Dampak Kemarau, Warga Ciamis Mulai Krisis Air Bersih

Dampak Kemarau, Warga Ciamis Mulai Krisis Air Bersih

Dadang Hermansyah - detikJabar
Jumat, 03 Jul 2026 15:30 WIB
Petugas BPBD Ciamis melaksanakan distribusi air bersih di wilayah Desa Kawasen
Petugas BPBD Ciamis melaksanakan distribusi air bersih di wilayah Desa Kawasen (Foto: Istimewa)
Ciamis -

Dampak musim kemarau mulai memukul wilayah selatan Kabupaten Ciamis dalam beberapa pekan terakhir. Di Dusun Panamun, Desa Kawasen, Kecamatan Banjarsari, ratusan warga kini harus berjuang mendapatkan air bersih lantaran sumur dan sumber air andalan mereka telah mengering.

Data BPBD Ciamis mencatat krisis air ini berdampak pada 140 kepala keluarga atau sekitar 429 jiwa. Secara rinci, wilayah terdampak meliputi RT 26 dengan 76 KK (242 jiwa) dan RT 27 dengan 64 KK (187 jiwa).

Kepala Pelaksana BPBD Ciamis, Ani Supiani, menjelaskan bahwa kondisi ini dipicu oleh minimnya curah hujan dalam beberapa minggu terakhir yang menyebabkan debit air tanah dan sungai menyusut drastis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Peristiwa ini merupakan kekeringan meteorologis. Penyebab utamanya karena sudah beberapa minggu tidak turun hujan, sehingga sebagian sumur warga dan sumber air yang biasa dimanfaatkan masyarakat mengalami kekeringan," ujar Ani, Kamis (2/7/2026).

Laporan mengenai krisis ini diterima BPBD pada Rabu, 1 Juli 2026, setelah pemerintah desa melayangkan surat permohonan bantuan. Hasil asesmen lapangan mengonfirmasi bahwa titik terparah berada di Dusun Panamun.

ADVERTISEMENT

Ani mengungkapkan, sebenarnya terdapat sumber air di Desa Cibadak yang berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi. Namun, air tersebut dinilai tidak layak untuk dikonsumsi.

"Di sekitar lokasi memang ada sumber air, tetapi kualitasnya kurang baik untuk kebutuhan pangan atau minum. Air itu hanya bisa dimanfaatkan untuk mandi dan keperluan nonkonsumsi," katanya.

Sebelum bantuan resmi tiba, warga terpaksa mengandalkan sumur di perbatasan Desa Cibadak dan Desa Kawasen. Namun, sumber tersebut tidak mampu mencukupi kebutuhan karena banyaknya warga yang mengantre, termasuk dari Dusun Pasirjengkol.

"Selama ini masyarakat mengambil air dari sumur di wilayah perbatasan. Tapi debit airnya terbatas, sedangkan yang membutuhkan cukup banyak. Itu sebabnya kami bergerak cepat agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi," tutur Ani.

Sebagai langkah penanganan awal, BPBD Ciamis telah menyalurkan satu tangki air bersih berkapasitas 5.000 liter. Distribusi dipusatkan pada titik tertentu untuk memudahkan akses warga. Selain itu, BPBD berkoordinasi dengan aparat setempat untuk menyiapkan kolam terpal sebagai wadah penampungan sementara.

"Kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah desa dan aparat setempat. Selain distribusi air bersih, kami juga menyiapkan penampungan sementara berupa kolam terpal supaya penyaluran air lebih tertata dan masyarakat lebih mudah mengaksesnya," jelas Ani.

Jarak permukiman warga ke titik distribusi yang berkisar antara 50 hingga 800 meter menjadi perhatian khusus BPBD. Pihaknya memastikan distribusi air harus diperhitungkan secara matang agar tidak menyulitkan kelompok rentan seperti lansia.

BPBD Ciamis berkomitmen untuk terus memantau situasi di lapangan. Jika kemarau terus berlanjut dan permintaan air meningkat, intensitas bantuan akan ditambah.

"Kami terus melakukan pemantauan. Kalau kebutuhan air bersih masih tinggi dan kondisi kekeringan belum membaik, tentu distribusi air akan kami lanjutkan sesuai kebutuhan warga di lapangan," pungkasnya.




(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads