Ada pemandangan kontras di tengah gegap gempita puncak perayaan Hari Nelayan ke-66 di Palabuhanratu. Di saat warga tumpah ruah merayakan syukuran laut, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sukabumi, Sri Padmoko, justru menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Permintaan maaf ini bukan tanpa alasan. Padmoko membeberkan realitas pahit bahwa nelayan Sukabumi saat ini tengah 'berdarah-darah'. Mereka dihantam krisis ganda, mulai dari paceklik ikan hingga jatah Bahan Bakar Minyak (BBM) yang disunat.
Musim panen raya ikan tongkol yang biasanya dinikmati nelayan pesisir Sukabumi rupanya sudah menghilang sejak tahun lalu. Penderitaan itu kini diperparah dengan pembatasan kuota BBM yang membuat kapal-kapal nelayan kelimpungan untuk melaut.
"Ya, sekarang ini bulan Mei mendekati Juni yang biasanya bulan Juni, Juli, Mei itu mulai, Mei itu sudah memulai mulai panen raya. Tapi tahun kemarin Juni, Juli itu yang biasanya puncak panen raya, tongkol itu banyak sekali sampai harganya jatuh, tahun kemarin tidak terjadi. Dan tahun ini, tanda-tandanya di bulan Mei pun belum ada. Nah, tambah lagi sekarang dengan pembatasan BBM," ungkap Sri Padmoko, Kamis (21/5/2026).
Padmoko merinci, krisis BBM ini memukul rata seluruh lapisan nelayan. Mulai dari kapal besar yang menggunakan solar industri, hingga kapal kecil yang sangat bergantung pada solar bersubsidi.
"BBM, ya. Jadi kuota BBM untuk nelayan kapal di atas 30 GT yang menggunakan solar industri itu tersendat pengirimannya. Terus yang untuk subsidi, untuk nelayan berkurang kuotanya dari 1 bulan itu 320 KL sekarang tinggal 240 KL, dan sudah dipastikan berkurang juga. Sementara kalau kita mau merekomendasikan pembelian di SPBU umum akan mengganggu ketertiban karena antreannya akan menjadi panjang," bebernya.
Belum selesai urusan perut dan energi, para nelayan juga dipusingkan dengan tumpang tindih regulasi terkait benih bening lobster (BBL) antara aturan pusat dan daerah. Nelayan kerap dituding melawan pemerintah lantaran terjebak di tengah aturan yang saling berbenturan tersebut.
Sebagai pejabat daerah, Padmoko merasa terpukul melihat rentetan penderitaan warganya. Tepat di momen perayaan Hari Nelayan ini, ia tak kuasa menyembunyikan kesedihannya karena belum bisa menembus rumitnya tembok birokrasi dan regulasi demi membela nelayan.
"Dan ini saya tidak bisa berbuat banyak, selain menyuarakan ini, saya sedih dan saya sampaikan permohonan maaf kepada nelayan Kabupaten Sukabumi di Hari Nelayan ini. Terima kasih," pungkasnya lirih.
(sya/yum)