berkembang menjadi kegemaran pada aktivitas yang melatih logika seperti berhitung, bermain rubik, dan sudoku. Di luar akademik, Q juga gemar bermain gim dan badminton, olahraga yang dikenalnya sejak kecil bersama ayahnya.

Karena mudah bosan, ia terbiasa mengisi waktu dengan berbagai kegiatan, termasuk berolahraga, membersihkan rumah, dan memasak. Kebiasaan tersebut membentuknya menjadi pribadi yang aktif dan selalu terdorong untuk belajar.

Perjalanan akademik Q tidak selalu berjalan mulus. Di tengah berbagai kegagalan, ia bersama Rio dan Nafiis berhasil meraih juara pertama kompetisi esai nasional bidang teknik sipil dan perencanaan di Universitas Negeri Yogyakarta.

Apresiasi dosen penilai yang mendorong pengembangan dan pematenan gagasan tersebut semakin menguatkan minat Q terhadap Teknik Sipil. Ia berharap ide itu tidak berhenti sebagai karya lomba, tetapi dapat diwujudkan menjadi solusi nyata.

"Daripada gagasan itu hanya digunakan untuk lomba, menurut saya lebih baik direalisasikan. Apalagi, dosen di UNY mengatakan bahwa pemikiran kami bagus dan sebaiknya dikembangkan lebih lanjut," ujarnya.

Minat Q terhadap konstruksi juga dipengaruhi oleh sang kakek yang pernah bekerja sebagai kuli bangunan. Ia melihat banyak lahan dan bangunan tidak terpakai di Madiun yang dapat dikembangkan menjadi ruang produktif bagi masyarakat. Bahkan, Q memiliki mimpi futuristis untuk suatu hari berkontribusi dalam pembangunan fasilitas di bulan.

"Saya ingin tempat-tempat kosong di Madiun dapat dikembangkan menjadi bangunan yang bermanfaat bagi masyarakat. Saya juga pernah berpikir, mungkin suatu hari nanti bisa ikut membangun rumah di bulan," katanya.

Keinginan tersebut membawanya memilih ITB sebagai tempat melanjutkan pendidikan. Q pertama kali mengenal ITB ketika masih berusia sekitar empat atau lima tahun.

Saat itu, ia melewati kawasan kampus bersama orang tuanya setelah mengunjungi kebun binatang di Bandung. Ayahnya kemudian memperkenalkan tempat tersebut sebagai Institut Teknologi Bandung.

"ITB terasa cocok bagi saya karena sejak awal saya memang ingin melanjutkan pendidikan di bidang teknik, terutama Teknik Sipil," tuturnya.

Kegagalan pada jalur SNBP menjadi titik balik dalam perjalanan Q menuju ITB. Sebelumnya, ia cukup percaya diri karena memiliki nilai akademik yang baik, menempati peringkat ketiga siswa eligible, serta mempunyai sertifikat kompetisi. Namun, setelah dinyatakan tidak lolos, ia meningkatkan intensitas belajar untuk menghadapi UTBK, baik secara mandiri maupun di tempat bimbingan belajar.

"Setelah tidak lolos SNBP, saya mulai belajar lebih serius karena ITB memang menjadi kampus impian saya. Saya pernah belajar di tempat les dari siang sampai malam," katanya.

Q menerapkan pola belajar bertahap dengan mencatat seluruh materi subtes, mengerjakan latihan soal, mengikuti try out, lalu mengevaluasi bagian yang masih lemah. Proses belajar, latihan, dan evaluasi tersebut terus diulang hingga pelaksanaan UTBK.

Tantangan terbesarnya adalah rasa malas dan kecenderungan membandingkan hasil dengan teman-teman yang memperoleh nilai lebih tinggi. Untuk mengatasinya, ia berusaha berada di lingkungan yang rajin belajar dan memilih fokus pada perkembangan dirinya sendiri.

"Saya mencoba tidak terlalu melihat nilai orang lain agar tetap fokus memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kemampuan saya," ujarnya.

Usaha tersebut membawanya diterima di ITB melalui jalur SNBT. Setelah menjadi mahasiswa FTSL-ISLK dan tinggal di Asrama ITB Kampus Jatinangor, Q kembali menghadapi tantangan baru.

Q bertemu dengan banyak mahasiswa berprestasi, termasuk teman sekamar dengan capaian UTBK dan olimpiade yang tinggi. Lingkungan tersebut sempat membuatnya khawatir tertinggal, tetapi sekaligus menjadi dorongan untuk terus berkembang.

"Di ITB banyak sekali orang hebat. Saya memang khawatir tidak bisa mengikuti ritmenya, tetapi hal itu justru membuat saya semakin termotivasi untuk belajar dan berusaha," tuturnya.

Selama menjalani pendidikan di ITB, Q menargetkan indeks prestasi di atas 3,5 dan menyelesaikan kuliah tepat waktu. Setelah memperoleh gelar sarjana, ia berencana melanjutkan pendidikan magister. Pilihan lainnya adalah mengikuti Program Profesi Insinyur.

Lebih jauh, Q ingin menghasilkan inovasi yang dapat digunakan oleh masyarakat secara luas. Ia menekankan bahwa manfaat teknologi dan pembangunan tidak seharusnya hanya dapat diakses oleh kelompok yang mempunyai kekuasaan atau kemampuan ekonomi.

"Saya ingin menghasilkan inovasi atau penemuan yang dapat diakses semua orang, bukan hanya mereka yang memiliki kuasa atau uang," ujarnya.

Bagi ITB, Q ingin menjadi mahasiswa yang dapat memberikan manfaat kepada lingkungan kampus. Bagi masyarakat Madiun, ia ingin membawa pengetahuan dan pemikirannya untuk mendukung keberlanjutan pembangunan infrastruktur daerah. Sementara itu, salah satu impian yang paling personal adalah menyelesaikan pendidikan dan mempersembahkan kelulusannya kepada kedua orang tuanya, Teguh Yunianto dan Sriyani.

"Saya tidak sabar memakaikan toga dan medali kelulusan kepada ayah dan ibu saya. Untuk Madiun, nantikan inovasi dan pemikiran saya bagi kelanjutan infrastrukturnya," tutur Q.

Nama Q mungkin hanya terdiri atas satu huruf. Namun, di balik kesederhanaan nama tersebut terdapat harapan keluarga, kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, keberanian menghadapi kegagalan, dan mimpi panjang untuk menghadirkan pembangunan yang dapat dirasakan banyak orang.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Peraih Anugerah Program Inovasi Pembangunan Terpuji detiktimur Awards"
[Gambas:Video 20detik] (ral/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads