Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya tancap gas menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Dampak kemarau panjang akibat perubahan cuaca ekstrem mulai memicu krisis air bersih serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Langkah itu diambil setelah BMKG memprediksi puncak kemarau akan terjadi pada Agustus 2026 akibat dampak El Nino, ditambah dengan terbitnya Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 360/Kep.307-BPBD/2026 tentang Status Siaga Darurat Kekeringan dan Karhutla.
Untuk merespons itu, BPBD bersiap membentuk Satgas Kesiapsiagaan Menghadapi Musim Kemarau Tahun 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentu kami pemerintah berupaya menanggulangu dampak cuaca eaktrim ini. Kami sudah lakukan rakor," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Roni kepada detikJabar, Selasa (30/6/2026).
Roni menyebut rakor yang dihadiri berbagai pihak tersebut fokusnya adalah memperkuat sinergi agar potensi bencana kekeringan bisa diantisipasi sejak dini.
BPBD mengusulkan penerbitan Keputusan Bupati Tasikmalaya tentang Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan serta Karhutla Tahun 2026.
"Dokumen tersebut sebagai dasar dalam pelaksanaan mobilisasi sumber daya, koordinasi lintas sektor, dan pelaksanaan langkah-langkah penanggulangan lainnya," jelas Roni.
BPBD akan membentuk satuan tugas khusus. Satgas ini akan diisi tim gabungan dari berbagai unsur pemangku kepentingan. Tujuannya untuk mengatasi kekeringan.
"Tujuannya agar penanganan bencana kekeringan lebih cepat, terpadu, efektif, dan tepat sasaran," ujar Roni.
BPBD akan menerbitkan imbauan resmi kepada para camat se-Kabupaten Tasikmalaya. Edaran tersebut meminta agar masyarakat hemat dalam menggunakan air.
"Isinya untuk menjaga sumber air dan penggunaan air secara bijak selama musim kemarau," kata Roni.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Abdul Azis Riswandi menyebut pengalaman tahun lalu menjadi acuan. Sejumlah kecamatan rawan kekeringan dan krisis air bersih. Bahkan, potensi kebakaran lahan bisa terjadi.
"Wilayah selatan dan utara Tasikmalaya memang menjadi langganan titik kekeringan saat kemarau memuncak," kata Abdul Azis.
Dia menambahkan, pembentukan Satgas dan status siaga diharapkan bisa mempercepat distribusi bantuan air bersih jika krisis benar-benar terjadi.
Pemkab Tasikmalaya berharap langkah preventif ini mampu meminimalkan dampak El Nino, sehingga warga tidak sampai mengalami krisis air bersih berkepanjangan seperti tahun-tahun sebelumnya.
