Ketika sebagian anak muda memilih menghabiskan waktu senggang dengan bersantai atau sekadar nongkrong di kafe, Indy Rachmawati (23) justru akrab dengan kepulan uap wajan dan aroma kencur yang menyengat. Mahasiswi semester enam asal Pangandaran ini memilih berjualan seblak demi menyambung asa pendidikan dan menopang ekonomi keluarga.
Bagi Indy, kosakata gengsi sudah ia buang jauh-jauh dari kamus hidupnya. Baginya, setiap peluh yang menetes adalah ibadah, asalkan berasal dari cara yang halal. Di usianya yang masih muda, Indy harus piawai memainkan dua peran sekaligus dengan ritme yang terjaga.
Pagi hingga siang ia berkutat dengan diktat kuliah, sementara sisa harinya dihabiskan untuk mengelola kedai seblak yang ia rintis enam bulan terakhir. Lapak sederhananya berdiri tegak di Blok Ciorai, Dusun Nyalindung, Desa Masawah, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, Indy memikul tanggung jawab moral yang besar. Adiknya masih duduk di bangku MTs, sementara sang ayah berjuang di garis depan sebagai petani. Kondisi ekonomi keluarga inilah yang memicu kobaran semangat Indy. Ia tak ingin berpangku tangan melihat ibunya berjuang sendirian. Baginya, membantu keluarga tak perlu menunggu selembar ijazah sarjana ada di tangan.
"Sudah enam bulan saya membantu keluarga melalui jualan seblak. Alhamdulillah kalau hari libur banyak pelanggan. Bisa juga diantarkan kepada orang yang pesan melalui media sosial," kata Indy, ditemui di kedai seblaknya, Minggu (9/8/2026).
Nasib pedagang memang bak roda yang berputar. Saat dewi fortuna berpihak, Indy bisa mengantongi omzet Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per hari. Namun, ada kalanya ia harus mengelus dada saat pembeli sepi dan pendapatan hanya cukup untuk memutar modal kembali. Meski begitu, lesunya pembeli tak pernah sanggup memadamkan semangatnya.
Setiap porsi seblak yang ia racik adalah ruang kelas baginya. Di sana, ia belajar tentang manajemen keuangan, seni melayani pelanggan, hingga cara menjaga konsistensi rasa di tengah fluktuasi harga bahan baku yang tak menentu.
Agar dagangannya bisa menjangkau semua kalangan, Indy menerapkan strategi harga yang sangat merakyat. Ia menyediakan beragam pilihan toping dengan harga yang tak menguras dompet. Indy mengaku bahan baku seblak relatif mudah ia temukan di pasar lokal. Untuk isian, pelanggan bebas memilih sesuai selera dengan rentang harga mulai dari Rp1.000 hingga Rp5.000 saja.
"Kalau bahan bakunya gampang dicari. Kemudian topping atau bahan yang dibeli pelanggan itu dari Rp1.000 sampai Rp5.000. Tentu bervariasi harganya, tergantung kesukaan pelanggan," terangnya.
Konsep "seblak prasmanan" dengan harga miring ini terbukti ampuh memikat lidah anak muda di Cimerak, terutama mereka yang memuja rasa pedas dengan pilihan isian yang variatif. Meski jadwalnya padat antara tugas kuliah dan melayani pembeli, Indy tak pernah mengeluh. Ia justru melihat rutinitas ini sebagai kawah candradimuka untuk membentuk mentalnya di masa depan.
"Saya tentu tidak malu jualan seblak karena ini pekerjaan halal. Semoga bisa menjadi motivasi bagi teman-teman yang merasa sulit mencari pekerjaan. Saya juga sambil membantu mamah, sedangkan ayah bekerja sebagai petani," ucap Indy.
Suasana di kedai seblak Indy di Pangandaran Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar |
Indy sadar betul bahwa mencari kerja di era sekarang bukan perkara mudah. Namun, ia percaya bahwa peluang tidak datang kepada mereka yang hanya menunggu, melainkan kepada mereka yang mau menjemputnya dengan usaha. Ia memilih untuk tidak larut dalam keluhan tentang sulitnya lapangan kerja. Sebaliknya, ia menciptakan lapangan kerjanya sendiri dari dapur rumahnya. "Selagi kita bisa menggali potensi untuk mencari pendapatan, kenapa harus mengeluh. Tentu harus tetap semangat," ungkap Indy.
Prinsip baja inilah yang membuatnya tetap tegak berdiri meski hasil jualan tak selalu sesuai ekspektasi. Baginya, setiap hari yang sepi adalah ujian kesabaran, dan setiap hari yang ramai adalah bonus dari kerja keras.
"Jualan tidak setiap hari sama penghasilannya. Bisa dapat banyak, bisa sekadar balik modal, bisa juga sepi pembeli. Namun, dari situlah mental dan kesabarannya ditempa," tuturnya.
Menariknya, di tengah riuh rendah program Makan Bergizi Gratis (MBG), Indy mengaku usahanya tetap stabil. Baginya, seblak memiliki pangsa pasar tersendiri yang tak tergantikan oleh menu makanan pokok lainnya. Tantangan nyata yang ia hadapi justru bukan dari program pemerintah, melainkan dari harga komoditas pasar, terutama daging ayam yang sering kali harganya melonjak tak terduga.
"Kalau adanya MBG tidak berpengaruh bagi saya, karena di MBG tidak ada seblak. Alhamdulillah jualan tetap stabil. Hanya harga daging ayam kadang naik dan kadang turun," papar Indy.
Kisah Indy adalah potret kemandirian anak muda di tengah keterbatasan. Ia adalah bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah tembok penghalang, melainkan batu loncatan untuk melompat lebih tinggi. Di balik setiap mangkuk seblak yang ia sajikan, ada doa untuk orang tua, ada harapan untuk adik-adiknya, dan ada tabungan untuk biaya kuliah yang ia kumpulkan rupiah demi rupiah. "Menurut saya jangan malu untuk bekerja, jangan gengsi memulai dari bawah, dan jangan terlalu lama mengeluh ketika peluang masih bisa diciptakan," ucapnya.
Sebab, bagi Indy, kehormatan seseorang tidak ditentukan oleh jenis pekerjaannya, melainkan oleh keberaniannya untuk berjuang di tengah kesulitan. Ketulusan Indy dalam berjualan pun berbuah manis. Pelanggannya tak hanya datang dari lingkungan sekitar. Madsuki, seorang warga Cimerak, bahkan rela melewati beberapa warung seblak lain demi bisa mencicipi racikan tangan Indy.
Bagi Madsuki, ada rasa yang berbeda dan kenyamanan tersendiri saat jajan di tempat Indy. "Sebenarnya di kampung saya juga ada. Tapi saya lebih nyaman beli di sini. Rasanya enak dan bisa sesuai dengan yang saya inginkan. Saya juga sering jajan seblak di sini," ucapnya.
(iqk/iqk)

