Sungai Cikeruh Mengering, Petani Bandung Hadapi Ancaman Gagal Panen

Sungai Cikeruh Mengering, Petani Bandung Hadapi Ancaman Gagal Panen

Wisma Putra - detikJabar
Senin, 03 Agu 2026 17:00 WIB
Penampakan kekeringan di Cileunyi-Rancaekek, Kabupaten Bandung.
Penampakan kekeringan di Cileunyi-Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

Ratusan hektare persawahan di Kecamatan Cileunyi dan Rancaekek, Kabupaten Bandung, kini berada di ambang puso atau gagal panen. Kondisi ini dipicu oleh musim kemarau panjang yang mengakibatkan debit air di Sungai Cikeruh menyusut drastis.

Krisis air memaksa para petani mengeluarkan biaya operasional ekstra. Demi menyelamatkan tanaman, mereka harus menarik air menggunakan pompa dari sumber yang jaraknya mencapai ratusan meter dari area pesawahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan pantauan di lapangan pada Senin (3/8/2026), lahan persawahan di kawasan Kecamatan Cileunyi, tepatnya di sekitar Jembatan KCIC Tegalluar, menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Tanah mulai mengering dan retak-retak karena sumber air yang kian sulit dijangkau. Sungai Cikeruh yang selama ini menjadi tumpuan irigasi pun nyaris kering dan hanya menyisakan sedikit aliran.

Kondisi serupa terlihat di wilayah Tegal Sumedang, Kecamatan Rancaekek. Kekeringan yang meluas mengancam keberlangsungan usaha tani warga setempat.

ADVERTISEMENT

Jajang (50), salah satu petani di kawasan tersebut, mengungkapkan kekhawatirannya atas ancaman gagal panen yang sudah di depan mata.

"Kegagalan hampir puluhan hektare, gosong padinya, punya saya juga 1.500 tumbak, tadinya terjangkau air, sekarang tidak," kata Jajang kepada detikJabar.

Untuk mempertahankan 1.500 tumbak sawahnya, Jajang terpaksa membeli air dengan sistem sewa pompa per jam. Hingga kini, ia telah menghabiskan waktu ratusan jam demi memastikan sawahnya tetap teraliri air.

"Beli airnya per jam, 1 jam Rp35 ribu, buat mengairi sawah, saya sudah beli 135 jam, menyelamatkan supaya sawah diairi lagi," ujarnya.

Jarak tempuh pengambilan air pun menjadi kendala utama. Jajang harus menarik air dari lokasi yang cukup jauh karena sumber air di sekitar lahannya sudah tidak lagi tersedia.

"Saya ambil air jauhnya sekitar 1,5 kilometer, airnya di kawasan Tegalluar di DAM, dekat sini sudah kering airnya," tambahnya.

Situasi sulit ini memaksa sejumlah petani mengambil langkah alternatif. Sebagian mulai mengalihfungsikan lahan mereka untuk menanam komoditas yang lebih tahan kering.

"Ada juga di sini, jadi palawija. Ada sawah jadi kebun, ada yang belum ditanam, ada juga yang dijadikan palawija," tuturnya.

Jajang menjelaskan bahwa tanaman padi yang terdampak puso menunjukkan gejala fisik yang khas, yakni perubahan warna pada daun sebelum akhirnya mati total.

"Ke sini puso, itu merah-merah, gagal total, itu harus nunggu saja hujan baru bisa ditanami lagi," jelasnya.

Kerugian finansial akibat fenomena ini pun tergolong besar. Para petani harus menanggung hilangnya modal yang telah dikeluarkan sejak awal masa tanam.

"Kalau puso kerugiannya, bibit, traktor, tandur dan pupuk. 100 rumbak kerugiannya sekitar Rp3 juta," pungkasnya.



(wip/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads