Hamparan sawah di Desa Sukareja, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, kini berubah menjadi lahan kering kerontang. Tanah yang semestinya menjadi tempat tumbuhnya padi justru tampak retak, sementara balong atau waduk setempat ikut mengering akibat minimnya pasokan air.
Di tengah kondisi tersebut, benih padi yang telah ditanam para petani nyaris tak memiliki harapan untuk tumbuh dan berkembang. Tanaman yang membutuhkan cukup air untuk bertahan pada masa awal pertumbuhannya harus berhadapan dengan tanah yang semakin keras dan kering.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi petani, kondisi ini bukan sekadar persoalan lahan. Ada biaya dan tenaga yang telah dikeluarkan untuk mengolah sawah hingga menanam benih, namun hasilnya kini terancam sia-sia.
Carya (54), salah seorang petani setempat, mengaku hanya bisa pasrah melihat kondisi sawahnya. Kekeringan membuat dirinya tidak memiliki banyak pilihan untuk menyelamatkan tanaman yang sudah ditanam.
"Saya hanya bisa pasrah dengan kondisi yang ada," ujar Carya, saat ditemui di pematang sawah, Senin (10/8/2026) sore.
Saat ditemui di sawah, Carya beraktivitas bukan untuk sawahnya, tapi ia mencari rumput-rumput liar untuk kambingnya di rumah.
Kondisi kekeringan di sejumlah wilayah Indramayu memang menjadi perhatian pemerintah daerah. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Indramayu, Sugeng Heryanto, mengatakan kekeringan tahun ini dipengaruhi kondisi El Nino yang diperkirakan berlangsung cukup panjang.
"Memang berangkat dari informasi dari teman-teman BMKG bahwa El Nino tahun 2026 ini kelihatannya agak panjang. Imbasnya sampai dengan bulan September, bahkan Oktober," kata Sugeng kepada detikJabar, Senin (10/8/2026).
Menurut dia, Kabupaten Indramayu memiliki luas lahan pertanian sekitar 125 ribu hektare. Hingga akhir Juli 2026, sekitar 90 persen atau kurang lebih 113 ribu hektare di antaranya telah ditanami.
Dari lahan yang telah ditanami tersebut, hasil pemantauan Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat bersama DKPP Indramayu menunjukkan sekitar 12.900 hektare masuk kategori terdampak kekeringan.
Kondisinya bervariasi, mulai dari kekeringan ringan, sedang hingga berat. Meski demikian, Sugeng menyebut hingga kini belum ada lahan yang masuk kategori puso.
"Yang masuk dalam kategori kekeringan itu ada kekeringan ringan, kekeringan sedang, dan kekeringan berat. Belum ada yang puso," ujarnya.
Sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan tersebar di beberapa kecamatan, di antaranya Gabuswetan, Kandanghaur, Sukra, Patrol, Losarang hingga wilayah Indramayu bagian timur.
Dari total sekitar 12.900 hektare tersebut, kurang lebih 8.900 hektare berada dalam kategori waspada, sementara sebagian lainnya masuk kategori sedang.
Menghadapi ancaman kekeringan yang masih berpotensi berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, pemerintah berupaya menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian.
Sugeng mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung maupun BBWS Citarum. Sejumlah langkah dilakukan, mulai dari normalisasi saluran, penambahan debit air hingga pengaturan jadwal distribusi air secara bergiliran.
"Karena keterbatasan air, jadi kita berbagi dengan memanfaatkan kondisi air yang ada melalui jadwal gilir-giring air," katanya.
Upaya tersebut juga melibatkan TNI, Polri, camat dan Satpol PP untuk membantu petani menghadapi kondisi kekeringan di lapangan.
Namun, bagi petani seperti Carya, bantuan air menjadi sesuatu yang sangat dinantikan. Di tengah tanah sawah yang mulai retak dan balong yang mengering, harapan untuk melihat benih padi tumbuh kini bergantung pada datangnya air.
Sebab, bagi petani, setetes air di musim kemarau bukan sekadar membasahi tanah. Air menjadi penentu apakah benih yang telah ditanam akan tumbuh menjadi tanaman padi atau justru berakhir sebagai kerugian.
(sud/sud)
