Tren kasus kebakaran di Kabupaten Kuningan melonjak signifikan seiring masuknya musim kemarau. Embusan angin kencang dan kondisi lingkungan yang kering memicu api lebih mudah menjalar.
Kepala UPT Damkar Kuningan, Andri Arga Kusuma, memaparkan data bahwa sepanjang Januari hingga Juli 2026, terdapat sekitar 50 kasus kebakaran yang ditangani. Rinciannya, kebakaran rumah atau bangunan 24 kali, lahan 11 kali, pohon 5 kali, kandang ayam 3 kali, tabung gas 4 kali, limbah atau sampah 2 kali, dan korsleting listrik 1 kali.
Arga menjelaskan, pada musim panas ini intensitas kebakaran memang meningkat. Dalam sehari, personel Damkar Kuningan bahkan bisa menangani hingga tiga peristiwa kebakaran sekaligus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jumlah kebakaran Januari sampai Juli 50 penanganan. Mayoritas kebakaran bangunan dan lahan. Di musim kemarau memang mengalami peningkatan kayak di Hari Sabtu kemarin sehari kita tiga kali. Pagi pabrik tripleks, siangnya lahan di Jepara, sorenya lahan di Kertayasa, Sindangagung. Paling parah bisa seluas satu hektar yang terbakar," tutur Arga, Jumat (31/7/2026).
Arga memaparkan, kebakaran tersebut mayoritas dipicu ulah manusia, seperti meninggalkan sisa pembakaran yang belum padam hingga membuang puntung rokok sembarangan. Kondisi ini diperparah embusan angin kencang yang memudahkan api berkobar cepat.
"Pemicunya kebanyakan bakar sampah. Terutama hari Jumat itu, suka Jumsih (Jumat Bersih) terus ditinggalin, nggak ditunggu. Bakar sampahnya dekat pohon, yah terbakar. Ada juga karena rumput kering, lempar puntung rokok, ya nyala terkena angin. Atau pakai alat penghangat batu bara, cuman karena udah pada tidur gitu. Disaat angin kencang abunya terbang ke bangunan yang kayu ya sudah, nyala. Dan itu sulit kan langsung habis satu kandang. Untuk korban jiwa itu belum ada, paling kerugian materi seperti kemarin ribuan ayam hangus terbakar," tutur Arga.
Arga menyebutkan, meski hampir semua laporan tertangani, Damkar Kuningan masih dihadapkan pada kendala geografis. Luasnya wilayah jangkauan tidak sebanding dengan jumlah pos pemadam yang hanya tersedia satu unit di pusat Kota Kuningan. Akibat kendala jarak tersebut, fokus penanganan sering kali dialihkan untuk mencegah potensi bahaya yang lebih besar, seperti meminimalisasi perambatan ke permukiman.
"Paling juga hambatan yang terberat itu karena jarak saja, jarak yang jauh. Kita kan posnya cuma satu di kota ya, sedangkan kita melayani 32 kecamatan. Jadi kita mencapai ke sana itu targetnya bukan untuk memadamkan mengurangi kerusakan dan materi yang terbakar, tapi tidak merambat ke tetangga, ke sebelah, targetnya itu. Ketika pohon di pemukiman atau dekat ada rumah warga terbakar, kami pasti berangkat. Karena bukan melihat kecil besarnya api, tapi efek dari kebakaran nanti bisa meluas," tutur Arga.
Guna mencegah lonjakan angka kebakaran di puncak kemarau, Andri mengimbau masyarakat Kabupaten Kuningan untuk meningkatkan kewaspadaan dan menghentikan kebiasaan membakar sampah tanpa pengawasan. Ia juga mengingatkan warga agar tidak meremehkan percikan api sekecil apa pun.
"Dengan cuaca ekstrem ini, cuaca kemarau panjang, masyarakat diimbau jangan sengaja untuk membakar sampah tanpa ditunggu. Kalau mau bakar sampah, ya ditunggu sampai padam, sampai sampahnya benar-benar habis. Tapi kalau baiknya sih jangan. Jangan karena kering pengen ngebakar sampah, karena efeknya yang sudah-sudah itu sangat berbahaya," pungkas Arga.
Simak Video "Video: Siap-siap! Puncak Kemarau Diprediksi pada Agustus dan Lebih Kering"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
