Ganjaran Manis Wartono Usai Tabah Melaut di Tengah Paceklik

Serba-serbi Warga

Ganjaran Manis Wartono Usai Tabah Melaut di Tengah Paceklik

Aldi Nur Fadilah - detikJabar
Rabu, 29 Apr 2026 08:00 WIB
Wartono saat memegang ikan yang paling besar dari hasil tangkapannya
Wartono saat memegang ikan yang paling besar dari hasil tangkapannya (Foto: Aldi Nur Fadilah/detikJabar)
Pangandaran -

Siang ini, langit di atas Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Cikidang tampak mendung. Aktivitas jual beli pun terlihat lengang. Namun, di sudut bangunan, Wartono (37), seorang nelayan Pantai Timur, tampak sumringah. Ikan hasil tangkapannya siap dilelang.

Penuh harap, Wartono menunggu giliran ikan tangkapannya dilelang. Meski jumlahnya tak banyak, seekor ikan GT (Giant Trevally) seberat 25 kg tersangkut di jaringnya hari ini.

Wartono telah melaut sejak dini hari. Meski tak banyak membawa pulang ikan, kebahagiaannya membuncah karena salah satu hasil tangkapannya memiliki nilai jual tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski cuaca tak menentu yang berdampak pada penurunan hasil tangkapan, Wartono tetap semangat melewati itu semua. Ia memilih bertahan memanfaatkan hasil laut ketimbang banting setir di tengah musim paceklik ini.

"Hari ini sepi karena faktor cuaca, yang diterima dari nelayan 50 (kg) sampai satu kwintal saya dari semua yang datang ke pelelangan. Gak semua dapat, ada yang kosong. Kebanyakan yang dapat ikan layur, bawal putih dan macam-macam juga ada," ucap Wartono saat berbincang dengan detikJabar, Selasa (28/4/2026).

ADVERTISEMENT

Menurutnya, cuaca buruk selama tiga bulan terakhir memang memicu masa paceklik ikan. "Cuman saya bertahan menyiasatinya dengan tangkapan laut alternatif, seperti udang, lobster dan ikan-ikan kecil. Asal masih bisa dijual," katanya.

Ia mengatakan musim paceklik tangkapan ikan baru-baru ini memang berlangsung cukup lama, yakni sekitar 3 hingga 5 bulan.

Dalam menghadapi musim paceklik, kata dia, hasil laut yang dimanfaatkan dan mudah ditangkap yaitu udang barat. "Itu aja solusinya jangan abis pikir, kita diberikan keberlimpahan luar biasa di laut, kalo yakin pasti Allah kasih jalan," ucapnya.

Ia mengaku, ketimbang mengeluh dan menyalahkan keadaan, ia lebih memilih mencari ikan dengan strategi berbeda yang disesuaikan dengan kondisi cuaca.

"Ada enggak ada tetep nyari ikan laut, paling kalau kosong banget minimal udang mah dapet, jika tetap usaha aja cari ke laut gak ambil sampingan lain, yakin aja dari hasil laut," ungkapnya.

Ia mengatakan, ikan layur saat ini sulit didapat. Namun jika ada, harganya cukup tinggi hingga menyentuh Rp 30 ribu per kg. "Lagi mahal. Kalau ikan sedikit harga mahal, kalau banyak harga murah," ucapnya.

Wartono menerangkan bahwa Pangandaran memiliki kekayaan laut yang melimpah, salah satunya jenis ikan tangkap yang bisa dimanfaatkan. "Ada ikan layur, bawal putih itu bisa ratusan hingga ribuan ton per tahun, alhamdulillah. Kalau lagi paceklik pun pasti ada. Apalagi jenis-jenis ikan laiinya seperti kakap, GT, bagad, kacangan, dan lainnya," ucap dia.

Belasan Tahun Jadi Nelayan

Ia bercerita, profesi nelayan sudah ia tekuni sejak muda dengan memulai ikut nelayan lain. "Dulu pertama melaut itu tahun 2010, saya ikut nelayan di sini, saya pelajari dan alhamdulillah 10 tahun nabung beli perlengkapan sendiri mandiri nyari ikan," katanya.

Saat ini, hasil jerih payah Wartono membuahkan hasil, mulai dari memiliki perahu kecil hingga perahu besar. "Alhamdulillah sekarang pendapatan pun Rp 50 juta per bulan mah dapat," ucapnya.

Ia mengaku hasil dari melaut itu digunakan untuk biaya sekolah anak dan kebutuhan keluarga. "Alhamdulillah sekolah anak saya tiga, semuanya mau meneruskan kuliah," katanya.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads