Kekeringan di Karawang mulai memuncak. Belasan ribu jiwa kesulitan mendapatkan air bersih, sementara pengiriman air dari pemerintah terbatas.
Hal itu diungkapkan Aang (47), warga Kampung Tegalmalang, Desa Cintalanggeng, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang. Ia menuturkan kekeringan melanda desanya sejak dua bulan terakhir.
"Kita kekeringan sudah hampir 2 bulan, pertama sulit air sekitar awal bulan Mei, di sini ada kurang lebih 215 KK yang membutuhkan air," kata Aang, saat diwawancarai detikJabar, Jumat (31/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aang menuturkan, tangki pengiriman air dari pemerintah daerah hanya berjumlah satu tangki 8.000 liter dalam sehari, sedangkan rata-rata kebutuhan masyarakat mencapai 200 liter per KK sehari.
"Mobil tangki sehari sekali, itu pun antrian warga kadang gak kebagia semua, padahal rata-rata saya di rumah yang tinggal hanya berdua saja butuh hampir 200 liter, untuk keperluan mandi, masak, tanpa mencuci baju," kata dia.
Jika hanya 8.000 liter sehari, kata Aang, praktis hanya bisa mencukupi 40 KK. Kendati demikian, warga tetap rela berbagi meski sedikit karena sulitnya mendapatkan air bersih.
"Kita harus tetap berbagi kadang satu keluarga hanya dapat 2 ember, karena di sini susah dapat air bersih. Jaraknya juga jauh, harus ke desa lain yang punya sumber mata air, itu pun pasti antreannya panjang," ungkapnya.
Aang sendiri sering kali harus mengambil air bersih menggunakan sepeda motor di sumber mata air Cikahuripan yang berlokasi di Desa Cintawargi. Bukan hanya soal jarak yang jauh, proses untuk mendapatkan dua jeriken air 40 liter saja perlu waktu hampir tiga jam untuk antre.
"Saya sering ngambil air ke Cikahuripan, jaraknya lumayan 15 menit dari sini, bukan soal jarak aja. Karena untuk mengisi 2 jerigen air saja saya perlu antri 2-3 jam karena saking banyaknya orang yang mengantre," papar Aang.
Ia berharap, pemerintah daerah bisa lebih aktif dalam menangani bencana kekeringan ini. "Hampir setiap tahun kita kekeringan, dari tahun ke tahun memang hanya satu mobil tangki yang bisa diandalkan, saya harap pemerintah bisa lebih tanggap untuk mengatasi masalah kekurangan air ini," imbuhnya.
Sementara itu, melansir data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang, tercatat kurang lebih 12.155 jiwa terdampak kekeringan.
"Kami mencatat daerah-daerah yang dilanda kekeringan, dari Juni sampai dengan saat ini terdapat 4.044 kepala keluarga (KK) yang terdiri atas 12.155 jiwa di sembilan desa terdampak musim kemarau," kata Kepala Bidang Kedaruratan Logistik BPBD Karawang Ferry Muharram.
Sembilan desa di empat kecamatan yang dilanda kekeringan antara lain Kecamatan Tegalwaru, Ciampel, Pangkalan, dan Telukjambe Barat. Wilayah yang paling parah terdampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini adalah Kecamatan Tegalwaru.
"Yang paling parah kecamatan Tegalwaru, ada 2 desa yakni Cintalanggeng dan Kutalanggeng. Meski hanya 2 desa yang terdampak jumlah warga yang terdampak kekeringan cukup banyak, mencapai 1.386 KK dengan 3.876 jiwa," ungkap Ferry.
Ferry menyampaikan, pihaknya telah berupaya bersama pihak terkait untuk mengatasi dampak kekeringan tersebut, sejak dinyatakan waspada kekeringan pada 11 Juni 2026 lalu.
"BPBD Karawang bersama pihak terkait terus mendistribusikan air bersih ke desa-desa yang dilanda krisis air. BPBD Karawang akan terus memantau perkembangan bencana kekeringan dan menyalurkan bantuan air bersih selama musim kemarau berlangsung," pungkasnya.
Simak Video "Video: Siap-siap! Puncak Kemarau Diprediksi pada Agustus dan Lebih Kering"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
