Waspada Karhutla dan Krisis Air di Sukabumi, Ini Titik Rawannya

Waspada Karhutla dan Krisis Air di Sukabumi, Ini Titik Rawannya

Siti Fatimah - detikJabar
Kamis, 09 Jul 2026 00:05 WIB
Ilustrasi kekeringan sebagai dampak El Nino. (Freepik)
Foto: Ilustrasi kekeringan. (Freepik)
Sukabumi -

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi memetakan wilayah yang masuk dalam zona rawan bencana selama musim kemarau tahun ini. Setidaknya ada tiga kecamatan yang kini masuk dalam radar pengawasan ketat akibat potensi krisis air bersih serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kota Sukabumi Suhendar mengungkapkan ketiga wilayah tersebut dipetakan berdasarkan rekam jejak atau historis bencana kekeringan yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk tahun-tahun yang lalu, dampak yang signifikan terjadi kekeringan itu berada di Kecamatan Cibeureum, Kecamatan Lembursitu, dan Kecamatan Baros," ujar Suhendar saat ditemui di kantornya, Rabu (8/7/2026).

Dari ketiga kecamatan tersebut, Suhendar menyebut ada satu wilayah kelurahan yang biasanya mengalami dampak paling parah hingga membutuhkan suplai air bersih dalam jumlah besar. "Yang paling besar itu ada di Kelurahan Cikundul (Kecamatan Lembursitu). Sampai kami banyak mendistribusikan air ke daerah Cikundul tersebut," sambungnya.

ADVERTISEMENT

Suhendar menjelaskan penyusutan debit air sumur menjadi penyebab utama warga di tiga kecamatan tersebut kelimpungan saat kemarau melanda. Sumur-sumur warga mulai mengering hingga tidak bisa lagi digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga.

"Masyarakat itu kekurangan air bersih. Yang mana sumur-sumur yang ada di masyarakat debit airnya berkurang sehingga mereka kekurangan untuk istilahnya masak, minum, seperti itu," jelasnya.

Ancaman Kebakaran Semak Belukar

Bukan hanya krisis air bersih, status Siaga Bencana Kekeringan yang telah ditetapkan BPBD sejak 1 Juli hingga 30 September 2026 ini juga mencakup kewaspadaan terhadap karhutla. Meski Kota Sukabumi tidak memiliki kawasan hutan yang luas, keberadaan semak belukar yang mengering saat kemarau dinilai sangat rawan memicu kobaran api.

"Dampak kekeringan juga tidak hanya krisis air, tetapi juga di sini ada karhutla, kebakaran lahan dan hutan. Kalau di kita tidak ada hutan ya, tetapi kalau semak belukar ada," kata Suhendar.

BPBD mencatat kasus kebakaran semak belukar ini kerap terjadi di musim kering akibat kelalaian manusia. "Kejadian-kejadian tahun yang lalu juga kami pernah mengalami seperti itu. Ada semak-semak yang terbakar," tambahnya.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD Kota Sukabumi telah menyiapkan skema pendistribusian air bersih dengan menggandeng berbagai pihak terkait, mulai dari PDAM, PMI, hingga relawan kebencanaan.

Warga yang berada di zona rawan dan mulai mengalami krisis air diimbau segera melapor secara berjenjang ke pihak kelurahan setempat. BPBD juga meminta masyarakat di tiga kecamatan tersebut untuk mulai menghemat penggunaan air bersih dan tidak memicu aktivitas yang dapat menyebabkan kebakaran lahan.

"Masyarakat dihimbau agar pada waktu musim kering itu, misalkan tidak membuang puntung (rokok) sembarangan ke semak belukar," pungkasnya.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads