Tafsir Surah Al-Qadr Ayat 1-5 dan Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Tafsir Surah Al-Qadr Ayat 1-5 dan Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy - detikJateng
Selasa, 10 Mar 2026 12:03 WIB
Surat Al Alaq 1-5 Arab, Latin, dan Artinya Beserta Cara Mengamalkannya
Ilustrasi surah Al-Qadr dalam Al-Quran. (Foto: MdjihadHossen/Pixabay)
Solo -

Bulan Ramadan selalu menghadirkan momentum-momentum spiritual yang tidak ditemukan pada bulan lainnya. Di antara sekian banyak keistimewaannya, terdapat satu malam yang disebut sebagai malam kemuliaan, malam yang nilainya melampaui hitungan waktu biasa. Malam ini bukan sekadar bagian dari kalender ibadah, melainkan puncak perenungan tentang wahyu, petunjuk, dan hubungan antara langit dan bumi.

Surah Al-Qadr menjadi salah satu surah yang secara khusus mengabadikan kemuliaan malam tersebut. Melalui lima ayat yang singkat namun padat makna, Allah menegaskan peristiwa agung yang menjadi titik balik sejarah umat manusia. Karena itu, memahami tafsir ayat-ayatnya tidak hanya penting dari sisi pengetahuan, tetapi juga dari sisi penghayatan iman.

Selain kandungan tafsirnya, pembahasan tentang keutamaan Malam Lailatul Qadar juga menjadi bagian yang tak terpisahkan. Malam ini menyimpan nilai ibadah yang luar biasa, limpahan rahmat, serta peluang pengampunan yang luas. Dengan menelaah tafsir surah Al-Qadr ayat 1-5 dan keutamaannya, kita diajak untuk melihat Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebagai ruang pembaruan spiritual yang mendalam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekilas tentang Surah Al-Qadr Ayat 1-5

  1. اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ۝١
    innâ anzalnâhu fî lailatil-qadr
    "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada Lailatul Qadar."
  2. وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ۝٢
    wa mâ adrâka mâ lailatul-qadr
    "Tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu?"
  3. لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ۝٣
    lailatul-qadri khairum min alfi syahr
    "Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan."
  4. تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ۝٤
    tanazzalul-malâ'ikatu war-rûḫu fîhâ bi'idzni rabbihim, ming kulli amr
    "Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan."
  5. سَلٰمٌۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِࣖ ۝٥
    salâmun hiya ḫattâ mathla'il-fajr
    "Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar."

Surah Al-Qadr merupakan surah ke-97 dalam Al-Quran yang menjelaskan kemuliaan malam Lailatul Qadar dan peristiwa agung turunnya Al-Quran. Surah ini disebut juga Inna Anzalnāhu sesuai dengan kalimat pertamanya. Para ulama berbeda pendapat tentang statusnya, sebagian menyatakan Makkiyyah dan sebagian lain Madaniyyah, terutama jika dikaitkan dengan riwayat tentang mimbar Nabi di Madinah.

ADVERTISEMENT

Menurut penafsiran Jalaluddin Rakhmat dalam buku Madrasah Ruhaniah Berguru pada Ilahi di Bulan Suci, surah Al-Qadr turun sebagai hiburan bagi Nabi Muhammad SAW ketika beliau bermimpi melihat Bani Umayyah meloncat-loncat di atas mimbarnya seperti kera. Mimpi itu dimaknai sebagai simbol kekuasaan yang kelak mencemari kemurnian ajaran Islam demi kepentingan politik.

Kekuasaan tersebut disebut berlangsung "seribu bulan" atau sekitar 83 tahun. Maka, turunnya Al-Quran pada malam Lailatul Qadar ditegaskan lebih baik daripada seribu bulan kekuasaan tersebut. Pesan utamanya adalah bahwa kemurnian wahyu akan tetap terjaga meski kekuasaan silih berganti.

Tafsir Surah Al-Qadr Ayat 1-5

Ayat 1: Penegasan turunnya Al-Quran

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam Lailatul Qadar."

Menurut tafsir Kementerian Agama Republik Indonesia, ayat ini menegaskan bahwa Al-Quran pertama kali diturunkan pada malam yang mulia. Penurunan itu dipahami dalam dua tahap: secara sekaligus dari Lauh Mahfuz ke langit dunia (Baitul 'Izzah), lalu secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril selama lebih dari dua puluh dua tahun.

Beberapa ayat lain yang menjelaskan proses turunnya Al-Quran terdapat dalam surah ad-Dukhan, al-Baqarah, dan al-Anfal. Kesemuanya menegaskan bahwa Ramadan adalah bulan turunnya Al-Quran, dan Lailatul Qadar adalah malam istimewa di dalamnya.

Ayat 2: Keagungan yang tak terjangkau akal

"Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu?"

Ungkapan ini menunjukkan bahwa kemuliaan Lailatul Qadar melampaui pemahaman manusia biasa. Bahkan Nabi pun tidak mengetahui hakikatnya kecuali melalui wahyu. Ini menandakan bahwa malam tersebut memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi, di luar jangkauan ilmu manusia.

Ayat 3: Lebih baik dari seribu bulan

"Malam Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan."

Makna "seribu bulan" tidak semata angka literal, tetapi menunjukkan waktu yang sangat panjang. Ibadah pada malam itu memiliki nilai yang melampaui ibadah selama puluhan tahun. Dalam tafsir tahlili, malam ini disebut sebagai awal turunnya cahaya hidayah yang mengubah peradaban manusia dari kegelapan menuju petunjuk Ilahi.

Menurut riwayat yang dikutip dalam buku Raih Surga dengan Beberapa Menit karya Abu Thalhah Muh Yunus dan Abdu Sattar, disebutkan bahwa Allah menganugerahkan Lailatul Qadar sebagai keistimewaan bagi umat Nabi Muhammad SAW, agar mereka dapat meraih pahala yang setara dengan umat-umat terdahulu yang berumur panjang.

Ayat 4: Turunnya para malaikat dan Jibril

"Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan."

Ayat ini menjelaskan bahwa malam tersebut dipenuhi keberkahan karena turunnya para malaikat, termasuk Jibril, membawa rahmat dan ketetapan Allah untuk satu tahun ke depan. Turunnya malaikat menjadi simbol limpahan rahmat, pengampunan, dan kedekatan antara langit dan bumi.

Disebutkan pula dalam riwayat bahwa tanda malam itu di antaranya suasana yang tenang dan matahari terbit dengan cahaya lembut pada pagi harinya.

Ayat 5: Malam penuh kesejahteraan

"Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar."

Malam Lailatul Qadar dipenuhi keselamatan dan kedamaian sejak terbenam matahari hingga terbit fajar. Para malaikat membawa salam dan doa bagi orang-orang beriman yang beribadah. Malam ini menjadi momentum spiritual yang sangat dalam, saat seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh ketundukan dan harapan.

Doa yang relevan untuk memohon keberkahan malam ini antara lain:

"Ya Allah, berikan padaku di bulan ini anugerah dari berkatnya. Mudahkan jalanku menuju kebaikannya. Jangan tolak aku dari penerimaan amal baiknya. Wahai Pemberi petunjuk jalan yang terang."

Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Secara singkat, Lailatul Qadar adalah malam istimewa di bulan Ramadan yang menjadi waktu pertama kali diturunkannya Al-Quran. Ia disebut malam kemuliaan karena pada malam itu Allah melimpahkan rahmat, pengampunan, dan keberkahan dalam kadar yang sangat besar.

Dikutip dari buku Madrasah ruhaniah berguru pada Ilahi di bulan suci karya Jalaluddin Rakhmat, Raih Surga dengan Beberapa Menit karya Abu Thalhah Muh Yunus dan Abdu Sattar, dan laman Kementerian Agama RI, berikut adalah beberapa keutamaannya yang diantaranya:

1. Ibadahnya lebih baik dari seribu bulan

Ibadah yang dilakukan pada malam itu bernilai lebih tinggi daripada ibadah selama seribu bulan tanpa Lailatul Qadar. Ini menunjukkan betapa luasnya karunia Allah bagi hamba-Nya.

2. Pengampunan Dosa

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan tercantum dalam Shahih al-Bukhari serta Shahih Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang beribadah pada malam Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

3. Malam Penuh Ketetapan dan Hikmah

Pada malam itu ditetapkan berbagai urusan makhluk untuk satu tahun ke depan. Hal ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar bukan sekadar malam ibadah, tetapi juga malam takdir yang penuh hikmah.

4. Anugerah Khusus bagi Umat Nabi Muhammad

Disebutkan dalam penjelasan para ulama bahwa Lailatul Qadar merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW, agar mereka dapat meraih pahala besar meskipun usia mereka relatif lebih pendek dibanding umat terdahulu.

Dengan memahami tafsir dan keutamaannya, Lailatul Qadar bukan sekadar malam yang dinanti, tetapi momentum untuk memperbarui iman, memperbanyak ibadah, serta memperkuat komitmen pada Al-Quran sebagai pedoman hidup.

Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom



(sto/ams)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads