Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda 2026 tak hanya meninggalkan jejak budaya di sembilan kabupaten/kota di Jawa Barat. Rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak 2 hingga 16 Mei 2026 itu juga mencatat dampak ekonomi besar dengan nilai perputaran uang menembus lebih dari Rp 80 miliar dan tanpa menggunakan dana APBD.
Di tengah anggapan bahwa perhelatan berskala besar identik dengan pembiayaan pemerintah, Kirab Mahkota Binokasih justru mengandalkan pola gotong royong dan partisipasi langsung masyarakat.
Berdasarkan data penyelenggara, total perputaran ekonomi dari aktivitas utama kirab mencapai Rp 60,67 miliar. Angka itu berasal dari pergerakan ekonomi di area acara mulai dari konsumsi, transportasi, jasa pendukung, hingga aktivitas perdagangan lokal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika ditambah dengan belanja langsung selama penyelenggaraan yang mencapai Rp 24,3 miliar, total dampak ekonomi kegiatan ini diperkirakan melampaui Rp 80 miliar.
Perputaran ekonomi tersebut lahir dari tingginya partisipasi masyarakat. Sepanjang rangkaian acara, estimasi jumlah penonton mencapai 1.213.500 orang yang tersebar di titik awal, garis akhir, hingga masyarakat yang menyaksikan kirab di sepanjang rute.
Kota Bandung menjadi penyumbang terbesar dengan estimasi 281 ribu penonton dan nilai ekonomi sekitar Rp 14,05 miliar. Sumedang menyusul dengan 170 ribu pengunjung dan potensi ekonomi Rp 8,5 miliar, sementara Cianjur mencatat 165 ribu penonton dengan estimasi Rp 8,25 miliar.
Tasikmalaya mencatat sekitar 120 ribu pengunjung dengan perputaran Rp 6 miliar, Ciamis 106 ribu penonton senilai Rp 5,3 miliar, dan Cirebon sekitar 97.500 orang dengan nilai ekonomi Rp 4,87 miliar. Sementara itu, Karawang mencatat 125 ribu orang dengan dampak ekonomi Rp 3,75 miliar, Bogor sekitar Rp 6,25 miliar dari 70 ribu penonton, serta Garut sekitar Rp 3,25 miliar dari 65 ribu pengunjung.
Perhitungan tersebut mengacu pada estimasi belanja masyarakat untuk makanan, minuman, transportasi, akomodasi, produk UMKM hingga pengeluaran lain selama menghadiri acara.
Efek ekonomi tersebut juga terasa langsung ke masyarakat. Sedikitnya 2.305 pelaku UMKM terlibat selama kegiatan berlangsung. Tak hanya itu, sebanyak 3.920 tenaga kerja terserap untuk mendukung penyelenggaraan acara.
Di sisi budaya, sebanyak 10.983 pelaku seni, peserta kirab, dan talenta budaya ikut terlibat dengan partisipasi dari seluruh 27 kabupaten/kota di Jawa Barat.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebelumnya menilai dampak kegiatan tersebut tidak berhenti di sektor budaya, tetapi ikut menggerakkan aktivitas ekonomi daerah.
"Dari sisi ekonomi memberikan implikasi yang cukup kuat. Coba lihat hotel-hotel penuh, kunjungan ke Jawa Barat meningkat, dan beberapa daerah mulai tampak bersih," kata Dedi dalam keterangannya, Kamis (21/5/2026).
Menurut Dedi, Milangkala Tatar Sunda menjadi peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya di Jawa Barat dan perlu dijadikan momentum memperbaiki wajah daerah.
"Ke depan seluruh daerah harus jauh lebih baik. Kebersihan lingkungannya harus ditingkatkan, penataan lingkungannya harus dikuatkan, tata arsitekturnya harus segera dibangun, branding dikembangkan, serta tata estetika harus sangat kuat," ungkapnya.
Di tengah besarnya angka ekonomi yang tercipta, Pemprov Jabar memastikan seluruh kegiatan kirab tidak menggunakan dana APBD. Hal itu disampaikan Sekda Jabar Herman Suryatman. Ia menegaskan pembiayaan dilakukan melalui partisipasi langsung masyarakat dan para tokoh budaya.
"Ya memang tidak menggunakan APBD, ya dari partisipasi banyak pihak. Contoh di Sumedang ada tokoh (menyampaikan), kami ingin berpartisipasi sehingga kesenian, ada yang tanggung jawab sound system, ada yang tim musik, ada yang tim tarian. Jadi langsung bersangkutan," ujar Herman.
Menurut Herman, pemerintah hanya mengelola jalannya acara, sedangkan dukungan diberikan langsung kepada pihak pelaksana di lapangan.
"Jadi kami tidak mengumpulkan pendanaan. Kami hanya me-manage penyelenggaraannya, tapi dari sisi keuangannya, partisipan atau masyarakat yang berpartisipasi, tokoh atau siapapun, langsung dengan yang bersangkutan," ucapnya.
Ia mencontohkan pelaksanaan di Garut yang seluruh pembukaan acara seni silat ditanggung langsung oleh tokoh budaya setempat.
"Kemarin di Garut juga, untuk tim yang dari Garut itu kan ada seni silat sekaligus membuka acara ya. Ada tokoh menyampaikan, ini dari kami. Dan banyak entitas tokoh yang peduli terhadap kebudayaan, turut serta di dalam jadi tidak menggunakan APBD," katanya.
Herman menegaskan kontribusi yang diberikan bukan berupa uang tunai, melainkan dukungan nyata. "Dan tidak dalam bentuk uang, tapi tanggung jawab untuk menghadirkan tim kesenian, tim musik, sound system, dan lain sebagainya," ungkapnya.
Menurutnya, semangat gotong royong itulah yang membuat kirab bisa berjalan lintas daerah hingga mencapai puncak acara.
"Ini kan bergulir terus. Sementara yang kami saksikan langsung itu personal. Tokoh-tokoh. Saya kira kan banyak tokoh Sunda yang sudah mapan dan peduli dengan budaya, kan luar biasa," ujarnya.
Simak Video "Pemerintah dan BI Luncurkan GPIPS untuk Ketahanan Pangan Nasional"
[Gambas:Video 20detik]
(bba/mso)
