Tidur memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tubuh dan otak. Kualitas tidur yang baik membantu tubuh beristirahat, memperbaiki sel, hingga menjaga fungsi kognitif tetap optimal.
Sebaliknya, kurang tidur atau tidur yang tidak berkualitas dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Sejumlah penelitian bahkan menemukan hubungan antara kebiasaan tidur yang buruk dengan penurunan fungsi otak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari Health Harvard, tidur terdiri dari empat tahapan yang saling berkaitan.
Tahap Tidur
Tahap 1
Pada tahap ini, seseorang berada di antara kondisi sadar dan tertidur. Tidur masih tergolong ringan sehingga mudah terbangun.
Tahap 2
Detak jantung dan pernapasan mulai melambat. Pada fase ini, seseorang mulai tidak menyadari lingkungan sekitar.
Tahap 3
Tahap ketiga dikenal sebagai SWS (Slow Wave Sleep) atau tidur nyenyak. Pada fase ini, tekanan darah menurun, otot menjadi rileks, serta tubuh mulai meregenerasi jaringan dan melepaskan hormon penting.
Tahap 4
Tahap terakhir adalah REM (Rapid Eye Movement) atau fase tidur bermimpi. Pernapasan menjadi lebih cepat dan tidak teratur, mata bergerak aktif, sementara aktivitas otak dan detak jantung meningkat.
Kurang Tidur Nyenyak Bisa Ganggu Otak
Sebuah studi menemukan hubungan antara kurangnya tidur nyenyak dan tidur REM dengan penyusutan bagian otak yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer.
"Kami menemukan bahwa volume bagian otak yang disebut daerah parietal inferior menyusut pada orang-orang dengan tidur lambat dan REM yang tidak memadai," kata Cho, dikutip dari CNN.
"Bagian otak itu mensintesis informasi sensorik, termasuk informasi visuospasial, jadi masuk akal jika bagian itu menunjukkan neurodegenerasi sejak dini dalam penyakit ini," tambahnya.
Ahli saraf preventif di Amerika Serikat, Richard Isaacson, mengatakan pengalaman klinisnya mendukung hasil penelitian tersebut.
"Kami juga menemukan metrik tidur pada tidur yang lebih nyenyak, memprediksi fungsi kognitif, jadi antara itu ditambah volume otak, amat nyata," kata Isaacson.
Saat tidur nyenyak, otak bekerja membersihkan racun dan sel-sel mati sekaligus memulihkan tubuh. Sementara pada fase REM, otak memproses emosi, menyimpan ingatan, dan menyerap informasi baru.
Karena itu, tidur nyenyak dan tidur REM yang cukup dinilai penting untuk menjaga fungsi tubuh dan otak.
Orang dewasa umumnya membutuhkan tujuh hingga delapan jam tidur setiap hari. Sementara itu, remaja dan anak-anak membutuhkan waktu tidur lebih lama.
Para ahli menyebut orang dewasa idealnya menghabiskan sekitar 20 hingga 25 persen waktu tidur dalam fase tidur nyenyak dan REM. Seiring bertambah usia, durasi tidur dalam juga cenderung menurun.
"Tahap tidur yang lebih dalam berkurang seiring bertambahnya usia," kata Cho.
Tidur nyenyak biasanya terjadi pada awal waktu tidur, sedangkan fase REM lebih banyak muncul menjelang pagi. Karena itu, kebiasaan tidur larut malam dan bangun terlalu pagi dapat mengurangi durasi kedua fase penting tersebut.
Selain durasi, kualitas tidur tanpa gangguan juga berpengaruh terhadap kesehatan. Studi pada Februari 2023 bahkan menemukan kebiasaan tidur yang baik dapat menambah hampir lima tahun harapan hidup pria dan sekitar 2,5 tahun pada wanita.
Cara Mengetahui Kualitas Tidur
Spesialis penyakit dalam, Ray Rattu, mengatakan kualitas tidur dapat dipantau menggunakan fitur sleep tracker pada smartwatch.
Menurutnya, meski tidak seakurat pemeriksaan medis di rumah sakit, perangkat tersebut cukup membantu untuk memantau kondisi tubuh saat tidur.
"Saya bisa tahu seberapa tenang aktivitas metabolisme saya, seberapa rendah heart rate saya, karena ini berpengaruh pada seberapa aktif sih kita saat tidur," jelas dr Ray beberapa waktu lalu.
"Kalau heart rate kita turun rendah sampai di bawah 60, itu menunjukkan bahwa kita deep sleep dan betul-betul tubuh kita beristirahat. Sebaliknya kalau kita tidur heart rate di atas 80, jangan-jangan ada sesuatu. Apakah kita mengalami demam, apakah kita mengalami stres dalam pikiran," tambahnya.
Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sini.
(elk/sud)
