Orang-orang mukmin diajarkan tentang sebuah daging yang menjadi pusat kendali seluruh badan. Jika daging itu baik, maka baiklah seluruh badan. Sebaliknya, jika buruk maka buruk seluruh badan. Daging yang dimaksud itu adalah hati (qalb).
Hati sebagai pusat kendali ada yang bersifat lunak, ditandai dengan keterbukaan menerima nasihat dari orang lain, mudah tersentuh dengan fenomena ketidakadilan, penuh kasih-sayang, dan lain sebagainya. Namun, ada juga yang keras seperti batu.
Al-Quran menyindir kondisi hati manusia yang keras, dan bahkan keadaannya lebih keras dibandingkan batu. Adapun batu, sekalipun keras ada yang darinya muncul daripadanya sungai. Adapun batu, sekalipun keras ada yang terbelah lalu muncul darinya mata air. Adapun batu, sekalipun keras ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah SWT (Q.S. Al-Baqarah: 73).
Ciri-ciri saat kita terjangkit keras hati, bahkan lebih keras dari batu, dapat dilihat di antaranya kita malas beribadah, mengabaikan nasihat kebaikan, sulit menerima kebenaran, dan tidak peka terhadap penderitaan orang lain (kurang empati).
Namun, ada tips agar hati kita menjadi lunak dan tidak lagi sekeras batu. Sebab, kalau dibiarkan terus mengeras, hati yang keras akan membuat kita menjadi persona yang angkuh. Sementara keangkuhan, dicela oleh semua manusia.
4 Tips Melunakkan Hati
Tips membuat hati kita menjadi lunak ada banyak caranya. Di antaranya, hadits yang termaktub dalam 'Mukhtaarul Ahaadits' menyarankan agar kita punya hati yang lunak, condong kepada kebaikan, maka usaplah kepala anak yatim. Tentu saja bukan sekedar mengusap, melainkan maksudnya, jamin kehidupan mereka hingga mereka mandiri.
Namun, ada pula tips lain. Tips ini mengemuka dalam Kajian Tafsir Al-Maraghi di Pesantren Tafsir Al-Quran Husainiyah, di Kampung Pamoyanan, Desa Panenjoan, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung. Pimpinan Pesantren, K.H. Ingka Fakkuroqobah membagikan tips tersebut.
1. Memikirkan Ciptaan Allah SWT
Allah di dalam Al-Quran menyebutkan bahwa Dia tidak malu untuk membuat perumpamaan dengan penciptaan seekor nyamuk, atau yang lebih kecil dari itu. Memperhatikan ciptaan-ciptaan Allah, bahkan makhluk terkecil sekalipun, dapat membuat hati terbebas dari kerasnya.
Apalagi mengingat-ingat atau memikirkan hal besar seperti penciptaan tata surya dan benda-benda langit yang megah. Kita tentu akan merasa sangat kecil dibandingkan benda-benda itu. Maka, keangkuhan serta merta akan luruh.
Banyak para ilmuan yang pada akhirnya, dalam sebuah fokus kajian yang mengerucut, menemukan kebesaran-kebesaran Allah SWT dan kesesuaian antara pesan Al-Quran dengan bukti-bukti yang ditemukan secara bertahap.
Memikirkan ciptaan Allah SWT juga terceritakan dalam bentuk hadits. Sebuah riwayat Abdullah Ibnu Umar menyebutkan perintah untuk memikirkan secara seksama ciptaan-ciptaan Allah SWT.
2. Mengingat Nikmat Allah SWT
Jikalau nikmat Allah SWT itu dicoba untuk dihitung, niscaya tidak akan terhitung. Namun, percobaan menghitung nikmat Allah SWT ini dapat dilakukan sebagai jalan untuk melunakkan hati yang keras.
Mengingat-ingat nikmat Allah membuat hati menjadi terbuka akan pengetahuan yang hakikat tentang kebesaran, kemurahan, dan kasih-sayang Allah kepada semua ciptaannya, termasuk kepada kita selaku manusia.
Ketika kita merenungkan betapa banyak dan besarnya karunia Allah yang telah diterima, hati akan merasa tenang, bersyukur, dan lebih mudah menerima kebenaran. Hati yang lunak akan cenderung kepada kebaikan.
3. Ingat Kematian
Hati yang keras dengan tanda-tanda sebagaimana disebutkan di atas, akan perlu waktu untuk kembali lunak. Jika cara pertama dengan memikirkan ciptaan Allah SWT dan cara dengan dengan mengingat nikmat Allah tidak juga membuat hati yang keras melunak, maka cara ketiga menjadi pilihan.
Cara ketiga adalah mengingat kematian. Pastikan dalam diri tertanam keyakinan bahwa setiap yang bernafas berhak mendapatkan kematian. Suatu waktu, dalam waktu yang tidak bisa diperkirakan, kita akan mati.
Dengan mengingat mati, hati akan tergugah untuk melunak, menerima kebenaran dan mengorkestrasi seluruh badan untuk bergerak menuju penghambaan kepada Allah SWT. Ingat kematian bisa dilatih dengan ziarah kubur atau ikut serta mengantarkan jenazah ke pemakaman.
4. Ingat Siksa dan Bahagia
Orang mukmin harus percaya ada kehidupan setelah kematian. Hal-hal yang tidak tuntas di bumi, seperti persoalan keadilan dan utang-piutang, akan diselesaikan di akhirat. Begitu juga nilai atas kualitas penghambaan kita kepada Allah SWT akan diberikan di akhirat.
Di akhirat, mereka yang melanggar komitmen keimanan dan keislaman akan mendapat siksa. Sebaliknya, mereka yang semasa hidup di dunia takut kepada Allah SWT dan sekuat tenaga menahan diri dari hawa-nafsu, pantas mendapatkan bahagia di sorga.
Mengingat adanya siksa dan bahagia di kehidupan setelah dunia ini adalah cara yang terakhir untuk melunakkan hati yang keras, bahkan sekeras batu. Cara-cara ini boleh dicoba. Lebih sering mengingat Allah SWT melalui empat tips ini, mudah-mudahan hati menjadi lunak.
Simak Video "Video: Polisi Tangkap 6 Tersangka Baru Kasus Penjualan Bayi ke Singapura"
(dir/dir)