Ciamis Siaga Kekeringan, Dua Desa Mulai Krisis Air Bersih

Dadang Hermansyah - detikJabar
Kamis, 09 Jul 2026 16:30 WIB
BPBD Ciamis mendistribusikan air bersih di Dusun Cibeureum, Desa Cibadak, Banjarsari. (Foto: Istimewa)
Ciamis -

Pemerintah Kabupaten Ciamis resmi menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Keputusan ini diambil menyusul krisis air bersih yang mulai melanda sejumlah titik pada musim kemarau 2026. Hingga awal Juli, dua desa di Kecamatan Banjarsari telah melaporkan kesulitan air dan meminta bantuan distribusi ke BPBD Ciamis.

Kepala Pelaksana BPBD Ciamis, Ani Supiani, mengungkapkan bahwa penetapan status ini merujuk pada hasil pantauan lapangan yang menunjukkan penurunan pasokan air bersih bagi warga. Kondisi tersebut diperparah dengan nihilnya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir, prediksi cuaca BMKG, serta instruksi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

"Status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan ini ditetapkan karena dari hasil monitoring di lapangan sudah ada masyarakat di beberapa wilayah yang mulai kekurangan air bersih. Di sisi lain, musim kemarau juga sudah mulai terasa, ditandai dengan tidak adanya hujan di sejumlah wilayah Kabupaten Ciamis," ujar Ani, Kamis (9/7/2026).

Langkah ini juga menjadi tindak lanjut atas Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 1404/PB.02/BPBD dan Surat Edaran Bupati Ciamis Nomor 300.2/Kpts.314-Huk/TAHUN 2026 terkait kesiapsiagaan bencana tahun 2026. Meski demikian, BPBD menilai dampak kekeringan tahun ini belum seintens kemarau panjang pada 2023 lalu.

"Kalau dibandingkan dengan tahun 2023, laporan kekeringan saat ini memang belum sebanyak waktu itu. Tetapi kami tetap siaga karena beberapa wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi sudah mulai menunjukkan gejala kekurangan air bersih," katanya.

BPBD telah memetakan delapan kecamatan dengan risiko kekeringan tertinggi, meliputi Banjaranyar, Pamarican, Cimaragas, Banjarsari, Cidolog, Cipaku, Cihaurbeuti, dan Cijeungjing. Saat ini, dampak nyata dilaporkan terjadi di Desa Kawasen dan Desa Cibadak, Kecamatan Banjarsari.

Di Desa Cibadak, krisis air melanda Dusun Cibeureum akibat mengeringnya sumur gali warga. Sebanyak 171 kepala keluarga atau sekitar 513 jiwa kesulitan memenuhi kebutuhan harian seperti memasak dan mandi. Sementara di Desa Kawasen, bantuan air bersih telah disalurkan ke Dusun Panamun yang berdampak pada 140 kepala keluarga (429 jiwa).

Ani menjelaskan, minimnya sarana air bersih di Banjarsari mempercepat dampak kekeringan. Saat ini hanya tersedia satu Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Desa Purwasari untuk melayani wilayah tersebut.

"Begitu ada laporan dan hasil asesmen menunjukkan warga mulai kesulitan air, kami langsung menyiapkan langkah penanganan, termasuk distribusi air bersih sesuai kebutuhan dan skala prioritas di lapangan," ucapnya.

Sebagai langkah mitigasi, BPBD Ciamis rutin memantau sumber air permukaan dan berkoordinasi intensif dengan BMKG. Armada mobil tangki dan tandon air telah disiagakan untuk distribusi cepat jika cakupan wilayah terdampak meluas. Koordinasi lintas sektoral dengan PDAM, Dinas PUPRP, hingga relawan juga terus diperkuat.

"Kami juga mendorong pencarian sumber air baru di wilayah rawan, menyiapkan tempat penampungan air saat distribusi, serta menyosialisasikan surat edaran Bupati Ciamis tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana kekeringan," kata Ani.

Ia menekankan pentingnya efisiensi penggunaan air oleh masyarakat selama musim kemarau. Warga juga diminta waspada terhadap potensi kebakaran dengan tidak melakukan aktivitas pembakaran secara sembarangan.

"Masyarakat kami imbau untuk memanfaatkan sumber air yang ada secara hemat dan efisien. Selain itu, jangan membakar sampah, hutan, atau lahan sembarangan, jangan membuang puntung rokok di area yang rawan terbakar, dan sebisa mungkin menjaga sumber-sumber air yang ada," ujar Ani.

Ke depan, BPBD mendorong pemerintah desa untuk membangun infrastruktur jangka panjang seperti embung atau penampungan air hujan guna meminimalisir dampak kekeringan di tahun-tahun mendatang.

"Kalau memungkinkan, wilayah yang rawan kekeringan perlu didorong untuk memiliki embung atau sarana penampungan air. Di sisi lain, hutan dan kawasan resapan air juga harus dijaga agar sumber air tidak semakin berkurang saat musim kemarau datang," pungkasnya.



Simak Video "Video: Krisis Air Bersih di Kadujajar, 2 Km Ditempuh Demi Setetes Air Bersih"

(dir/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork