Gunung Anjing hingga Wayang Jadi Zona Merah Karhutla di Bandung

Gunung Anjing hingga Wayang Jadi Zona Merah Karhutla di Bandung

Yuga Hassani - detikJabar
Rabu, 08 Jul 2026 17:30 WIB
Gunung Wayang Pangalengan
Gunung Wayang Pangalengan (Foto: Perhutani KPH Bandung Selatan)
Kabupaten Bandung -

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung memetakan sejumlah titik rawan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) guna menghadapi kemarau panjang 2026. Wilayah perbukitan dan pegunungan menjadi fokus utama pengawasan karena memiliki potensi kerawanan yang tinggi.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bandung, Diki Sudrajat, menyatakan pihaknya telah menggelar rapat koordinasi lintas sektoral bersama dinas terkait hingga tingkat desa dan kecamatan untuk mengantisipasi dampak kekeringan tahun ini.

"Masing-masing wilayah sudah mengantisipasi siaga kebakaran hutan dan lahan yang memang berpotensi terjadi pada musim kemarau ini," ujar Diki, kepada awak media, Rabu (8/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan catatan riwayat kejadian, terdapat lima kecamatan yang masuk dalam zona merah Karhutla. Titik-titik tersebut meliputi Gunung Anjing di Kecamatan Arjasari, Gunung Wayang di Kecamatan Pangalengan, serta kawasan Kawah Putih di Kecamatan Rancabali. Selain itu, kerawanan juga terdeteksi di Desa Cilame, Sukamulya, dan Buninagara yang berada di wilayah Kecamatan Kutawaringin.

ADVERTISEMENT

"Data itu berdasarkan riwayat kejadian sebelumnya. Jadi ada lima kecamatan yang rawan Karhutla," katanya.

BPBD merujuk pada informasi BMKG yang memprediksi sekitar 90 persen wilayah Jawa Barat akan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Kondisi tahun ini diperkirakan lebih kering dibandingkan rata-rata normal.

"Dampak bagi Kabupaten Bandung adalah adanya penurunan curah hujan dari Juni hingga September, terus berkurangnya debit sungai dan mata air, menurunnya kapasitas embung dan irigasi, meningkatnya kebutuhan distribusi air bersih, dan meningkatnya resiko kebakaran hutan dan lahan," jelasnya.

Sejalan dengan langkah BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Kabupaten Bandung turut memperkuat kesiapsiagaan, terutama di area pegunungan yang mulai mengering.

"Apalagi di kabupaten banyak gunung-gunung juga berpotensi kering banget," kata Kadisdamkar Kabupaten Bandung, Iman Irianto Sudjana.

Iman menegaskan bahwa Karhutla telah dikategorikan sebagai bencana, sehingga BPBD menjadi sektor utama dalam penanganannya di setiap daerah.

"Tapi itu juga kita dan BPBD bersinergi untuk melakukan penanganan jika terjadi Karhutla," jelas Iman.

Pihaknya mengimbau masyarakat untuk tidak memicu api secara sengaja, seperti membuang puntung rokok sembarangan atau melakukan pembakaran sampah dan semak belukar.

"Tiga poin itu yang paling banyak menyebabkan kebakaran saat musim kemarau. Jadi kita imbau, arahkan, bahkan kita perintahkan untuk tidak dilakukan hal-hal yang seperti tadi. Itu semua sifatnya preventif yang sudah kami lakukan," katanya.

Dalam hal penanganan di lapangan, Disdamkar telah menyiapkan prosedur cepat untuk memadamkan api pada lahan terbuka dengan metode lokalisir area.

"Terus yang kedua kita lakukan biasanya istilahnya disekat, jadi kita tarik semacam parit untuk supaya enggak melebar ke atas posisinya," jelasnya.

Tantangan teknis yang sering dihadapi petugas adalah sulitnya akses sumber air dan medan yang terjal bagi kendaraan pemadam.

"Itu fakta dan kendala yang dirasakan oleh anggota. Jadi lebih kepada kita ingin mencegah dan mendahului di proses pemadamannya. Terus terang kalau udah udah merembet ke atas kan jangkauan pemadaman juga sulit. Mobil aja susah," ucapnya.

"Nah, kalau yang kayak puntung rokok, bekas pencinta alam atau bekas penggarap lahan kan orangnya udah ke mana, baru dia nyala di situ posisinya. Tapi kalau pembakaran sampah atau semak belukar yang dibakar biasanya relatif masih terjangkau lokasinya," tambahnya.

Berdasarkan data historis, tahun 2023 tercatat sebagai periode dengan frekuensi kebakaran semak belukar tertinggi, di mana petugas bisa menangani hingga tujuh titik api dalam sehari.

"Dari data historis kebakaran semak belukar, belum sampai hutan terbanyak di kondisinya tahun 2023. Di kondisi 2023 itu, sehari ada tujuh kali itu, tujuh titik. Terus dari dari dari frekuensi satu tahunnya juga ratusan lebih," ungkapnya.

Sementara itu, pada tahun 2025 tercatat total 309 kejadian kebakaran dengan 19 di antaranya merupakan kebakaran lahan. Memasuki semester pertama 2026 (Januari hingga Juni), Disdamkar mencatat telah terjadi 199 kebakaran, dengan 16 kejadian melibatkan lahan atau semak belukar.

"Untuk kejadian kebakaran pada tahun 2025 tercatat kebakaran lahan atau semak belukar yakni 19 kejadian kebakaran," kata Iman.

"Untuk kejadian kebakaran pada tahun 2026 tercatat kebakaran lahan atau semak belukar yakni 16 kejadian kebakaran," bebernya.

Iman kembali mengingatkan masyarakat agar tidak ceroboh saat berada di area terbuka yang kondisinya sedang kering.

"Nah, jangan buang rokok jangan sembarangan, matikan yang benar. Terakhir jangan bakar sampah sembarangan, jangan bakar alang-alang," jelas Iman.

Sebagai langkah awal, masyarakat dapat menggunakan kain basah atau Alat Pemadam Api Ringan (APAR) untuk memadamkan api skala kecil. Namun, jika api mulai tidak terkendali, warga diminta segera menghubungi layanan darurat.

"Tapi kalau api sudah membesar, tidak ada kata lain, segera hubungi Damkar. Melalui call center yang sudah kita berikan," pungkasnya.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads